
Prima mengantar Wida ke kelasnya.
"Kau... jangan terlalu memikirkan masalah ini. Mungkin saja, ini hanya orang yang tidak suka padamu atau hubungan kita. Aku minta, kau jangan sampai terpengaruh dan menjauhi aku lagi, ya?" kata Prima sambil mengacak rambut Wida dengan sayang.
Wida mengangguk sambil merapikan rambutnya yang di acak Prima.
"Iya..." jawab Wida pelan.
"Baiklah.. aku kembali ke kelas dulu. Ingat... tunggu aku, jangan pulang sendiri," Prima mengingatkan Wida agar tidak kabur darinya. Dan ia pun beranjak pergi meninggalkan Wida dan kembali ke kelasnya.
Sebelum kembali ke kelas, Prima kembali ke kantin. Dibelinya dua buah roti dan satu teh kemasan kotak di warung kantin, yang dibungkusnya dengan kantong plastik berwarna hitam.
Saat masuk ke dalam kelas, ia langsung melihat ke arah bangku Nina. Dilihatnya Nina sedang makan sesuatu dengan di temani dua sahabatnya. Prima lalu menuju ke bangkunya, ia langsung duduk dan memasukkan kantong yang dibawanya kedalam laci mejanya.
Prima menghela napas lega. Syukurlah... batinya, begitu dilihatnya Nina yang akhirnya makan sesuatu.
Eko yang tadi sedang berbicara dengan Rudi di belakang, datang menghampiri Prima dan duduk disebelahnya.
"Apa yang kau bawa barusan?" tanyanya dengan tangannya yang akan masuk kelaci meja Prima.
Prima langsung memukul pelan tangan Eko untuk mencegahnya agar tidak masuk ke lacinnya.
"Kepo amat, sih!" katanya.
__ADS_1
Eko meringis sambil mengusap-usap tangannya yang di pukul Prima.
"Pakai rahasia-rahasiaan segala, memangnya apa, sih?"
Prima tidak menjawab pertanyaan Eko. Disandarkannya tubuhnya yang dirasanya terlalu tegang sepagian ini.
"Kenapa?" tanya Eko begitu dilihatnya wajah Prima yang seperti sedang memikirkan sesuatu. "Apa masalah Wida mengganggumu?"
Prima menggeleng.
"Untuk sementara ini, aku hanya menganggapnya itu hanya telepon iseng saja. Mungkin ada yang tidak suka pada Wida yang ternyata tidak putus denganku. Kau tahukan beberapa hari yang lalu kami di anggap bubaran."
Eko mengangguk.
Sifa membawa batagor dan es teh untuk Nina.
"Aku tahu kau pasti takkan menyusul kami," katanya sambil menyerahkan batagor ke Nina.
Nina menyambutnya dengan senyuman di bibirnya.
"Makasih ya... kalian memang tiada duanya.."
"Tadi... aku sengaja ingin menguping pembicaraan mereka," kata Sifa dengan nada pelan, menceritakan yang ia alami di kantin. "Tapi sepertinya mereka tahu aku menguping, karena tak lama kami duduk, mereka langsung bubar. Jadinya... aku tidak dapat info apa-apa.."
__ADS_1
Nina hanya mendengarkan perkataan Sifa sambil memakan batagornya. Sepertinya ia tidak terlalu peduli pada apa yang di katakan Sifa.
Anin merasa bingung dengan sikap Nina yang diam.
"Apa benar kau tidak apa-apa kalau mereka dekat lagi?" kata Anin sambil mendekatkan tubuhnya ke Nina.
Nina menatap Anin.
"Memangnya aku harus apa? Teriak pada Wida agar dia tidak mendekati Prima?" nada suara Nina terdengar sedikit kesal.
"Bukan... setidaknya lakukan sesuatu. Bukankah kau harus pertahankan apa yang sudah jadi milikmu?"
Nina menatap Anin. Diantara mereka Aninlah yang paling tulalit jika di ajak bicara. Tapi walau begitu ia amat setia kawan. Dan kali ini, tumben ia berkata sedikit nyambung.
"Aku sudah mentok," jawab Nina. "Semua sudah aku lakukan. Bahkan mendekati ibunya Prima juga aku sudah lakukan. Tapi... kau lihat sendiri hasilnya.."
"Aku bisa membantumu kalau kau mau," Anin menawarkan diri.
Sifa tertawa mendengar perkataan Anin.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan? Baru berada di dekat Wida saja tubuhmu sudah gemetar, mana bisa kau melakukan sesuatu," ledek Sifa.
"Aku..." perkataan Anin terpotong oleh suara deringan bel yang panjang, tanda istirahat telah usai...
__ADS_1