
Prima segera merapikan bukunya dan berlari keluar kelas begitu mendengar bell pulang sekolah berbunyi, tanpa menghiraukan Eko yang mengomel karena kakinya yang terinjak olehnya.
"Hati-hati dong bro!" seru Eko sambil meringis kesal.
Sesampainya di depan kelas Wida ia berhenti sejenak, membiarkan teman-teman Wida yang berhamburan keluar kelas. Setelah lengang ia pun segera masuk. Belum sampai ke tempat duduk Wida, ia berpapasan dengan Asti yang berjalan sendiri.
"Loh.. Mana Wida?" tanya Prima bingung. Matanya melihat ke tempat duduk Wida yang sudah kosong, lalu kembali menatap Asti yang juga terlihat bingung.
"Lah... bukannya Wida ijin pulang? Aku pikir kau tahu..." jawab Asti tak kalah bingung.
"Ijin pulang? Kapan? Aku tidak tahu..." wajah Prima berubah cemas.
"Ada apa?" tanya Eko yang tiba-tiba sudah berada di belakang Prima.
"Wida... aku kira dia ijin pulang cepat. Soalnya, saat aku kembali sehabis istirahat tadi, ia sudah tidak ada di kelas. Aku pikir Prima tahu, makanya aku diam saja," jawab Asti dengan perasaan tak enak.
Prima menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia tampak cemas dan bingung tidak tahu harus berbuat apa.
"Telepon saja," saran Eko, "bukankah ia membawa ponsel?"
Prima tersadar. Ya, telepon! Kenapa ia tidak kepikiran kesana? Segera di carinya ponselnya di dalam tas. Setelah ditemukannya ia langsung menghubungi Wida. Tersambung. Tapi Wida tidak menjawab panggilannya.
Berkali-kali Prima menghubungi ponsel Wida, dan hasilnya selalu sama. Kenapa? Apa ia marah padaku? Prima bertanya-tanya dalam hati. Ditatapnya Eko dan Asti bergantian. Dengan kesal Prima mematikan ponselnya dan menyimpannya dalam sakunya.
"Kenapa? Ia tidak menjawab?" tanya Asti yang juga ikut cemas.
__ADS_1
Prima menggelengkan kepalanya.
"Aku akan kerumahnya. Mungkin saja ia pulang," Prima lalu berjalan keluar kelas meninggalkan Eko dan Asti yang saling berpandangan dengan cemas.
Ternyata Ryan membawa Wida kerumahnya. Wida sedikit terkejut, sampai ia tidak mau turun dari taxi.
"Untuk apa kita kesini?" tanyanya sambil berpegang pada sandaran bangku taxi menandakan ia tidak mau turun.
"Setidaknya kesini lebih baik daripada tidak punya tujuan," kata Ryan yang sudah turun dari taxi, membujuk Wida agar mau turun juga.
"Ya... tapi jangan kesini. Kita bisa ketempat lain..." kata Wida yang tidak bergeming dari tempat duduknya.
"Kemana? Kepenginapan?" sindir Ryan.
Wida memberengut mendengarnya.
Ryan mendesah pelan. Dilihatnya sopir taxi yang sudah tidak sabaran menunggu Wida untuk segera turun.
"Setidaknya orang tidak akan berpikiran negatif. Lagi pula bukan hanya aku seorang saja yang ada disini. Ada beberapa asisten rumah tangga dan penjaga di rumah ini. Ayolah... taxinya ingin mencari penumpang lagi.." kata Ryan sedikit memaksa.
Wida menoleh ke arah sopir yang sedang menatapnya sambil tersenyum kecil melalui kaca spion tengah mobil. Ia langsung merasa tidak enak, dan mau tidak mau ia beranjak turun dari taxi.
"Maaf..." katanya pada sopir, yang langsung berlalu begitu Ryan menutup pintu taxinya.
Wida terpaku berdiri di depan rumah Ryan. Rumah yang begitu besar bahkan lebih besar dari rumah Prima. Di sebelah kirinya, ia melihat beberapa buah mobil yang berderet rapi dan beberapa sepeda motor. Ia tidak menyangka bahwa Ryan ternyata anak orang kaya, bila dilihat dari penampilannya yang cuek.
__ADS_1
"Kenapa? Kakak tidak ingin masuk?" tanya Ryan karena di lihatnya Wida hanya diam dan berdiri terpaku.
Wida menoleh ke arah Ryan yang berdiri di depannya.
"Aku ingin pulang. Orang mungkin tidak akan berpikiran negatif. Tapi Prima... ia akan salah paham, jika ia melihat aku disini. Aku tidak mau ia salah paham," kata Wida lalu berbalik badan akan meninggalkan Ryan.
Ryan yang melihatnya langsung mengejar dan menghalangi langkah Wida.
"Kenapa Kakak masih saja membela dia? Jelas-jelas ia yang telah membuat Kakak terlibat masalah!" kata Ryan sedikit kesal.
Wida yang berhenti melangkah mendesah pelan.
"Prima tidak membuat masalah. Itu hanya salah paham."
"Kalau hanya salah paham, kenapa Kakak lari dari sekolah seorang diri dengan mata yang sembab? Aku tahu Kakak habis menangis tadi. Dan itu pasti karena masalah gambar itu!" Ryan tampak makin kesal karena sikap Wida yang masih saja membela Prima.
Wida menatap tajam Ryan.
"Aku lari dari sekolah karena aku malu dan menghindari pertanyaan-pertanyaan konyol mereka. Dan aku tidak mau kalau Prima terkena masalah karena aku! Dan... kenapa kau ikut campur dengan masalah ini?!"
"Karena aku peduli sama Kakak! Dan aku tidak ingin Kakak menerima akibat dari masalah ini karena kak Prima," kata Ryan penuh emosi.
"Prima tidak akan membiarkan aku menanggung akibatnya sendiri. Kamu tidak usah khawatir," kata Wida dengan tenang meyakinkan Ryan.
Ryan terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa lagi agar Wida mau menerima uluran tangannya dalam menghadapi masalahnya. Ditatapnya Wida dengan pandangan sendu. Ia tersadar, begitu besarnya rasa suka Wida terhadap Prima.
__ADS_1
"Baiklah.. aku tahu kak Prima adalah orang yang Kakak suka. Tapi.. anggaplah aku sekarang ini sebagai seorang adik... yang akan membantu Kakak, bila Kakak menghadapi masalah. Aku rasa kak Prima tidak akan salah paham bila seperti ini. Jadi... ijinkan aku membantu Kakak kali ini.."