Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LXXIX : Pacaran?!


__ADS_3

"Kamu?!" kata ibu setengah berteriak saat melihat Prima yang berdiri dibelakang Wida. Pandangan mata ibu yang melihat tajam kearah Prima, sangat jelas kalau ia tidak menyukai Prima.


Soni yang melihat itu semua tersenyum kecil disudut bibirnya. Matanya menatap Wida dari ujung kepala hingga keujung kaki Wida. Seakan memeriksa kalau-kalau Prima melakukan sesuatu terhadapnya. Ia pun berdiri seakan ingin mendekati Wida.


Prima maju kedepan saat melihat gelagat Soni. Ditariknya Wida agar menjauh dari Soni. Dan kini ia berdiri diantara Soni dan Wida. Prima mengangguk hormat pada ibu Wida.


"Maaf Ibu, tadi Wida sedang bersama saya.." kata Prima sopan.


Ibu menghela napas. Ia tidak menghiraukan perkataan Prima. Ia malah menatap Wida yang tertunduk karena takut.


"Kamu!" katanya pada Wida. "Tidak sopan meninggalkan tamu seorang diri! Apa kamu tidak tahu itu?"


"Maaf.." jawab Wida, karena ia tidak tahu harus berkata apa. "Aku hanya keluar sebentar."

__ADS_1


"Sebentar bagaimana? Dua jam kamu bilang sebentar? Kalau Ibu tidak telepon mungkin sampai sore kau baru pulang!" marah Ibu pada Wida.


"Dan kamu!" Ibu beralih pada Prima. "Bukankah kamu yang membuat Wida membolos? Dan sekarang kamu membawa Wida keluar tanpa pamit. Sebaiknya kamu jangan dekati Wida lagi!"


Prima terdiam. Dikumpulkannya keberaniannya untuk mengungkapkan hubungannya dengan Wida. Namun belum sempat ia berbicara, Wida sudah angkat suara.


"Prima teman dekat aku, Bu. Ia baik padaku! Kenapa ia tidak boleh dekat denganku?!" bela Wida.


Ibu juga tak kalah terkejutnya dengan Prima. Tidak biasanya Wida melawan perkataannya. Rupanya Prima memang membawa pengaruh buruk bagi Wida, pikirnya.


"Kalau ingin berteman baik, kau harus memilih dengan benar. Mana yang baik untukmu mana yang tidak! Nak Soni lebih baik untuk kau jadikan teman baik, dari pada dia!" tunjuk ibu dengan kepalanya pada Prima.


Soni yang merasa mendapat dukungan dari ibu Wida tersenyum kecil sambil melirik Prima yang hanya terdiam.

__ADS_1


"Pokoknya, Ibu tidak suka jika kau bergaul dengannya!"


"Ibu..!" pekik Wida tertahan. Ia merasa ingin menangis karena kesalnya. Ingin menjawab perkataan ibunya, namun suaranya seakan tenggelam ditenggorokannya.


Prima melihat kearah Wida. Hatinya tak tega melihat kekasihnya yang hampir menangis karenanya. Reflek di raihnya tangan Wida untuk menenangkannya.


"Saya sungguh-sungguh minta maaf, Bu..." kata Prima akhinya, "saya yang salah. Tapi saya tidak bisa untuk tidak dekat dengan Wida. Saya menyukai Wida... dan kami telah pacaran..." Prima akhirnya berani mengungkapkan perasaannya.


Wida tertunduk mendengarnya. Antara senang dan takut saat ia mendengar perkataan Prima. Yah... ia senang Prima mengakui dengan berani perasaannya. Namun ia juga takut apakah ibunya akan menerima hubungannya dengan Prima atau tidak.


"Pacaran?" Ibu menegaskan perkataan Prima dengan mata menatap tajam Prima. "Kalian masih bau kencur sudah bicara masalah pacaran. Pikirkan dulu sekolah kalian! Belajar yang benar! Kau pikir orang tuamu membuang uang untuk pacaran! Dan kau Wida..!" ibu menoleh ke Wida, " masuk kekamarmu!"


Wida menatap ibunya dengan kesal. Ingin rasanya ia mengajak Prima pergi dari sana. Namun ia bukanlah tipe pembangkang. Dilepaskannya tangan Prima, dan dengan air mata yang sudah tak bisa ditahannya lagi, ia berlari menuju kamarnya...

__ADS_1


__ADS_2