Romansa SMA

Romansa SMA
BAB IX : Perhatianmu..


__ADS_3

Seperti biasa, begitu pulang Wida langsung masuk ke kamarnya, tanpa menghiraukan omelan sang ibu. Baginya kamar adalah tempat ternyaman di rumahnya itu. Wida adalah sosok yang jarang bicara kalau di rumah. Berbeda dengan disekolah yang selalu ceria dan banyak temannya. Sambil rebahan ia mengingat kejadian yang di alaminya sepanjang hari ini. Dirinya masih ragu dengan sikap Prima yang telah menyatakan dirinya sebagai pacarnya. Apalagi di depan Sofi si anak kelas satu yang ngebet ingin jadi pacar Prima.


Terbayang-bayang serangkaian peristiwa betapa perhatiannya sikap Prima padanya. Saat menariknya agar berjalan lebih dekat dengannya.. Saat menggemgam tangannya saat menyebrang.. Dan bahkan sikap panik Prima yang lebay saat ia meninggalkan tempat duduknya untuk sekedar membeli es teh. Bibirnya tersenyum lebar menandakan betapa senangnya ia hari ini.


"Aaaaah.." desahnya pelan. Tiba-tiba kepala sang ibu nongol di pintu kamarnya, melenyapkan senyum di bibirnya. Dan hanya satu kata yang terucap dari mulut ibunya, "Makan!" lalu menghilang lagi dari balik pintu.


Tidak jauh beda dengan Wida, Prima pun langsung masuk kamar setibanya di rumah. Menghempaskan tubuhnya ditempat tidur dengan senyum mengembang di wajahnya. Bagaimana tidak, cewek yang sudah di dambakannya dari kelas satu kini sudah jadi pacarnya. Walaupun ia belum mendapat jawaban yang pasti dari Wida. Tapi baginya yang terpenting adalah ia telah mengikrarkan dirinya di depan orang lain bahwa Wida adalah pacarnya, sehingga tidak akan ada lagi cowok yang berani mendekati Wida, menurutnya..

__ADS_1


Karena jarak rumah yang jauh dari selolah, Wida harus berangkat pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari terbit. Tidak jarang ia harus merelakan sarapanya karena tergesa-gesa. Dengan semangat naik turun angkot hingga akhirnya tiba disekolah.


Saat akan masuk ke kelas seseorang menarik tangannya. Asti, teman sebangkunya.


"Di cari Prima," katanya.


"Mana aku tahu," jawab Asti dan mendahului Wida masuk ke dalam kelas. Namun Wida mengabaikan pesan Asti dan berlari kecil menyusul Asti ke tempat duduknya.

__ADS_1


Prima yang menunggu Wida di pinggir lapangan dengan kantong kresek ditangannya nampak kesal. Menduga-duga apakah Asti lupa sehingga tidak menyampaikan pesannya untuk Wida. Eko yang selalu setia menemaninya menyarankan agar Prima ke kelas Wida.


"Sudah.. samperin saja.." sarannya, "dikit lagi bel loh." Prima hanya terdiam. Namun tak lama ia menghentakkan kakinya kesal dan melangkah meninggalkan Eko menuju kelas Wida.


Yang ditunggu ternyata sedang asik ngobrol dengan beberapa teman perempuan dikelasnya. Prima yang terlihat berjalan santai menuju ke arah mereka, membuat para perempuan itu terdiam. Setelah mendekat ia menatap Wida sekilas dan meletakkan kresek yang di bawanya ke meja Wida. Lalu membalikkan badannya dan berlalu keluar kelas.


Setelah Prima keluar para cewek itu kembali ribut. Bertanya-tanya apakah gosip mengenai hubungan Wida dan Prima itu benar. Namun Wida yang tidak mau membahasnya hanya diam saja. Tangannya membuka kantong kresek yang di bawa Prima tadi. Ternyata isinya beberapa roti dan sekotak susu. Wida hanya mengambil satu roti dan susunya saja, lalu membagi sisanya pada teman-temannya. "Rupanya Prima ingin bertemu kamu karena mau ngasih ini.." celetuk Asti sambil senyum menggoda. Wida hanya terdiam..

__ADS_1


Prima pun kembali ke pinggir lapangan menemui Eko yang ternyata masih nenunggunya disana. Eko hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa. Prima yang ternyata tadi mau mengomeli Wida karena tak menemuinya, hanya bisa menghela napas kesal. Ia juga ikut terdiam. Dan tak lama bel pun menggema. Dalam sekejap halaman yang tadinya penuh dengan para murid langsung terlihat lengang.


__ADS_2