
Wida yang terkejut dengan ciuman yang tiba-tiba itu tidak dapat bergerak sedikit pun. Saat kedua tangan Prima meraih wajahnya, ia tahu apa yang akan dilakukan Prima padanya. Tapi anehnya dirinya tidak ingin menghindarinya. Ia malah seakan menunggu apa yang akan dilakukan Prima padanya. Dan saat Prima mendaratkan ciuman ke bibirnya, Wida hanya memejamkan matanya..
Bibir Wida yang lembut membuat Prima tidak ingin melepaskan ciumannya. Cukup lama ia larut dalam hasrat mudanya. Sampai dirasanya tangan Wida yang mendorong dadanya pelan.
Akhirnya Prima melepaskan ciumannya, ditatapnya mata Wida lembut. Tangannya yang masih memegang wajah Wida seakan tak ingin lepas dari sana.
Wida membuka matanya saat Prima melepas ciumannya. Diaturnya nafasnya yang sempat memburu tadi. Debar jantungnya pun tak kalah cepatnya dengan desahan nafasnya. Namun sepertinya itu tidak akan berakhir begitu saja, karena kedua tangan Prima masih memegang wajahnya dengan wajah yang masih begitu dekat dengannya. Tampak olehnya tatapan mata Prima yang masih penuh dengan hasrat. Dan saat wajah Prima mendekat seakan ingin menciumnya kembali, ia menahannya.
"Bu.. Bukankah kau lapar?" kata Wida gugup mencoba menghentikan gerakkan Prima.
Namun Prima hanya tersenyum. Dan tanpa menghiraukan perkataan Wida, ia kembali menyerang Wida dengan ciumannya. Dan kali ini lebih bergairah, hingga membuat Wida jatuh bersandar disandaran kursi. Dorongan tangan Wida pun tak bisa menghalangi hasratnya yang menggebu. Dan akhirnya mereka tenggelam dalam kerinduan yang panjang..
Diruang tamu Pak Gunawan dan istrinya masih berbincang-bincang. Mereka sepertinya sedang membahas masalah Prima.
"Apa kau yakin Prima mau kuliah di Jogja?" tanya istrinya dengan nada ragu.
Ayah Prima menganggukkan kepalanya.
"Ia sudah berjanji," jawabnya santai. "Prima anak yang berkomitmen. Ia selalu memegang perkataannya."
"Baguslah. Bukan aku tidak menyukai Wida. Tapi aku lebih setuju kalau Nina menjadi kekasih Prima. Bila Prima di Jogja, setidaknya ia bisa berpisah dengan Wida," kata ibu Prima yakin.
Ayah Prima menatap istrinya.
"Kau jangan terlalu memaksakan keinginan Prima. Mereka masih muda, hati mereka masih berubah-ubah. Berpacaran belum tentu menikah. Biarkan saja mereka."
Mbok Uti datang keruang tamu dengan membawa minuman untuk Tuan dan Nyonyanya itu.
"Apa sudah mengantarkan makanan untuk Prima dan Wida?" tanya ibu Prima pada mbok Uti.
"Sudah, Bu," jawab mbok Uti sopan.
__ADS_1
"Mereka sedang apa, saat Mbok keatas?" selidik sang Nyonya.
Kening mbok Uti tampak berkerut, seakan mengingat-ingat apa yang dilihatnya.
"Waktu si Mbok datang, sepertinya mereka sedang berbicara, Bu. Sepertinya serius."
"Sepertinya mereka sedang membicarakan masalah kuliah di Jogja," tebak ibu Prima. "Yah... semoga saja tidak menggoyahkan janji Prima..."
Suasana diantara Prima dan Wida masih memanas. Prima seakan melampiaskan semua kerinduannya yang ia pendam, karena masalah yang selalu saja ada didalam hubungan mereka.
Wida yang tidak bisa menolak hasrat Prima, kini seakan terbuai oleh permainan Prima yang menggebu. Matanya tampak terpejam. Bibirnya yang lembut tampak pasrah, menerima setiap sentuhan bibir Prima. Namun saat bibir itu mulai turun kelehernya, dan tangan Prima menyentuh sesuatu yang kenyal miliknya, mata Wida seketika terbuka. Ia seakan tersadar, ada suatu batasan yang tidak boleh disentuh.
"Prima!" pekiknya tertahan, "Ja... Jangan!"
Wida menahan tangan Prima yang sedang bergerilya didadanya itu. Prima yang kesadarannya sempat hilang karena nafsunya yang menggebu, tersentak. Bibirnya yang sedang menyusuri leher Wida pun terhenti. Ditatapnya mata Wida yang tampak memohon itu.
Namun Prima sepertinya sudah kepalang tanggung. Ia sudah dikuasai oleh hasratnya yang tidak bisa dihentikannya itu. Tanpa mempedulikan larangan Wida ia kembali menyusuri leher Wida. Dan tangannya yang sudah menyentuh sesuatu yang kenyal itu kini mulai meremas.
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk.
"Kaak!" terdengar suara milik Dewi berteriak di balik pintu. "Boleh aku masuk?"
Prima yang terkejut tampak tersadar. Aksinya pun terhenti seketika. Dengan reflek ia menoleh ke arah pintu.
Wida yang juga terkejut ikut panik. Saat ia menyadari Prima yang sedang lengah, dengan sekuat tenaga di dorongnya Prima agar menjauh dari tubuhnya.
Prima yang terdorong tersentak kebelakang dan langsung terjengkang di sofa. Lalu dengan cepat ia berdiri, mencoba menenangkan dirinya. Dilihatnya Wida yang sedang merapikan bajunya yang kusut akibat perbuatannya. Ada sedikit sesal dari tatapan matanya.
Wida yang begitu terlepas dari Prima langsung terduduk. Dirapikannya baju dan rambutnya dengan cepat. Ia menoleh kearah Prima yang sedang berdiri. Ditatapnya Prima dengan pandangan kesal. Untung saja Dewi datang dan mengetuk pintu kamar, pikirnya, kalau tidak... Entah apa yang terjadi..
"Aku masuk ya, Kak!" seru Dewi yang sepertinya sudah tidak sabar menunggu jawaban Prima.
__ADS_1
Belum sempat Prima menjawab, pintu kamar pun sudah terbuka. Wajah Dewi yang mungil tersembul dari balik pintu. Begitu dilihatnya Kakaknya yang sedang berdiri, dengan ceria ia masuk dan melangkahkan kakinya mendekati Prima dan Wida dengan senyum di wajahnya.
"Hayooo... Sedang apaa..?" tanyanya seakan menggoda kedua insan yang ada dihadapannya itu. "Sedang berciuman lagi ya, tadi? Kok tidak menjawab panggilanku?"
Prima menatap adiknya itu dengan mata mendelik pura-pura kesal.
"Sudah tahu, kok nanya.." kata Prima tanpa mempedulikan Wida yang langsung menoleh kearahnya dengan tatapan kesalnya.
"Ada apa kau kemari?" tanyanya sambil duduk.
Dewi menarik kursi belajar Prima lalu duduk di hadapan Prima dan Wida.
"Tidak ada apa-apa," jawab Dewi polos, "aku hanya ingin tahu, apa Kakak benar-benar akan kuliah ke Jogja?"
"Kenapa? Kau senang ya, kalau Kakak di Jogja?" Prima balik bertanya.
"Bukan begitu... Bagaimana dengan Kak Wida,????? kalau Kakak ke Jogja..." kata Dewi sambil melirik kearah Wida.
Wida yang sedari tadi terdiam karena gugup hampir kepergok Dewi, kembali gugup saat menjawab perkataan Dewi.
"Kakak tidak masalah... Itu.. Itu terserah Kak Prima," kata Wida terbata.
Prima menoleh dengan senyum jail di bibirnya.
"Benar tidak masalah?" tanyanya menggoda. "Bukankah tadi kau tampak kesal saat tahu aku akan ke Jogja?"
Wida mendelik kesal pada Prima. Apa-apaan Prima ini, pikirnya kesal, kenapa masalah mereka berdua harus di bicarakan didepan Dewi?
"Siapa yang kesal?" dalih Wida dengan nada tertahan.
"Baguslah kalau kau tidak kesal. Berarti kau setuju kalau aku ke Jogja..."
__ADS_1