
Keadaan angkot yang penuh membuat Wida dan Prima duduk berdesakkan. Sesekali Prima harus menggeser duduknya kedepan agar Wida bisa duduk dengan nyaman. Untunglah rumah Prima tidak terlalu jauh. Sehingga mereka tidak terlalu lama berdesakkan di dalam angkot.
Rumah Prima cukup besar. Ia tinggal di komplek perumahan yang lumayan elit. Di garasinya terdapat 2 buah mobil sedan yang cukup mewah dan 2 buah motor matic. Prima tidak pernah membawa motor kesekolah, karena memang sekolahnya melarang siswa membawa kendaraan bermotor dan juga handpone. Sekalipun ada yang bawa itu pun harus parkir di luar area sekolah.
Prima mengajak Wida masuk kedalam rumahnya. Saat masuk ke ruang tamu, Wida nampak tertegun. Ia terkesima akan besarnya ruangan itu yang mungkin separuh rumahnya. Baru melihat bagian ruang tamu saja Wida sudah merasa minder, bagaimana nanti jika ia melihat bagian ruangan lainnya. Belum lagi isi rumah itu.. yang baginya kelihatan mahal.
Bagaimana ia tidak minder.. rumahnya yang terletak di perkampungan padat penduduk dimana gangnya hanya bisa di lalui sepeda motor.. hanya sebesar dua kali ruang tamu Prima.. mungkin lebih kecil lagi. Dan isi rumahnya yang hanya beberapa barang saja.. tidak seperti isi rumah Prima yang penuh dan mewah.
Prima menarik tangan Wida untuk megajaknya ke ruangan lain. Sebuah ruangan yang mungkin ruang keluarga. Dimana disana ada beberapa sofa santai, meja kecil dan tivi yang cukup besar. Di depan tivi digelar permadani yang cukup lebar dan lembut serta beberapa bantal tergeletak disana.. mungkin untuk tidur-tiduran sambil nonton tivi.
"Duduklah", perintah Prima pada Wida sambil menganggukkan kepalanya ke arah sofa. Wida pun duduk tanpa berkata apa-apa. Lalu Prima pergi ke ruangan lain dan meninggalkan Wida disana. Wida bingung.. mengapa rumah sebesar ini tampak sepi. Setelah agak lama meninggalkan Wida, Prima pun datang kembali bersama seorang wanita separuh baya dengan membawa nampan di tangannya.
__ADS_1
"Ini mbok Uti.. yang bantu-bantu di rumah.." katanya memperkenalkan wanita paruh baya itu sambil duduk di samping Wida. Wida tersenyum menganggukkan kepalanya pada mbok Uti. Mbok Uti balas tersenyum sambil meletakkan nampan yang dibawanya di meja. "Silahkan non.." katanya pada Wida dan kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
Di nampan terdapat dua gelas berisi es jeruk dan mangkuk besar yang di dalamnya terdapat air dengan es batu dan juga handuk.. sepertinya untuk mengompres.
"Minumlah.." kata Prima. Wida hanya mengangguk. "Itu.. " katanya sambil menunjuk mangkuk besar pada Prima.
Prima tidak menjawab dan hanya menunjukkan pipinya yang lebam.
Prima meringis pura-pura kesakitan.
"Pelan-pelan dong.." katanya dengan manja. Wida malah sengaja menekan kompresannya. "Aduuhh!" Prima memekik. "Sakit beneran tau." Wida tersenyum melihat Prima yang kesakitan. "Maaf.." katanya sambil tersenyum manis. Wida lanjut mengompres.. memeras dan menempelkan handuk berulang-ulang.
__ADS_1
Prima nampak menikmati kompresan yang di lakukan Wida dengan sesekali meringis kecil. Matanya tak lepas menatap Wida dengan pandangan sayang. Sesekali mata mereka bertemu.. dan itu membuat Wida gugup.
Setelah di rasa cukup, Wida menghentikan kompresannya pada pipi Prima. Lebam Prima agak berkurang. Wida kembali meletakkan handuk bekas kompres kedalam mangkuk. Lalu mengambil gelas yang berisi es jeruk dan meminumnya.
"Aku sudah bertanggung jawab.. aku mau pulang", katanya sambil meletakkan gelas keatas nampan. Prima mengacuhkan perkataan Wida. Ia malah meraih remote tivi dan duduk bersandar.
"Nanti.." katanya, "kita makan dulu.. mbok Uti sedang menyiapkan makanan untuk kita."
"Aku bisa makan di rumah.." tolak Wida halus.
"Makan dulu", tegas Prima tidak menerima penolakkan Wida. Dengan kesal Wida ikut bersandar di samping Prima. Suasana pun terasa canggung. Keadaan rumah yang sepi menambah kecanggungan mereka.
__ADS_1
Tak lama kemudian mbok Uti pun datang. Dengan sopan ia mengatakan bahwa makan siang sudah siap. Dan Prima mengajak Wida untuk pergi ke ruang makan.