Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LXXXV : Mata Yang Terluka


__ADS_3

Wida yang duduk termenung karena memikirkan Prima terkejut saat pintu kamarnya di ketuk. Buru-buru ia memasukkan ponselnya kedalam tas.


Pintu kamar terbuka. Dan ibu pun masuk. Wida yang masih kesal dengan ibunya hanya diam acuh tak acuh.


"Cepatlah keluar. Hari sudah semakin siang. Percuma juga kau tunggu Prima, ia tidak akan datang. Kau berangkat saja dengan nak Soni," kata ibu tanpa basa-basi dan langsung keluar.


Wida menghela napasnya, membuang sesak yang seakan nenumpuk di dalam dadanya. Akhirnya ia bangun dari duduknya. Baiklah, pikirnya, toh Prima juga menyuruhku berangkat bareng Soni.Meraih tasnya dengan kasar, lalu membanting pintu setelah keluar dari kamar.


Soni menunggunya diteras rumah. Ia tersenyum saat dilihatnya Wida keluar dari rumah yang di iringi ibunya dari belakang.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan ya, nak Soni,"kata Ibu begitu Soni mencium tangannya dan pamit. Sedangkan Wida yang tanpa menoleh sedikit pun pada Soni, sudah terlebih dahulu menuju motor yang terparkir di luar.


Wida duduk dibelakang Soni tanpa bicara sedikit pun. Rambutnya yang sebahu dipermainkan angin sehingga Wida berulangkali menyibaknya. Tadi, saat Soni ingin memakaikan helm ke kepalanya, ia menolaknya. Soni pun mengalah tanpa mengatakan apapun. Dan sekarang helm itu berakhir di pangkuannya.


Soni menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Ia tidak ingin Wida terjatuh, karena Wida tidak mau berpegangan. Duduknya pun agak jauh kebelakang, mungkin ia tidak ingin tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Soni. Namun Soni tidak mempermasalahkannya, yang penting baginya saat ini Wida ada di sisinya.


Tiba-tiba mata Soni melihat suatu pemandangan yang cukup mengejutkan dirinya. Tampak Prima membonceng Nina di vespa merahnya. Yang berpegangan erat, seperti sepasang kekasih. Sekarang ia tahu, kenapa Prima tidak datang menjemput Wida. Padahal, ia sempat takut kedahuluan Prima saat datang ke rumah Wida pagi tadi.


Wida yang saat itu memang sedang menoleh ke arah di mana motor Prima berada, sangat terkejut. Bagaimana tidak, orang yang seharusnya ada didepannya, kini malah membonceng perempuan lain. Yang tak lain adalah Nina, perempuan yang menyukai pacarnya itu. Wida merasa ada sesuatu yang mencubit hatinya, hingga ia merasa nyeri.

__ADS_1


Melalui kaca spion Soni tahu bahwa Wida telah melihatnya. Namun Prima dan Nina tampaknya masih belum menyadari, bahwa ada Soni dan Wida disebelah mereka.


Akhirnya dengan sengaja Soni menyalip Prima. Prima yang terkejut karena di salip motor lain, mau tidak mau ia melihat si penyalip. Betapa terkejutnya ia, karena ia melihat sosok Wida ada di boncengan penyalip itu yang tak lain adalah Soni.


Motor Soni melaju cepat mendahului motor Prima. Wida yang kecewa, tiba-tiba merasa lemas. Ia butuh sesuatu untuk bersandar. Saat dilihatnya punggung Soni yang kokoh, perlahan disandarkannya tubuhnya disana.


Soni merasakan tubuh Wida yang bersandar di punggungnya. Hangat... dan bergetar. Tiba-tiba dirasakannya sesuatu yang basah merembes di belakang bahunya. Sepertinya Wida menangis...


Soni memarkirkan motornya di parkiran umum depan sekolah. Wida yang begitu turun dari motor, langsung berlalu menuju sekolah. Soni membiarkannya, ia tahu, mungkin Wida malu jika ia tahu kalau dirinya menangis tadi.

__ADS_1


Tak lama Prima pun sampai. Ia parkir tidak terlalu jauh dari Soni. Nina turun dari motor dan tampak menunggu Prima. Prima membuka helmnya. Matanya tertuju pada Soni yang terlihat sedang sendiri merapikan atribut motornya. Pandangannya menatap Soni dengan nanar. Soni yang tahu bahwa Prima menatapnya, hanya mengacuhkannya saja. Ia pun berlalu meninggalkan parkiran.


__ADS_2