
Wida dan Asti tanpa sengaja beradu pandang dengan Sifa dan Anin saat mereka lewat hendak ke rumah Prima.
"Apakah tidak apa-apa, mereka melihat kita disini?" tanya Wida cemas pada Asti. "Mereka tidak akan memberitahu Prima, kan? Aku takut kalau Prima tahu.."
"Tenang saja.. mereka tidak akan mengatakan apa-apa pada Prima," kata Asti menenangkan sahabatnya. "Mereka tidak sebodoh itu untuk memberitahukanmu padanya. Toh, bukannya bagus buat Nina, sahabat mereka, kalau kau tidak bertemu dengan Prima?"
Dan memang benar dugaan Asti, mereka tidak bilang pada Prima kalau mereka melihat Wida di luar. Mereka tidak ingin Nina terluka, bila ia melihat kemesraan Prima dan Wida saat bersama dalam drama perpisahan.
"Lihat.. Prima tidak keluarkan?" kata Asti setelah cukup lama Sifa dan Anin telah berada di rumah Prima.
"Kau yakin tidak ingin ketemu Prima?"
Wida menggeleng.
"Untuk saat ini, begini lebih baik. Aku tidak ingin membebani perasaannya.."
"Bukankah ini lebih membebaninya?" kata Asti tanpa melihat ke arah Wida.
Wida hanya menundukkkan kepalanya saat mendengar penuturan Asti.
Cukup lama mereka menunggu keberangkatan Prima, sampai kemudian akhirnya mobil yang di tumpangi Prima dan Nina keluar dari garasi. Wida tiba-tba membalikkan badannya, membelakangi mobil yang berjalan kearah berlawanan dari mereka. Dengan sigap ia mengambil ponselnya, lalu berfoto selfi dengan latar belakang mobil Prima yang berjalan perlahan meninggalkan rumah Prima. Asti yang melihat kelakuan sahabatnya itu, hanya mendesah pelan sambil menggelengkan kepalanya...
***
Prima yang duduk di samping om Januar, tampak terlihat suntuk dan tidak bersemangat. Mulutnya terbungkam rapat, seperti tidak ingin berbicara sama sekali. Nina yang mencoba mengajaknya berbicara pun di acuhkannya.
"Tidak ada barang yang kelupaan, kan Prim?" tanya Nina mencoba mengajak berbicara, "mumpung belum jauh.."
Nina melihat ke arah Prima yang duduk di depannya, menunggu jawaban dari pertanyaannya.
Namun Prima sepertinya benar-benar mengacuhkannya. Ia malah memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil, melihat pemandangan diluarnya. Om Januar yang sedari tadi memperhatikan keponakannya yang galau, hanya diam saja membiarkan sepasang muda mudi itu dalam masalahnya.
__ADS_1
"Benar, tidak ada yang ketinggalan? Soalnya aku lihat barangmu sedikit sekali?" tanya Nina gigih.
Om Januar yang melihat Prima sedari tadi tidak menjawab pertanyaan Nina, akhirnya buka suara.
"Kau tidak mendengar kalau temanmu sedang bertanya?" katanya tanpa melihat ke arah Prima.
Prima yang mendengarnya hanya menghela napas, lalu bergerak mengubah posisinya agar terlihat lebih santai.
Om Januar yang sepertinya sudah mengenal sifat Prima yang tidak suka di ganggu kalau sedang galau, akhirnya membiarkannya.
"Sudahlah... Biarkan saja, ada yang tertinggal atau tidak, jangan kau pedulikan.." kata Om Januar dengan bijak sambil tersenyum ke arah Nina.
Tiba-tiba terdengar suara nada pesan masuk berkali-kali dari ponsel. Dan sepertinya suara ponsel Prima. Namun Prima yang sedang galau, sepertinya tidak menyadarinya.
"Hei..!Prima! ponselmu bunyi, tuh..!" kata Om Januar mengingatkan.
Prima yang tersadar karena teguran omnya, mengambil ponselnya dengan segan. Namun setelah melihat siapa yang mengirim pesan, tiba-tiba tubuhnya yang tadi bersandar, kini menegak. Wajahnya yang suntuk pun berubah ceria. Seulas senyum tergaris di bibirnya. Sepertinya Wida yang telah mengirim pesan untuknya.
'Selamat jalan'
'Hati-hati disana'
'Kau tidak usah cemas, aku akan menunggumu..'
Lalu ada gambar emoticon hati di pesan berikutnya. Dan gambar foto Wida yang tadi berselfi membelakangi mobil yang di tumpangi Prima.
Hati Prima benar-benar merasa bahagia. Ia tertawa kecil saat memandangi foto Wida. Bagaimana ia tidak bahagia, Wida yang di kiranya tidak datang saat ia pergi, ternyata datang. Walau mereka tidak bertatap muka, foto ini baginya, sudah cukup sebagai bukti kehadiran Wida untuknya. Ia beranggapan, mungkin saja kekasihnya itu masih belum berani berhadapan dengan keluarganya, terkait masalah yang mereka hadapi kemarin. Hhh... desahnya lega.
Om Januar yang melihat gelagat Prima tiba-tiba berubah, mengerutkan alisnya.
"Tadi kau manyun, sekarang tertawa tak jelas... Apa ada yang membuatmu senang?" tanyanya sambil menoleh sekilas ke arah Prima.
__ADS_1
Prima hanya melihat kearah Omnya sambil tersenyum tanpa berkata apa-apa. Baginya, cukup ia saja yang merasakan kebahagiannya saat ini. Kebahagian yang diberikan oleh kekasihnya...
Nina yang mendengar percakapan Om Januar, langsung memperhatikan Prima. Matanya menatap curiga, hatinya pun langsung bertanya-tanya. 'Apakah Wida?' Batinnya. 'Apakah pesan yang dibacanya dari Wida? Padahal Wida tidak menemuinya, tapi..mengapa ia senang sekali? Senang hanya karena sebuah pesan? Pintar benar Wida mengambil hati Prima.. Lihat saja nanti, akan kubuat Prima melupakanmu...
Nina tampak cemburu, terlihat dari raut wajahnya yang berubah kesal. Dialihkannya wajahnya keluar jendela, melempar pandangan membuang kekesalannya...
***
Wida yang sedang berada di kamar Asti tersenyum senang, saat melihat balasan pesan dari Prima. Rupanya, walau ia tidak bertemu langsung, namun pesan yang ia kirim cukup untuk mewakili dirinya.
'Terima kasih kau sudah datang... Doakan aku agar sampai tujuan dengan selamat.. Ah... belum juga sejam.. aku sudah rindu padamu..' tulis Prima pada pesannya. Dan Prima juga mengirim foto selfinya yang sedang tersenyum manis.
Berkali-kali Wida memandangi foto Prima, sampai tak sadar kalau Asti datang membawa minuman untuknya.
"Terus saja kau pandangi fotonya, sampai jereng matamu," kata Asti menggoda. "Baru juga berpisah, sudah seperti itu."
"Tapi aku sudah merindukannya.. aku takut, jika aku melupakan wajahnya.." jawab Wida sambil duduk di ranjang Asti.
"Lebay..."
Asti meletakkan nampan yang di bawanya ke atas meja nakas, lalu ia duduk disamping Wida.
"Apa kau tidak cemas, Prima dan Nina bersama di Jogja?"
Wida menoleh ke arah Asti. Ia mendesah pelan sebelum menjawab pertanyaan Asti
"Bohong jika aku tidak cemas.." jawabnya pelan. "Tapi aku percaya pada Prima."
"Iya... aku juga percaya pada Prima," timpal Asti, "tapi tidak pada Nina. Ia itu licik, pasti ia akan melakukan seribu cara untuk merebut Prima darimu.."
"Habis mau bagaimana lagi.. pokoknya aku percaya pada Prima. Aku yakin ia tidak akan semudah itu tergoda pada Nina..."
__ADS_1