Romansa SMA

Romansa SMA
CC : Akankah Ia Goyah...?


__ADS_3

Nina yang sedang rebahan di kamarnya terlihat gelisah. Berkali-kali ia memandangi ponselnya, sepertinya ia sedang menunggu kabar dari Sifa sahabatnya. Ia sebenarnya sudah tidak sabar ingin menghubunginya lebih dulu, namun Sifa melarangnya, karena takut waktunya kurang tepat. Yah, siapa tahu Sifa sedang berada didekat Soni dan Wida. Bagaimana kalau ia ketahuan, karena dering ponselnya yang berbunyi akibat dari panggilannya? Nina menggelengkan kepalanya. Tidak! Ia harus bersabar, ia tidak ingin membuat sahabatnya dalam kesulitan.


Matanya yang bulat kini beralih kelangit-langit kamarnya yang putih. Terbayang suasana di meja makan tadi, saat makan siang bersama. Terlihat olehnya wajah Prima yang tampak muram waktu itu. Jelas sekali ia pasti sedang memikirkan Wida kekasihnya, yang hari ini sedang kencan dengan temannya sendiri. Prima sepertinya sedang menunggu ponselnya berdering, karena saat makan, matanya tidak terlepas dari ponselnya.


"Kenapa tidak kau telepon saja Wida? Sepertinya kau mencemaskan dia? Aku lihat kau terus memandangi ponselmu saat makan tadi," katanya pada Prima saat mereka berpapasan di depan pintu kamar. Dan seperti biasa, Prima hanya mengacuhkannya, dan bergegas masuk ke kamarnya.


Mata Nina menyipit. Kau lihat saja nanti, batinnya, apakah kau masih mencemaskannya saat kau lihat foto-foto mesra kekasih tersayangmu itu dengan sainganmu. Seringai sinis menghiasi wajah Nina. Sepertinya ia merasa yakin, bahwa hubungan Prima dan Wida tidak akan dapat terselamatkan kali ini..


***


Setelah makan siang, Prima masuk ke kamarnya. Ia tak mempedulikan ocehan Nina saat ia menghadangnya di depan pintu kamarnya. Di lemparnya ponselnya ke atas tempat tidurnya. Lalu ia pun menghempaskan tubuhnya, tak jauh dari ponselnya. Posisi tubuhnya yang terlentang membuat matanya menatap langit-langit kamarnya yang putih dengan tatapan hampa. Dan tak lama ******* panjang pun keluar dari mulutnya. Seakan membuang sesak yang sedari tadi ia tahan.


Prima kembali teringat dengan perkataan Nina saat menghadangnya tadi.


'Kenapa tidak kau telepon saja Wida?' Yah... kenapa ia tidak telepon saja? Tidak! Batinnya tegas. Ia memang mencemaskannya, tetapi ia ingin Wida yang terlebih dahulu menghubunginya. Ia tidak ingin dibilang pacar yang pencemburuan, yang selalu menghubunginya, padahal tahu dan sudah memberi ijin agar kekasihnya itu bisa bepergian dengan 'teman'nya. 'Teman'? Bagaimana ia bisa menganggap rivalnya itu 'teman'? Setelah beberapa kali ia berusaha menikungnya, dan menyukai kekasihnya itu?


Hhaaah..! Prima mendesah keras. Ditatapnya ponsel yang ada disebelahnya. Tapi mengapa Wida tidak meneleponnya lagi hari ini? Walau hanya untuk sekedar basa-basi? Apakah ia terlalu sibuk bersenang-senang dengan Soni? Walau dengan alasan melihat kampus, tapi bukankah itu sama saja dengan kencan? Ada sedikit rasa penyesalan dihatinya mengapa ia mengijinkan Wida pergi bersama Soni tadi. Sepertinya hatinya tidak mengijinkannya, walau mulutnya sudah terlanjur mengiyakan.


Prima meraih ponselnya, kontak Wida sudah ditampilkannya dilayar ponsel, dan jari telunjuknya pun sudah siap untuk menyentuh tanda panggilan pada ponselnya. Namun tak sampai dua detik jari itu kembali terkepal. Keraguan sepertinya masih menyelimuti hatinya. Apakah tidak apa-apa kalau aku menghubunginya? Batinnya ragu. Prima kembali melempar ponselnya dengan kesal. Kini matanya terpejam, ia mencoba mengosongkan pikirannya yang tidak-tidak tentang apa yang sedang di lakukan Wida dan Soni yang jauh disana...


***


Wida dan Soni sedang makan di restoran cepat saji. Mereka duduk berhadapan dengan hidangan yang telah tersedia. Soni yang sedang senang hatinya karena bisa berjalan-jalan dengan Wida hari itu, memakan makanannya dengan santai. Sedangkan Wida, ia terlihat sibuk dengan ponselnya. Soni yang melihatnya bisa menduga kalau gadis di depannya itu pasti sedang mengecek apakah Prima menghubunginya atau tidak.


"Apakah tidak sebaiknya kau makan dulu?" kata Soni menegur Wida. "Aku tidak mau ibumu menyalahkan aku, kalau nanti perutmu sakit karena telat makan..."


Wida yang di tegur langsung melihat ke arah Soni.


"Oh.. iya.. maaf," katanya pelan. Lalu dengan segera di letakkannya ponselnya di atas meja. Wida pun akhirnya menuruti perkataan Soni, dan mulai makan, walau terlihat jelas ada yang mengganggu pikirannya dari wajahnya. Yah... Prima yang tidak menghubunginya sejak terakhir mereka bicara tadi pagi, membuat galau hati Wida. Pikirannya sibuk menerka-nerka penyebab Prima tidak menghubunginya. Apakah ia marah? Apakah ia sebenarnya tidak suka kalau ia jalan dengan Soni? Bukankah tadi ia mengijinkannya? Batin Wida bertanya-tanya.

__ADS_1


"Wida...! Wida...!" panggil Soni mengejutkan Wida. Ternyata Soni telah memanggilnya berulang kali, namun Wida yang sedang memikirkan Prima, tidak mendengarnya.


"Iya...? Apa...?" jawab Wida gugup.


"Kenapa kau bengong begitu?" tanya Soni, walaupun ia sudah tahu kenapa Wida tidak fokus pada makanannya.


Wida yang di tanya hanya tersenyum malu. Dan tanpa menjawab ia melanjutkan makannya.


"Apakah kau memikirkan Prima?" tebak Soni yang membuat Wida kembali menghentikan makannya dan menatapnya dalam.


"Apa dia tahu, kalau kau sedang bersamaku?" cecar Soni.


Wida mendesah pelan. Dan akhirnya ia menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan Soni.


"Sudah ku duga," kata Soni yang juga menghentikan makannya. "Tidak mungkin kau berani keluar tanpa sepengetahuannya..."


"Dan ia mengijinkannya begitu saja?" tanya Soni sinis. "Yah, pastilah ia mengijinkannya. Bukankah ia melakukan hal yang sama dengan Nina?"


Wida tampak terperangah mendengar perkataan Soni. Ia tampak tidak menyukai pendapat Soni tentang Prima.


"Apa maksudmu? Mengapa kau berkata seperti itu?" suara Wida terdengar kesal. "Memangnya apa yang ia lakukan bersama Nina? Mereka hanya kuliah bersama. Tidak lebih."


Soni menatap dalam Wida yang sedang menatapnya tajam. Ia tidak menyangka kalau Wida senaif itu bila menyangkut Prima. Sebegitu dalamnyakah rasa cinta Wida pada Prima? Soni melembutkan pandangannya pada Wida. Bibirnya pun tersenyum manis.


"Bukan begitu maksudku," katanya lembut. "Aku tidak berpikiran buruk tentang Prima. Hanya saja... kau tahu kan, bagaimana Nina? Bagaimana ia begitu terobsesinya pada Prima? Lihat saja, buktinya Prima tidak menghubungimu dari tadi. Padahal ia tahu, kalau kau sedang bersamaku. Bukankah ia biasanya sangat protektif bila kau ada disisiku?"


Wida terdiam. Mulutnya terkatup rapat, dan nafasnya tertahan sejenak. Dan tak lama, akhirnya ia menghembuskan nafasnya pelan, saat berhasil mencerna perkataan Soni. Wida memalingkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak ingin Soni melihat kegalauan hatinya. Matanya yang bulat tampak mengerjap-ngerjap, memperlihatkan kalau ia sedang memikirkan sesuatu. Yah, perkataan Soni memang ada benarnya juga, batinnya. Biasanya Prima memang overprotektif jika ia sedang bersama Soni. Tapi, kenapa sekarang Prima tampak tenang saja dan tidak menghubunginya? Apakah karena Nina?


Soni yang sedang memandangi Wida, dapat melihat kegalauan hati gadis itu, karena wajahnya yang terlihat resah. Tanpa ia sadari, tergores sebuah senyum disudut bibirnya. Sepertinya ia tidak dapat menutupi hatinya yang kini bersorak senang, karena hati Wida yang tampak mulai goyah akibat perkataannya.

__ADS_1


"Dan mungkin saja... sekarang Prima dan Nina sedang bepergian seperti kita juga... makanya ia tidak dapat menghubungimu..." kata Soni kembali mencoba menggoyahkan hati Wida lagi.


Wida yang mendengarnya kembali menatap Soni. Hatinya mulai terbakar, dan tatapannya kini terlihat semakin kesal.


"Kau merusak selera makanku!" kata Wida dengan emosi. "Aku ingin pulang!" Ia lalu berdiri, dan tanpa menoleh lagi ia bergegas meninggalkan Soni.


Soni sedikit terkejut dengan sikap Wida yang tiba-tiba meninggalkannya begitu saja. Ia tidak menyangka kalau Wida menanggapi perkataannya dengan serius. Tak ingin tertinggal jauh, ia segera bangkit dan berlari mengejar Wida.


Wida tampak berjalan cepat menuju ke arah jalan raya. Sepertinya ia berniat meninggalkan Soni dan pulang dengan angkot. Tak di pungkiri lagi, hatinya benar-benar emosi karena perkataan Soni.


"Kau mau kemana?" tanya Soni yang sudah berhasil mengejar Wida. Tangannya yang kekar dengan cepat meraih pergelangan tangan Wida, saat gadis itu akan menyeberang jalan.


Wida yang tidak suka tangannya di pegang Soni, berusaha untuk melepaskannya.


"Aku mau pulang!" katanya sambil menarik tangannya. Namun usahanya sia-sia, karena pegangan tangan Soni yang cukup kuat.


"Iya! Tapi motor aku di sebelah sana!" kata Soni sambil menunjuk ke arah motornya yang terparkir dengan tangannya yang bebas.


"Aku mau naik angkot!" Wida berkeras.


"Kenapa naik angkot? Kalau terjadi sesuatu padamu bagaimana?" kata Soni menurunkan nada bicaranya.


"Tidak akan terjadi sesuatu padaku! Aku bisa jaga diri!" kata Wida dengan nada kesal menolak ajakan Soni.


"Tidak! Kau pulang denganku! Aku sudah berjanji pada ibumu untuk menjagamu dan mengantar mu pulang dengan selamat!" Dan tanpa menunggu jawaban Wida, Soni langsung menarik tangan Wida, dan membawa gadis itu ketempat motornya terparkir.


Wida yang tidak bisa melepaskan tangannya dari pegangan Soni, mau tidak mau terpaksa mengikutinya. Ocehannya yang keluar begitu saja dari mulutnya pun tak di gubris oleh Soni. Dan akhirnya Wida pun terdiam, dengan langkah terpaksa ia mengikuti Soni yang berjalan di depannya.


Dan ternyata pemandangan itu di abadikan oleh Sifa yang sedari tadi mengikuti mereka, melalui ponselnya. Soni yang menarik tangan Wida, tampak seperti orang yang sedang menggandeng kekasihnya, di gambar itu. Sifa tersenyum, ia yakin, Nina pasti akan puas dengan hasil kerjanya hari itu...

__ADS_1


__ADS_2