
Eko diam-diam melihat pesan masuk dari ponselnya yang bergetar, yang ternyata dari Asti. Asti memberitahu bahwa Wida sudah datang ke sekolah walau terlambat. Eko menyimpan kembali ponselnya. Karena takut terdengar oleh guru yang sedang mengajar ia berbisik pada Prima.
"Kau jangan cemas.. Kata Asti Wida masuk," bisiknya singkat.
Prima hanya melirik sekilas ke arah Eko tanpa menanggapi bisikkannya. Bibirnya mengatup rapat dengan pandangan menerawang jauh. Tidak dapat di pungkiri, hatinya yang tadi cemas menjadi lega setelah mendengar kabar kalau Wida ternyata masuk sekolah. Hanya saja, apakah ia bisa menghadapi Wida nanti, dengan hatinya yang masih terluka?
Jam istirahat pun tiba. Asti yang masih penasaran apakah masalah Wida sudah selesai atau belum, mencecar Wida dengan berbagai pertanyaan.
"Bagaimana? Apakah sudah ada keputusan dari kepsek?" tanyanya penasaran, "Berulang kali aku menghubungimu semalam, tapi kau tidak menjawab panggilanku."
Wida tersenyum, ia merasa beruntung karena memiliki sahabat yang selalu mencemaskannya itu.
"Maaf, aku ketiduran semalam," jawabnya, "masalahku sudah teratasi, hukumanku hanya berupa surat peringatan. Dan ini semua berkat Ryan."
"Apa? Ryan? kok bisa?" tanya Asti dengan alis berkerut.
Wida mengangguk.
"Iya, benar. Ternyata ayah Ryan adalah pemilik sekolah ini. Ia bilang, ia mengenal kepala sekolah kita dari kecil, dan sudah seperti om-nya. Ia selalu mengabulkan keinginannya. Dan ternyata benar, setelah ia bicara kemarin, Pak Anton meneleponku dan mengatakan bahwa hukumanku di batalkan. Hebatkan?" cerita Wida dengan antusias.
Asti yang mendengarnya hanya manggut-manggut.
"Sebenarnya, apa hukumanmu?"
"Aku harus belajar di rumah, entah sampai kapan. Tapi... bukankah itu sama saja di keluarkan? Karena Pak Anton saja tidak tahu sampai kapan hukuman itu berlaku.."
Eko tiba-tiba datang dan mendekati mereka, membuat percakapan keduanya jadi terhenti.
__ADS_1
"Kenapa kau datang sendiri?" tanya Asti setelah melihat kebelakang Eko seakan mencari seseorang. "Mana Prima?"
"Ia masih di kelas," jawab Eko sambil duduk di bangku yang ada di depan Asti. "Sepertinya ia sedang tidak bersemangat. Apa kalian ada masalah?" tanyanya sambil melihat ke arah Wida.
Wida terdiam sejenak. Apa ia masih marah karena percakapan terakhir mereka di telepon kemarin? Pikirnya.
"Kami hanya salah paham saja," jawabnya pelan. "Ia tidak suka aku meminta bantuan Ryan untuk menyelesaikan masalahku."
"Pantas saja.."
Wida langsung melihat ke arah Eko saat mendengar perkataannya.
"Kau tahu, ia tidak menyukai Ryan. Ia selalu menganggap Ryan adalah saingan terbesarnya. Wajar saja ia marah karena kau malah meminta bantuannya," kata Eko mencoba memberi pemahaman pada Wida.
Wida mendesah.
"Tapi itu berarti kau tidak mempercayainya," ujar Eko membela sahabatnya. "Bukankah Prima mengatakan kalau ia akan menyelesaikannya?"
Prima memang tampak tak bersemangat. Ia menolak ajakan Eko untuk ke kelas Wida, karena masih kecewa dengan sikap Wida padanya.
"Kau sajalah, aku sedang tidak ingin menemuinya," tolaknya.
"Kenapa? Apa kalian ada masalah?" tanya Eko padanya.
Prima hanya menggelengkan kepalanya, lalu diam seribu bahasa. Akhirnya Eko pun meninggalkannya tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Sepeninggalnya Eko, Prima hanya duduk terdiam dibangkunya. Perutnya yang lapar pun diabaikannya, karena ia merasa segan untuk kekantin. Ia tidak menyadari kalau Nina sedang memperhatikannya dari bangkunya.
__ADS_1
Tidak berselang lama, tiba-tiba Nina datang menghampirinya dan langsung duduk di samping Prima. Prima yang sedang melamun menyadari ada seseorang yang duduk disebelahnya, langsung menoleh. Dilihatnya Nina yang sedang tersenyum manis sambil menyodorkan somai yang di bawanya.
"Ini.." katanya sambil tersenyum, "aku tahu perutmu pasti minta di isi."
Prima melihat ke kantong somai yang ada di tangan Nina, lalu menatap Nina lagi, dan kemudian menggeleng.
"Tidak.. Terima kasih," katanya menolak dengan halus, lalu menoleh lagi ke arah luar jendela.
Nina mendesah pelan.
"Aku tahu, kau itu tidak tahan lapar. Dan kau jarang sarapan kalau ke sekolah. Ayolah... Terimalah. Nanti maag mu bisa kambuh," paksa Nina.
Prima tidak menanggapi perkataan Nina. Ia tetap diam sambil melihat ke depan kelas. Tiba-tiba ia melihat Wida muncul dari arah pintu kelasnya. Ia agak terkejut karena tidak menyangka Wida akan datang ke kelasnya. Mata mereka pun saling bertemu..
"Kau temuilah Prima," kata Asti membujuk Wida. "Jangan sampai hubungan kalian rusak hanya karena masalah ini."
Wida mendesah.
"Jujur saja... Aku tidak berani menghadapi Prima kalau ia sedang marah.."
"Prima itu sangat sensitif dan keras kepala, ia tidak akan mau mulai duluan kalau ia merasa benar," kata Eko ikut membujuk Wida. "Kau beralasan saja, ingin mengajak dia ke kantin. Ia pasti mau."
Dan akhirnya Wida menuruti saran kedua sahabatnya itu. Dengan di temani keduanya ia pergi ke kelas Prima. Sebelum masuk ke kelas Prima Wida berhenti sejenak. Di hembusnya nafasnya pelan, karena tiba-tiba saja jantungnya berdetak cepat. Setelah dirasa tenang akhirnya ia melangkah masuk kedalam kelas.
Wida tidak menyangka kalau Prima sedang melihat ke arah pintu kelas. Karena begitu ia masuk, mata mereka langsung bertemu. Prima pun seakan terkejut dengan kedatangannya. Namun yang lebih terkejut lagi adalah dirinya, saat melihat Nina yang sedang duduk begitu dekat di samping Prima...
#Maaf ya.. kalau episodenya agak tersendat... terus baca ya🙏🙏 dan ikuti kisah Prima dan Wida... jangan lupa kasih like sama vote nya... agar thor semangat menulis di setiap episode berikutnya.... Ditunggu komen dan koreksi serta masukannya.. terima kasih🙏🙏🙏#
__ADS_1