
Dari jauh Prima melihat motor Soni yang terparkir didepan rumah Wida. Pikirannya yang memang sudah galau semakin galau karenanya. Ia menghentikan motornya di belakang motor Soni.
Apa-apaan ini? Batinnya. Sebenarnya mau apa sih, si Soni ini? Pagi tadi ia sudah menyerobotnya menjemput Wida. Pulang sekolah juga hampir didahului olehnya. Dan sekarang... saat ia menahan diri untuk tidak kerumah Wida, Soni datang tanpa ia tahu. Pantas saja dirinya tadi tiba-tiba ingin ke rumah Wida. Rupanya ini yang jadi firasatnya.
Prima hanya berdiam diri diatas sepeda motornya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Pikirannya yang memang sudah penuh dengan masalah sejak pagi tadi, malah membuatnya bimbang. Bimbang pada sikap Wida.
Terlintas di pikirannya perkataan Nina saat di kantin tadi.
"Kau yakin, kalau Wida pacarmu?"
"Kau... atau Soni, pacarnya?"
Berulang-ulang perkataan Nina menggema di pikirannya.
Bila dipikir-pikir perkataan Nina ada benarnya. Yah... Sebenarnya... siapa pacar Wida.. dirinya atau Soni. Apakah ia terlalu lembek terhadap Soni? Atau terlalu percaya pada Wida? Ia tahu Soni juga menyukai Wida belakangan ini. Selalu mencoba mendekati Wida dibelakangnya. Tapi ia juga tahu, kalau hati Wida hanya padanya. Tapi kalau terus seperti ini... bukan tidak mungkin kalau Wida akan goyah.
Diambilnya ponsel dari dalam tas. Ditimang-timangnya ponselnya sambil berpikir apa yang akan di lakukannya... kirim pesan atau telepon langsung? Setelah lama berpikir, akhirnya diputuskannya untuk mengirimi Wida pesan.
__ADS_1
Wida yang terkejut mendapat pesan dari Prima bangun dan hendak keluar. Namun saat ia melewati Soni, tiba-tiba Soni menarik tangannya untuk menghentikannya.
"Mau kemana?" tanya Soni.
Wida tidak menjawab dan berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Soni.
Wida terkejut, ternyata pegangan Soni sangat kuat!
"Lepaskan tanganku!" pinta Wida.
"Tidak!" kata Soni tetap memegang tangan Wida. "Kau ingin menemui Prima, kan?"
"Urusanku! Karena aku menyukai dirimu!"
"Tapi aku menyukai Prima!" Wida menyentak tangan Soni. Dan pegangan Soni pun terlepas.
"Ada apa?" tiba-tiba Ibu muncul dengan suaranya yang terdengar menggelegar di telinga Wida. Wida yang terkejut karena kedatangan Ibunya yang tiba-tiba, merasa gugup.
__ADS_1
"A.. aku mau keluar sebentar... " Wida gelagapan menjawab pertanyaan Ibu.
"Mau ngapain?" selidik Ibu.
"Sebentar saja, Bu..." bujuk Wida.
"Jangan lama-lama," Ibu mengalah, "makanan sudah siap. Kasian Soni kalau menunggu lama."
"Ibu duluan saja makan sama Soni. Tadi waktu pulang aku sudah makan di kantin." Dan Wida pun langsung keluar meninggalkan Ibunya dengan mulut setengah terbuka, karena sepertinya masih ingin berkata sesuatu.
Akhirnya Ibu hanya menghela napas saja melihat kelakuan putrinya.
"Sudahlah.." katanya pada Soni. "Kita makan saja duluan. Ayo, nak Soni," ajak Ibu. Soni yang terlihat jelas kecewa akan sikap Wida, mengikuti Ibu Wida menuju ruang makan.
Wida berlari kecil menghampiri Prima yang ada di depan rumahnya. Ia mencoba tersenyum agar Prima tak marah saat sudah didepan motor Prima. Namun senyum yang dicobanya itu seketika menghilang, karena dilihatnya wajah Prima yang seperti menahan amarah.
Mereka saling berhadapan, Prima diatas motornya dan Wida berdiri di depannya. Keduanya hanya terdiam. Mata Prima menatap tajam Wida tanpa kedip seakan mau menerkamnya. Wida yang ditatap seperti menjadi gelisah sendiri. Semarah itukah Prima padanya?
__ADS_1
Wida memberanikan diri menghampiri Prima agar lebih dekat lagi.
"Kau... marah?" tanyanya pelan.