Romansa SMA

Romansa SMA
BAB XCIV : Kita Mulai Dari Awal...


__ADS_3

Wida yang kabur menghindari Prima, bersembunyi di warung kecil, saat dilihatnya Prima lewat menuju warung bakso. Setelah Prima menjauh, dengan bergegas ia berjalan dan menyetop angkot yang lewat di depannya.


Di dalam angkot pun ia mematikan ponselnya agar Prima tidak bisa menghubunginya. Yah... keputusannya sudah bulat, untuk sementara ini ia dan Prima jaga jarak dulu. Terlalu banyak yang tersakiti karena hubungannya dengan Prima. Ibu... Soni... dan.. Nina. Ia ingin mengatasi semuanya dulu, agar hubungannya dengan Prima berjalan lancar.


Soni memarkirkan motornya di depan rumah Wida. Walau Wida telah menolak di antar pulang kemarin, namun ini adalah satu-satunya cara agar ia bisa mendekati Wida. Yah, Wida tidak akan bisa menolak untuk berangkat dengannya, karena ibu Wida yang mendukung dirinya.


Ibu yang mendengar salam Soni, bergegas ke lkamar Wida, untuk memanggilnya. Namun Ibu terkejut, karena Wida tidak ada di kamarnya. Ibu menduga Wida mungkin di kamar mandi. Tapi saat dilihatnya tas sekolah Wida yang biasa ada di atas meja sudah tidak ada, Ibu akhirnya tahu bahwa Wida sudah berangkat.


"Maaf nak Soni, sepertinya Wida sudah berangkat," kata ibu begitu ditemuinya Soni di teras.


Soni terkejut. Sudah berangkat? Batinnya, tidak mungkin dengan Prima kan? Karena ia tahu Wida sepertinya menghindari Prima kemarin.

__ADS_1


"Dengan siapa Wida berangkat, Bu? Apakah... Prima datang menjemputnya?" tanya Soni ragu saat menyebut nama Prima.


"Entahlah... tapi sepertinya tidak. Karena Ibu tidak mendengar suara motor tadi," jawab Ibu. "Wida tidak pamit sama Ibu saat berangkat."


Soni pun akhirnya pamit, dengan pikiran yang masih menebak-nebak apakah Prima datang menjemput Wida atau tidak. Tapi yang jelas sekarang ia sadar, bahwa bukan hanya Prima saja yang dihindari Wida, tapi juga dirinya.


Kemarin ia sempat mendengar percakapan Eko dan Prima. Walau samar, ia mendengar bahwa Wida sepertinya meminta putus pada Prima. Dan ia pun juga mendengar dari beberapa murid lainnya. Yah, walau sekolanya besar, berita sekecil apa pun takkan luput dari para pencari gosip sekolah. Dengan kesal ditancapnya gas menuju sekolah.


Menurutnya, inilah cara yang terbaik untuk menghindari Soni sekaligus menjaga perasaan Prima. Ia tidak mau Prima beranggapan bahwa pisah sementara ini karena ia memilih Soni. Jalan menuju ke sekolah masih sepi. Wida dengan santai berjalan, tanpa sadar seseorang mengikutinya dari belakang.


Ternyata Prima juga melakukan hal yang sama. Saat semalam Nina menghubunginya untuk minta dijemput besok pagi, Prima mengatakan akan ke sekolah naik angkot, dengan alasan vespanya lagi ngadat. Huft...

__ADS_1


Rupanya Prima menghubungi Wida semalam. Beberapa kali ia mencobanya, namun hasilnya nihil, karena ponsel Wida sedang tidak aktip. Akhirnya ia menghubungi Asti, menanyakan mengapa ponsel Wida tidak aktip.


"Kau sabar saja dulu. Mungkin ia masih kesal padamu, karena sikapmu yang plin plan antara dirinya dan Nina," saran Asti padanya.


Prima yang dibilang plin plan rupanya tidak terima.


"Bukannya dia yang plin plan? Buktinya ia tidak menolak saat Soni berusaha mendekatinya," protes Prima.


"Enak saja kau bicara!" Asti membela Wida. "Kau pikir mudah baginya untuk menghindari Soni? Asal kau tahu, ia akan berangkat pagi-pagi sekali besok dengan angkot, untuk menghindari Soni demi menjaga perasaanmu!"


"Benarkah?" Prima yang sedang tiduran di tempat tidurnya langsung terduduk, begitu mendengar Wida akan berangkat kesekolah dengan angkot besok.

__ADS_1


Dan disinilah ia berada pagi-pagi buta, di tempat biasa Wida turun dari angkot. Dengan sabar ditunggunya Wida. Saat dilihatnya Wida yang sedang turun dari angkot, ia pun bersembunyi. Dan ketika Wida lewat di depannya, ia membiarkannya saja. Setelah agak jauh Wida berjalan, ia akhirnya mengikuti Wida dari belakang dengan diam-diam...


__ADS_2