
Wida akhirnya duduk tanpa mempedulikan tiga sahabat yang sedang menatapnya. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Nina dan gengnya. Padahal hatinya baru saja tenang karena Prima yang tidak marah padanya atas kesalahan yang ia perbuat. Tapi ternyata masalah baru muncul lagi. Ia harus menghadapi Nina yang tampaknya tidak menyukai dirinya. Hhh.. desahnya.
Nina yang memang tidak menyukai kebersamaan Wida dan Prima, menggeser duduknya mendekati Wida.
"Sebenarnya... siapa sih yang kau pacari?" tanya Nina sambil menatap Wida tajam dan tanpa basa-basi begitu berada di samping Wida. "Soni atau Prima?"
Wida hanya terdiam. Matanya menatap lurus ke arah Prima yang sedang memesan somay.
"Tadi pagi aku lihat kau berboncengan dengan Soni... sekarang kau kekantin dengan Prima. Segitu mudahnya, ya... kau mempermainkan perasaan orang," kata Nina semakin pedas.
Wida yang masih diam tampaknya tidak terprovokasi dengan perkataan Nina. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan diri agar tidak terbawa emosi. Matanya masih memperhatikan Prima yang mulai mendekat dengan nampan berisi pesanan ditangannya.
Nina yang mulai kesal karena Wida seakan tidak mendengar perkataannya, menyentak tangan Wida dengan kasar.
"Hei! Kau dengar tidak sih, yang aku katakan?!" katanya penuh emosi tanpa menyadari Prima yang sudah datang mendekat. Wida yang terkejut dengan sentakan Nina, menatap kesal pada Nina sambil mengelus lengannya yang terasa sakit.
"Memangnya apa yang kau katakan?!" terdengar suara Prima yang cukup keras menganggetkan Nina. Sifa dan Anin yang duduk membelakangi arah datang Prima juga ikut terkejut. Serempak mereka melihat ke arah Prima yang sudah berdiri tegak, dengan wajah yang terlihat kesal. Mungkin ia melihat saat Nina menyentak lengan Wida. Dan Wida yang menyadari kedatangan Prima hanya menatapnya sekilas.
__ADS_1
Prima meletakkan nampan yang dibawanya ke meja dengan kasar. Matanya menatap tajam Nina yang tampak gelisah. Ia memang melihat saat Nina menyentak pacarnya itu. Dan baru pertama kali ini ia melihat Nina sekasar itu, pada Wida pula. Prima yang terlihat kesal menarik kursi, dan kemudian duduk menghadap Wida dan Nina yang duduk saling bersebelahan.
"Apa yang kau katakan pada Wida sampai kau menyentak tangannya?" Prima mengulangi pertanyaannya pada Nina.
Nina diam sejenak. Ia tidak menyangka kalau Prima akan melihat perbuatannya pada Wida. Nina menatap Prima, lalu menghela napas untuk mengumpulkan keberaniannya.
"Aku... aku hanya bertanya padanya..." kata Nina ragu sambil melirik Wida yang ada disebelah kanannya. "Siapaa...." perkataan Nina terpotong karena Wida yang tiba-tiba menyela.
"Kami tidak bicara apa-apa...!" selanya cepat.
Nina menoleh ke Wida yang telah memotong pembicaraannya.
"Aku mau ke kelas," katanya pada Prima. Dan tanpa melihat ke arah Nina ia pun berlalu pergi meninggalkan kantin dengan langkah cepat. Prima tidak mengejar Wida, ia malah menghempaskan tubuhnya kesandaran kursi. Ditatapnya Nina yang seakan lega dengan kepergian Wida.
"Sebenarnya apa sih yang kau lakukan pada Wida?" tanya Prima mulai melunak pada Nina. Ia tahu, Nina bukanlah orang yang suka bertindak kasar kalau tidak ada sesuatu. "Kau tidak pernah seperti ini... apalagi bersikap kasar. Kau tahu Wida pacarku, kan?"
Nina tersenyum kecut mendengar perkataan Prima.
__ADS_1
" Kau yakin, kalau Wida pacarmu?" tanya Nina tanpa menjawab pertanyaan Prima.
"Maksudmu?"
"Kau... atau Soni, pacarnya?" Keberanian Nina datang saat Prima melunak. "Pagi dengan Soni.. siang dengan kau. Apa kau tidak merasa kalau ia sedang mempermainkan perasaanmu?" kata Nina dengan antusias. Nina merasa, inilah saatnya ia membuat Prima menyadari bahwa ia telah salah memacari Wida.
Tapi Prima malah tersenyum, dan matanya menatap Nina lembut. Sepertinya ia mulai memahami mengapa Nina bersikap kasar pada Wida. Hhaah.. desahnya pelan.
"Aku tidak pernah salah dengan perasaanku," katanya, "aku menyukai Wida sejak pertama kali aku melihatnya di kelas satu. Dan ia pun menyadari itu, walau aku tidak pernah mengutarakannya."
Nina tampak sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Prima. Dari kelas satu? pikirnya. Mengapa ia tidak pernah tahu atau menyadarinya? Padahal ia merasa sangat mengenal Prima... apapun mengenai Prima ia sangat tahu. Hobby... makanan... warna... bahkan apa yang disukai atau yang tidak disukai Prima. Lalu... bagaimana mungkin ia tidak mengetahui wanita yang disukai Prima?
"Kau tak pernah cerita kalau kau menyukai Wida," tuntut Nina. Prima hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Maaf.." katanya kemudian, "aku hanya takut kau akan bersikap galak padanya, seperti yang kau lakukan bila ada yang menyukaiku..."
Nina memalingkan wajahnya kearah lorong kantin yang mulai sepi. Ia merasa terpukul dengan apa yang dikatakan Prima. Ia tidak menyangka bahwa Prima akan menyembunyikan hal yang begitu penting darinya. Andai ia tahu, tak mungkin Wida akan menjadi pacar Prima.
__ADS_1
"Tapi..." katanya pelan tanpa menoleh kearah Prima, "bagaimana perasaanmu padaku? Apa kau pernah tahu bagaimana perasaanku?"