Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CXXI : Apakah Tidak Apa-Apa...


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, pikiran Wida melayang kemana-mana. Ia memikirkan orang yang mengancamnya ditelepon kemarin. Sampai-sampai ia tidak fokus saat Prima mengajaknya bicara. Hingga ia hanya menjawab 'iya' atau 'tidak'.


Saat diparkiran pun Wida tidak menunggu Prima. Ia mengatakan kalau ia harus ke toilet. Padahal itu hanya alasannya saja agar ia tidak terlihat bersama Prima. Ia tidak mau orang yang mengancamnya akan melihatnya.


Sesampainya di kelas ia di sambut oleh Asti yang ternyata sudah tiba lebih dulu.


"Tumben," katanya pada Asti.


"Aku lupa mengerjakan tugas pak Bram. Kau sudah selesai?" tanya Asti sambil menulis


Tanpa menjawab Wida langsung mengeluarkan bukunya dan memberikannya pada Asti.


Asti tersenyum.


"Kau sangat pengertian," katanya sambil meraih buku yang ada di tangan Wida.


Wida terdiam dan hanya memperhatikan Asti yang sedang menulis. Ia sebenarnya ingin menceritakan masalah penelpon kemarin pada Asti. Namun dirinya ragu, takut Asti akan terseret masalah.


"As..." katanya ragu, "ada yang mau aku bicarakan.."


Asti menoleh kearah Wida sebentar kemudian menulis lagi.


"Apa?" tanyanya.


"Tapi kau jangan kaget, ya..." kata Wida mendekatkan wajahnya ke bahu Nina.


"Ada yang mengancamku..." bisik Wida ke telinga Asti.


"Apaa!?" spontan Asti teriak, sambil menoleh kearah Wida, hingga Wida terlonjak karena kaget.

__ADS_1


Wida yang terkejut reflek memukul bahu Asti dengan kesal.


"Kenapa teriak?!" katanya gemas.


Asti membekap mulutnya sendiri dan membungkuk malu, karena beberapa anak yang ada dikelas menoleh kearahnya.


"Maaf.." katanya yang sekarang ikut berbisik, "aku keceplosan. Kau serius? Siapa yang mengancammu? Kapan?" Asti bertanya dengan bertubi-tubi.


Wida menghela napas. Matanya mendelik kesal dengan sikap Asti yang gampang panik.


"Kau ini.. kenapa kau yang panik, sih."


Wida melihat kesekitar, takut ada yang mendengar.


"Kemarin... ada yang menelponku. Suara perempuan. Katanya aku harus menjauhi Prima. Kalau tidak... ia akan melakukan sesuatu padaku."


Asti menatap Wida serius.


Wida menggeleng.


"Suaranya... kali kau kenal suaranya... mungkinkah Sifa?" tebak Asti.


"Aku rasa bukan.. Nina juga bukan. Aku hapal suara mereka, juga gaya bicaranya."


"Lalu siapa?" Asti garuk-garuk kepala sambil mengira-ngira siapa kiranya penelpon itu.


"Kau sudah memberitahu Prima?"


Wida menggeleng.

__ADS_1


"Aku malah menghindarinya tadi. Aku takut jika orang yang mengancamku akan melihat aku bersama Prima."


" Kau ini... apa kau mau menghindari Prima lagi?" tanya Asti mengingatkan Wida bahwa mereka baru saja dekat kembali.


"Bukan begitu... aku hanya takut orang itu melukai Prima," kata Wida galau.


Asti menatap Wida serius.


"Dia kan perempuan. Memangnya apa yang bisa dilakukannya dengan Prima? Apalagi kan dirimu yang di ancamnya. Mengapa ia mau melukai Prima?"


Wida terdiam. Benar juga kata Asti, batinnya, si penelpon kan perempuan, masa ia mau memukul Prima? Tapi...


Wida menatap Asti dengan pandangan cemas.


"Tapi... bagaimana kalau ia menyuruh seseorang untuk memukul Prima? Itu... kaya yang di sinetron..."


Gantian Asti yang memukul bahu Wida.


"Kau ini... kebanyakan nemenin ibumu sih, nonton sinetron. Kau kan bilang yang menelponmu itu perempuan... yah pastilah dia suka sama Prima! Masa ia mau melukai Prima? Yang ada, kau yang dilukai olehnya."


Wida langsung menegang. Ia... kenapa ia tidak berpikiran kesitu? Yah pastilah si penelpon akan menyakiti dirinya, bukan Prima.


"Hei!" Asti menyadarkan Wida yang terdiam.


Baru Asti akan mengatakan sesuatu, terdengar bel pun berbunyi.


"Hadweh... ga bisa di ajak kompromi nih bel," gerutu Asti yang masih ingin membahas masalah Wida.


Wida yang terdiam masih memikirkan masalahnya. Benar juga kata Asti, masa ia harus menjauhi Prima lagi, padahal kan mereka baru saja mulai berhubungan kembali. Ia juga sebenarnya tak ingin bila harus berpisah lagi dengan Prima. Tapi.. apakah benar tidak apa-apa bila Prima tahu?

__ADS_1


__ADS_2