
Sesampainya di depan kelas Wida, Prima langsung masuk kedalamnya. Matanya mencari-cari sosok yang tak ingin ia lepas itu. Tapi tentu saja Wida tidak ada disana. Hatinya kini benar-benar cemas. Apa Wida sudah pulang?
Tidak menunggu lama Prima langsung melesat ke parkiran. Seketika bibirnya tersenyum, matanya terlihat lega. Karena diilihatnya Wida yang sedang berdiri disana sedang menunggunya.
"Aku kira kau sudah pulang," katanya lega begitu sampai disisi Wida. Ia menoleh ke arah Eko dan Asti yang juga ada di sana.
"Lama amat, sih," celetuk Eko sambil bangun menuju kearah motornya.
Prima tak menjawab perkataan Eko. Lalu ia pun berjalan menuju ke motornya juga.
"Kalian akan kemana?" kata Prima pada Eko.
"Memangnya kalian mau kemana?" Eko balik bertanya.
"Entahlah... aku agak stres hari ini. Setidaknya aku ingin ketempat yang tenang."
"Kita tanya para gadis saja, apa mereka mau keluar juga," kata Eko.
Wida dan Asti menunggu di luar. Saat Prima dan Eko datang mereka langsung naik keboncengan pasangan mereka masing-masing.
"Apa kau ingin ke suatu tempat?" tanya Prima pada Wida.
Wida yang memang sedang suntuk karena masalah yang dihadapinya segera mengiyakan.
__ADS_1
"Kemana?"
"Terserah..." jawab Wida sambil melihat ke arah Asti. "Kau ikut kan, As?"
Asti menggeleng.
"Kalian saja, kami juga punya acara sendiri."
Eko dan Asti telah lebih dulu meninggalkan parkiran. Prima yang belum menghidupkan motornya, masih memikirkan tempat mana yang dikiranya cocok untuk membuang suntuknya.
"Kita nonton saja, ya?" tanyanya pada Wida setelah memutuskan bahwa bioskop adalah tempat yang tenang untuk mereka berdua.
"Iya..." Wida kembali mengiyakan. Dan tanpa bertanya lagi, Prima melajukan motornya meninggalkan parkiran.
"Lihat.. ia masih mencemaskanmu, kan?" kata Sifa dengan sinis. "Berarti ia tidak bisa melepasmu sepenuhnya. Mungkin benar saran ibu Prima, kau harus menunggu sampai Prima jenuh dengan Wida."
"Ia cemas padaku, seperti ia cemas pada Dewi. Itu katanya," ujar Nina lirih.
"Setidaknya ia mencemaskanmu," timpal Anin. "Asal kau tahu..kau itu lebih baik daripada Wida. Wida itu tidak sepolos wajahnya. Ia lebih berani dari yang kita duga."
"Apa maksudmu berkata seperti?" tanya Sifa heran. Kok bisa-bisanya Anin berkata seperti itu? Pikirnya.
"Kau jangan bicara sembarangan," kata Nina, "nanti kalau ada yang mendengar... aku lagi yang disalahkan."
__ADS_1
Anin hanya tersenyum mendengar perkataan Nina. Entah apa yang dia sembunyikan dari kedua sahabatnya itu.
Suasana dalam mall lumayan ramai walau bukan hari libur. Tanpa melihat-lihat tempat lain, Prima dan Wida langsung menuju ke gedung bioskop yang ada di dalam mall.
Prima asal saja memilih film yang akan ia tonton bersama Wida. Wida yang memang baru beberapa kali ke bioskop, hanya mengikuti langkah Prima. Dari memilih film, membeli tiket, sampai cemilan semua Prima yang melakukannya.
Saat masuk ke dalam bioskop, Wida merasa canggung, karena tidak banyak orang yang menonton hari itu. Mereka pun bebas mau duduk dimana saja saking sepinya.
Seperti biasa Prima memilih untuk duduk ditengah. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi bioskop dengan lepas. Seakan ia baru bisa duduk saat itu dengan santainya.
Hhh... desahnya, melepas pikirannya yang terasa suntuk baginya, membuat Wida yang juga telah duduk disebelah kirinya sampai menoleh karenanya.
Prima menerawang. Ia tidak menyangka kalau perjalanan cintanya dengan Wida akan serumit ini. Dari awal sampai sekarang. Bagai film yang berputar di pikirannya, terbayang satu-satu rangkaian kejadian yang ia alami dengan Wida.
Di awali saat ia berkelahi dengan Ryan karena cemburunya, lalu dengan Soni salah satu teman baiknya, bahkan dengan Nina sahabat dari kecilnya yang tidak pernah ia sakiti. Dan kini ada ancaman entah dari siapa yang meneror Wida. Semua berputar dipikirannya satu-persatu.
Prima memejamkan matanya. Batinnya bertanya-tanya, apakah semua orang mengalami apa yang ia alami dalam cinta pertamanya?
Tiba-tiba ia merasakan ada kehangatan di punggung tangannya. Perlahan di buka matanya dan ia menunduk melihat sumber kehangatan itu. Tampak tangan Wida sedang menggenggam tangannya.
Prima menoleh ke arah Wida, yang sesaat ia lupakan kehadirannya bahwa ia sedang berada disisinya. Betapa terkejutnya ia saat melihat mata Wida yang mengkristal oleh genangan air mata. Tampak ada perasaan bersalah di tatapan Wida.
Prima pun menegakkan tubuhnya. Hatinya tercekat melihat butiran kristal yang kini jatuh di pipi Wida. Prima merasa bersalah. Ditariknya tangan Wida yang menggenggam tangannya agar ia bisa meraih tubuh Wida. Di peluknya tubuh mungil itu. Dirasakannya butiran hangat itu merembes ke dadanya. Dan Wida pun menangis di sana...
__ADS_1