
Prima tidak dapat lagi membendung hasratnya untuk tidak mencium bibir Wida. Dipandangnya wajah Wida sesaat. Lalu dengan sedikit ragu diraihnya wajah mungil itu agar ia bisa menggapai bibir yang ada disana. Dan dengan diamnya Wida menambah keberanian Prima.
Dikecupnya sekali bibir itu, lalu di lepasnya untuk melihat reaksi Wida. Namun sepertinya Wida menanti kecupan berikutnya. Dan Prima mengambil kesempatan itu, sebelum Wida berubah pikiran. Dan kembali Prima mendaratkan bibirnya dengan lembut ke bibir Wida..
Wida tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya. Saat Prima mencakup wajahnya dan mengecupnya, entah mengapa ia tidak bisa menolaknya. Dan saat Prima melepas dan menatapnya sesaat, ingin ia menarik wajahnya, karena ia tahu Prima tidak mungkin hanya sekali mengecupnya.
Tapi apa ini? Tubuh dan pikirannya mulai tak sinkron lagi. Pikirannya mengajak tubuhnya untuk berpaling dari Prima. Namun tubuhnya tak bergeming sedikit pun! Tubuhnya dengan tak tahu malu seakan menantikan apa yang akan di lakukan Prima. Dan saat Prima mendekatkan wajahnya kembali, ia malah memejamkan matanya. Menanti dan menikmati saat Prima mulai menjarah bibirnya.
Lama keduanya hanyut dalam sentuhan yang saling berbalas itu. Bahkan Prima memegang wajah Wida dengan kedua tangannya agar Wida tidak dapat menghindar darinya.
Dan saat mereka membutuhkan udara, barulah mereka saling melepaskan diri. Saling menjauh secara perlahan, dengan perasaan yang hanya mereka sendiri yang tahu.
Wida yang telah bisa mengendalikan tubuhnya, menarik wajahnya dari pegangan Prima. Tampak wajahnya memerah karena malu. Dilipatnya bibirnya untuk menghentikan getaran yang masih terasa, akibat ciuman Prima yang penuh gairah tadi.
Prima yang memang telah lama tidak mendapatkan candunya, merasa bahagia sore itu. Digenggamnya kembali tangan Wida dengan lembut seakan benar-benar tak ingin lepas dari Wida. Napas yang tadi menderu karena hasrat dan gairah, kini perlahan mulai teratur.
Ditatapnya mata Wida lembut.
"Aku... sungguh-sungguh sayang padamu," katanya, lalu menarik tangan Wida yang sedang digenggamnya, kemudian di kecupnya lembut.
__ADS_1
Wida yang tersipu, hanya tersenyum manis mendengar perkataan Prima.
"Apakah... kita sebaiknya di ruang tamu saja?" katanya pelan untuk menghilangkan kecanggungannya.
"Kenapa?" Prima mengerutkan alisnya. "Aku suka disini. Aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi dengan melihat isi kamarmu."
"Disini sempit," alasan Wida sambil berdiri dan menarik tangan Prima supaya bangun dari duduknya.
Prima tersenyum. Ia mengerti kecanggungan Wida karena hanya berdua saja dengannya dikamar yang sempit ini.
Prima pun berdiri.
"Baiklah," katanya menuruti keinginan Wida. Ia pun kemudian berjalan dengan menuntun Wida keluar dari kamar.
Begitu sampai di ruang tamu Prima langsung duduk di sofa. Mengambil teko lalu menuang isinya kedalam dua gelas yang telah tersedia. Di ambilnya sebuah gelas, lalu diserahkannya ke Wida.
"Minumlah," katanya pada Wida yang duduk disampingnya.
"Terima kasih," Wida menerima gelas pemberian Prima dan kemudian meminumnya.
__ADS_1
Wida meletakkan gelasnya kembali di meja.
"Lalu.. bagaimana dengan pesan yang aku dapat itu?" tanya Wida membuka percakapan. "Apakah kita biarkan saja?"
"Entahlah..." kata Prima setelah meminum minumannya. "Apa kau sudah memberitahu Asti?"
Wida menggeleng.
"Tadi aku menelponnya, tapi ia sedang jalan dengan ibunya, jadi aku tidak jadi memberitahunya. Takut mengganggu."
"Bagaimana kalau kita menelepon nomor itu?" tanya Prima yang tiba-tiba saja mendapat ide.
Wida yang terlalu takut menggeleng.
"Jangan ah..." katanya.
Namun Prima yang memang penasaran dengan si pengirim pesan dan penelepon misterius itu mengambil ponsel Wida yang ada di tangan Wida.
Dicarinya nomor itu diriwayat panggilan, setelah ditemukan, tanpa menunggu lama Prima pun melakukan panggilan. Tersambung! Sekali.. dua kali..
__ADS_1
Wida menunggunya dengan tegang. Walau ia pernah mendengar suara si penelepon, tetap saja ia merasa tegang. Mengira-ngira apakah penelepon itu akan menjawabnya...
#Maaf..agak lama.. kedepannya akan lebih banyak updatenya##🙏🙏