Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LXV : Diammu Melemahkanku...


__ADS_3

Prima merasa waktu berjalan lambat sekali. Berkali-kali ia melihat jam tangannya. Dan bukan itu saja, ia juga lebih dari sekali mendesah karena resah. Ia benar-benar merasa tidak bisa tenang. Ingin rasanya ia putar jam dinding kelasnya ke jam setengah sepuluh, agar waktu istirahat tiba.


Eko yang ada disampingnya pun menyadari kegelisahan Prima. Beberapa kali ia harus menghentikan tulisannya, karena mejanya yang goyang akibat gerakan Prima yang tiba-tiba. Untung saja jam pelajaran saat ini hanya mencatat, coba kalau ulangan, Prima benar-benar akan semakin pusing di buatnya. Kalau sudah seperti ini, menegur pun rasanya percuma. Prima tidak akan mendengar apapun yang akan ia katakan. Eko hanya menggeleng saja dengan kelakuan sobatnya.


Yang ditunggu Prima pun akhirnya berbunyi. Tanpa peduli dengan guru yang masih duduk di depan kelas, ia melesat cepat kekelas Wida. Soni yang dilewatinya merasa heran dengan sikap Prima. Dikiranya Prima akan menghampirinya, karena tadi dilihatnya Prima begitu marah padanya.


Rupanya Prima memegang janjinya pada Eko, bahwa ia tidak akan melabrak Soni sembarangan, tanpa tahu permasalahannya. Makanya, ia langsung kekelas Wida tanpa mempedulikan Soni yang menatapnya heran.


Setibanya didepan kelas Wida, ia terpaksa harus menunggu. Karena masih ada guru yang mengajar didalam kelas. Dan tak lama, setelah guru keluar dari pintu kelas, tanpa peduli tatapan teman sekelas Wida yang melihatnya, ia pun langsung menuju ke bangku Wida.

__ADS_1


Asti yang sedang merapikan alat tulisnya terkejut ketika Prima tiba-tiba berdiri disampingnya. Reflek tangannya memegang tangan Wida dan mengguncangnya dengan kencang. Wida yang juga sedang merapikan alat tulisnya, merasa terganggu dengan guncangan Asti.


"Apa.. ?" tanya Wida tanpa menoleh ke arah Asti. Asti yang tidak menjawab, hanya mengguncang kembali tangan Wida.


Akhirnya Wida pun menoleh. Dan ia tak kalah terkejutnya dengan Asti saat melihat Prima. Tempat pensil yang dipegangnya pun sampai terjatuh. Prima yang hanya diam berdiri menatap Wida dengan tatapan yang membuat Wida gugup.


Asti yang berada diantara mereka menjadi salah tingkah sendiri. Akhirnya ia pun berdiri.


Setelah Asti pergi, Prima duduk di kursi Asti. Matanya yang tak lepas dari Wida, masih menatapnya dengan dingin. Wida yang di tatap seperti itu, merasa tidak nyaman. Tangannya meremas-remas tali tas sekolahnya yang menyembul dari laci mejanya.

__ADS_1


Prima sepertinya akan mengatakan sesuatu. Baru ia akan membuka mulutnya, tiba-tiba Asti datang lagi. Prima yang merasa terganggu menoleh kearahnya. Asti tersenyum kecut.


" Maaf..." katanya, "dompetku ketinggalan.."


Prima menyandarkan tubuhnya kesandaran bangku, memberi ruang pada Asti untuk mengambil dompetnya.


Wajah Asti memerah karena malu. Hadeh... lagian kok bisa ya ia lupa akan dompetnya, batinnya. Mungkin karena ia terburu buru tadi. Habisnya wajah Prima sangat menyeramkan, sih. Seakan-akan ia mau menerkam dirinya dan Wida. Hiih.. Asti bergidik mengingatnya. Setelah Asti menemukan dompetnya, dan meletakkan tasnya di laci meja, ia langsung kabur tanpa menoleh kebelakang lagi. Huft..


Setelah Asti pergi, Prima menghela napas pelan. Diambilnya tempat pensil Wida yang terjatuh tadi, dan diletakkannya diatas meja. Ia melihat tangan Wida yang meremas-remas tali tas dengan gelisah. Diraihnya tangan mungil tersebut, lalu di genggamnya lembut. Sepertinya hati Prima melunak, karena dilihatnya Wida yang hanya terdiam karena takut.

__ADS_1


"Kau... aku menjemputmu tadi... kau tahu?" tanyanya lembut. Dan Wida hanya mengangguk sebagai jawaban.


__ADS_2