Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CCV : Karenanya Kita Bisa Bertemu


__ADS_3

Eko yang sedang ada di ruang keluarga bersama Asti, terkejut saat melihat layar ponselnya yang sedang berdering. Bagaimana tidak, tertulis kata 'Ibu Prima' disana, yang tak pernah ia duga. Sejenak ia pun ragu untuk menjawabnya.


Asti yang melihat pacarnya tertegun, merasa heran, karena Eko tidak langsung menjawab panggilan ponselnya.


"Kenapa?" tanyanya sambil menyentuh lengan Eko.


Eko menoleh ke arah Asti.


"Ibu Prima," katanya setengah berbisik, seakan takut bisa terdengar oleh si penelepon.


"Ya sudah, dijawablah," saran Asti.


Dengan sedikit gugup, akhirnya Eko menjawab panggilan ponselnya.


"Malam Tante..." katanya dengan nada sopan.


Dan sepertinya tanpa basa-basi ibu Prima langsung menanyakan keberadaan putranya.


"Iya Tante, ia ada disini.."


Dan kini ponsel itu ada di telinga Prima. Dengan wajah yang terlihat tenang, ia mendengar perkataan ibunya yang menyuruhnya pulang. Dengan santai dimatikannya telepon itu, dan diserahkannya kembali pada Eko.


Semua mata kini tertuju padanya, seakan bertanya apa yang orang tua Prima inginkan. Dan Prima seakan dapat membaca tatapan mata mereka.


"Aku disuruh pulang," katanya datar menjawab rasa penasaran teman-temannya. Lalu matanya beralih menatap Wida, seakan meminta pendapat kekasihnya itu, apa yang harus ia lakukan.


"Ya sudah...kau pulang saja," kata Wida yang mengerti tatapan Prima. "Aku akan kerumah Asti, aku sudah terlanjur bilang pada ibuku kalau aku akan menginap di rumahnya.."


"Sori, Wid..." celetuk Asti. "Sepertinya kita akan menginap disini. Aku juga sudah terlanjur bilang pada ibuku, kalau aku menginap di rumahmu.."


"Ya, sudah kalau begitu," Eko menengahi, "kalian menginap disini. Dan kau Prima, sebaiknya kau pulang, agar masalah ini tidak semakin ruwet.."


Prima terdiam sejenak...dan akhirnya ia mengangguk.


"Baiklah..." jawabnya pelan. "Aku titip Wida pada kalian..."


***


Prima berdiri tegak bagaikan terpidana dihadapan kedua orang tuanya, yang menatapnya tajam. Terutama ibunya, yang sepertinya sangat marah padanya.


"Kau...!" kata ibunya setengah berseru. "Benar-benar membuat Mamih kecewa! Kau pikir kuliah itu main-main?! Seenaknya pulang kembali dengan alasan yang tidak penting! Kalau Nina tidak memberitahu, mungkin Mamih tidak akan pernah tahu kalau kau ada di Jakarta!"


Prima terdiam. Nafasnya tampak naik turun, menahan emosinya yang kini bergejolak di dadanya. Wajahnya yang tertunduk menyembunyikan matanya yang tampak kesal, saat nama Nina disebut. Walaupun ia sebenarnya sudah menduga bahwa ada peranan Nina di balik amarah ibunya.


"Apa sebegitu istimewanya gadis itu, sampai bisa membuatmu pulang dalam sekejab? Baru juga beberapa hari kau di Jogja, kau sudah kembali! Apa perlu Mamih mengirimmu ke luar negeri, agar kau tidak bisa pulang sembarangan?!" Luapan amarah ibu Prima sepertinya sudah tak terbendung lagi.


"Ehemm.." tiba-tiba ayah Prima berdehem, seolah menghentikan luapan emosi istrinya. Dan ternyata berhasil, ibu Prima langsung terdiam begitu mendengarnya.


"Kau dengar apa kata Mamihmu?" tanyanya pada Prima dengan suaranya yang berat. "Apa lebih baik kami mengirimmu ke Amerika dan kuliah disana?"

__ADS_1


Prima mengangkat kepalanya yang tertunduk, dan menatap ayahnya sejenak, lalu kembali menundukkan kepalanya.


"Tidak, Pih..." jawabnya hampir tak terdengar.


"Kalau begitu kau kuliahlah yang benar di sana. Jangan melakukan hal yang membuat Mamihmu marah. Apa benar, kau pulang karena gadis itu?"


Prima menghela nafas pelan.


"Bukan, Pih...."


"Bagaimana bukan...!" sergah ibu Prima cepat. "Kata Nina....!"


"Ssttt...!" ayah Prima menghentikan perkataan ibu Prima. "Dengarkan dulu apa yang mau ia katakan..."


"Justru karena Nina aku kemari..." kata Prima mulai berani, karena merasa didengar oleh ayahnya.


"Mengapa karena Nina?!" ibunya kembali menyela. "Jelas-jelas Nina yang....!"


"Miiih..." ayah Prima kembali menegur istrinya. Dan ibu Prima kembali menahan kata-katanya dengan terpaksa.


"Nina melakukan sesuatu yang membuat aku kembali ke Jakarta..." Prima melanjutkan.


"Apa kalian bertengkar karena gadis itu?"


"Tidak, Pih. Bukan karena itu..."


"Lalu kenapa kau menemui gadis itu, bukannya pulang kerumah?"


"Bicara yang jelas! Jangan bikin Papih dan Mamih bingung!" sela ibu Prima.


Prima terdiam sejenak.


"Nina melakukan hal yang tidak baik pada Wida..."


"Melakukan hal tidak baik apa?!" sela ibu Prima kembali, yang sepertinya sudah tidak peduli pada larangan suaminya. "Bagaimana bisa ia melakukan sesuatu padanya, padahal ia ada di Jogja bersamamu? Kau jangan mengada-ngada untuk membela gadis itu! Mamih tahu kok, siapa Nina!"


"Tapi ia melakukannya, Mih. Ia menyuruh temannya yang ada disini untuk mengawasi Wida. Aku punya buktinya. Ia mengambil foto-foto Wida yang membuat aku marah jika melihatnya..."


Prima menghela nafas sejenak. "Asal Mamih tahu, Nina selalu saja berusaha mencoba merusak hubunganku dengan Wida..."


"Baguslah!" kata mamihnya, malah mendukung perbuatan Nina. "Mamih juga tidak suka dengan gadis itu. Apalagi bila ia mengganggu kuliahmu."


"Bukan Wida yang mengganggu kuliahku, Mih! Tapi Nina....!" bantah Prima. "Mamih selalu saja membela Nina. Nina sudah berubah, Mih. Ia tidak seperti yang kita kenal dulu. Pokoknya, kalau Papih dan Mamih mau aku tetap kuliah di Jogja, ijinkan aku keluar dari rumah Om Januar. Ijinkan aku nge-kos! Aku janji, aku akan kuliah dengan baik disana!" Suara Prima terdengar lantang dan meyakinkan.


Ayah Prima yang mendengarkan putranya berbicara, tampak menghela nafas. Ia terdiam sejenak seakan sedang berpikir untuk mengambil keputusan yang tepat bagi putranya itu.


"Baiklah kalau itu maumu," akhirnya ia memutuskan untuk menyetujui permintaan Prima.


Ibu Prima langsung menoleh ke arah suaminya.

__ADS_1


"Pih!!" serunya kesal. Sepertinya ia tidak setuju dengan keputusan suaminya.


"Kenapa? Ia merasa terganggu kuliahnya bila di rumah Omnya. Lagi pula ia sudah beranjak dewasa. Biarkan ia melakukannya. Mungkin itu yang lebih baik untuknya dan kuliahnya..."


***


Dan kini Prima tampak tersenyum bahagia, menembus malam dengan sepeda motor, yang ia pinjam dari sahabatnya, untuk kembali ke tempat dimana Wida berada.


Para sahabatnya dan kekasihnya pun sepertinya memang sudah menunggu. Mereka memasang dua tenda di halaman belakang rumah Eko. Sepertinya mereka akan tidur di alam terbuka.


Saat tiba di rumah Eko, Prima agak terkejut melihatnya.


"Wah..!" serunya. "Apa kita akan berkemah malam ini?"


"Iya," jawab Eko sambil tersenyum. "Kau kan akan kembali ke Jogja besok, jadi kita akan ngobrol dan bergadang sampai pagi..."


Prima tersenyum menanggapi perkataan Eko.


"Kenapa? Kau tidak suka kalau aku berlama-lama disini?"


"Kalau ibumu tidak akan menerorku, tidak masalah. Tapi kan kau tahu bagaimana ibumu..."


Tanpa mempedulikan perkataan Eko, Prima berjalan ke arah tikar yang telah terbentang di depan tenda. Ia pun langsung mengambil tempat dan duduk disamping Wida. Diraihnya tangan Wida untuk di genggamnya. Dan tanpa mempedulikan Asti dan Eko yang ada di hadapan mereka, ia langsung mendaratkan kecupan ringan di pipi Wida.


Wida yang mendapatkan ciuman dadakan itu terkejut. Matanya membulat dan pipinya bersemu merah. Sesaat ia melihat ke arah Asti dan Eko. Untung saja mereka tampak asik mengobrol, jadi kemungkinan tidak melihat apa yang dilakukan Prima. Lalu ia menoleh ke Prima, matanya semakin bulat seakan menegur tindakan Prima.


"Kalau mereka lihat bagaimana?" bisiknya ketus.


Prima tersenyum.


"Biar saja," kata acuh. "Mereka juga boleh kok melakukannya."


Wida mencibir.


"Aku kangen padamu..." kata Prima sambil menggeser duduknya agar lebih merapat ke tubuh Wida.


Wida yang merasa tubuh Prima begitu menempel padanya, membiarkannya. Ia juga sebenarnya kangen pada kekasihnya itu. Tapi rasa gengsi mendera hatinya untuk mengakuinya. Dialihkannya pandangannya ke tangan Prima yang sedang menggenggam tangannya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan genggaman hangat tangan Prima.


"Apakah kau tidak percaya padaku, hingga kau langsung pulang ke Jakarta, begitu melihat foto-foto itu?" tanya Wida tiba-tiba memulai percakapan.


Prima mendesah pelan. Salah satu tangannya bergerak meraih bahu Wida untuk dirangkulnya.


"Aku percaya padamu..." jawab Prima santai. "Hanya saja aku ingin membuktikan pada Nina, bahwa aku memilih gadis yang tepat untuk jadi pacarku. Bukankah karenanya juga, aku jadi bisa menemuimu?" Dan sekali lagi Prima mengecup pipi Wida.


Namun kali ini ia tertangkap basah oleh dua sahabatnya yang tengah memperhatikan mereka.


"Kayanya kita harus mengawasi mereka berdua," kata Eko menggoda. "Kalau tidak, Prima bisa lepas kontrol."


Asti sang pacar hanya tertawa renyah mendengarnya. Sedangkan Wida tampak malu, lalu dengan reflek memukul pelan tangan Prima yang ada di pangkuannya. Mendapat gurauan seperti itu, Prima semakin mengeratkan pelukkannya pada Wida....

__ADS_1


Malam berlalu tanpa terasa, angin yang berhembus membawa canda tawa mereka menembus pekatnya malam....


__ADS_2