
Nina yang sengaja mencuri dengar pembicaraan Prima dan Eko dikelas, akhirnya tahu kalau Prima berencana akan mengajak Wida kerumahnya.
Nina tersenyum. Sepertinya rencananya akan berjalan lancar. Ia tahu bahwa hari ini ibu Prima akan datang dari Jogja. Karena memang belakangan ini, ia selalu berhubungan dengan ibunya Prima.
Dan tentu bukan asal berhubungan saja, karena secara tidak langsung ia melaporkan segala aktivitas Prima di sekolah, bila ibu Prima menanyakan tentang keadaan Prima di sekolah. Dan sepertinya, kepulangan ibu Prima kali ini karena hasil laporannya.
Nina berencana mempertemukan Wida dengan ibunya Prima. Agar ibunya Prima bisa melihat bahwa dirinya lebih baik dari Wida, dan lebih pantas berada di sisi Prima. Tapi sepertinya ia tidak perlu bersusah payah, karena Prima sendiri yang akan mempertemukan Wida dengan ibunya hari ini.
Dan sekali lagi tampaknya dewi fortuna berpihak padanya. Bu Rum tiba-tiba saja meminta tolong padanya untuk memasukkan nilai ke dalam buku daftar nilai. Nina menolaknya dengan halus, dengan mengatakan bahwa ia sedang ada keperluan. Dan ia berjanji akan mencari penggantinya untuk membantu bu Rum.
Dan tentu saja penggantinya itu adalah Wida. Ia meminta Adel, teman sekelasnya, untuk memberitahukan pada Wida, bahwa bu Rum menyuruhnya untuk membantunya memasukkan nilai di kantor. Tentu saja dengan mengingatkan Adel, bahwa bukan ia yang mengatakannya.
Ketika dilihatnya Wida dan Prima berada di kantor, ia pun langsung bergegas keluar dari gedung sekolah untuk ke rumah Prima. Tanpa mempedulikan Sifa dan Anin yang tengah berjalan di sampingnya.
Saat sampai dirumah Prima, ibu Prima menyambutnya dengan hangat. Dan mereka berbincang-bincang dengan akrab. Walau mulutnya berbicara, namun hatinya memikirkan berapa lama lagi Wida dan Prima akan sampai.
Ibu Prima tersenyum melihat sikap Nina. Sepertinya ia tahu bahwa Nina sedang menunggu Prima, karena dilihatnya Nina berkali-kali melirik kearah jam tangannya.
Tiba-tiba terdengar suara motor memasuki halaman rumah. Adik Prima, Dewi, yang tahu kalau itu motor kakaknya, segera menghambur keluar untuk menyambutnya.
"Tuh, Prima sudah datang," kata ibu Prima sambil tersenyum hangat pada Nina.
__ADS_1
Nina yang malu karena ketahuan menunggu Prima, hanya tersenyum menanggapi perkataan ibu Prima.
Tak lama dilihatnya Prima masuk, dengan menggandeng Dewi dan Wida. Saat dilihatnya tangan Prima yang menggandeng tangan Wida, ada sedikit rasa sesak didadanya.
Ketika Prima memperkenalkan Wida pada ibunya, tanpa ia sadari bibirnya tersenyum sinis. Apalagi saat dilihatnya Wida mencium tangan ibu Prima.
Cih! Batinnya, sok sopan! Pintar sekali dia mencari muka dengan ibu Prima!
Dan saat Dewi memuji dengan mengatakan kalau Wida 'cantik', makin kesal saja ia pada Wida.
Prima menarik tangan Wida untuk duduk di sofa bersamanya. Mbok Uti yang sudah melihat kedatangan Prima dan Wida, dengan segera datang keruang tamu membawakan minuman untuk keduanya.
"Kenapa kau lama sekali pulangnya?" tanya ibu pada Prima, "Nina sudah menunggumu dari tadi."
Prima melirik ke arah Nina sekilas.
"Tadi aku menemani Wida, membantunya memasukkan nilai atas perintah bu Rum."
Pandangan ibu Prima beralih ke Wida. Ditatapnya Wida dengan penuh selidik.
"Kau pacar Prima?" tanyanya pada Wida.
__ADS_1
Wida yang merasa sedang di introgasi, merasa malu dan hanya diam tertunduk.
"Kenapa kau tidak pernah cerita, kalau kau punya teman wanita selain Nina? Selama ini mamih mengira kalau Nina adalah pacarmu," kata ibu kembali melihat ke arah Prima.
"Aku juga tadi bilang seperti itu," celetuk Dewi, "aku kira kak Nina pacar kak Prima."
Nina yang namanya disebut-sebut hanya diam sambil memperhatikan Wida. Seulas senyum tampak terlihat disudut bibirnya. Kena kau! Batinnya. Lihat... mereka lebih menganggap aku pacarnya, ke timbang dirimu!
Tiba-tiba Prima meraih tangan Wida, menggenggamnya erat, dan membawanya kepangkuannya. Wida yang terkejut dengan gerakan Prima yang tiba-tiba itu, mengangkat kepalanya yang tertunduk dan melihat ke arah Prima. Ia berusaha menarik tangannya kembali. Tapi Prima yang sudah tahu Wida akan melakukan itu, semakin mengeratkan genggamannya.
Wida melihat ke arah ibu Prima, yang terlihat sedang menatap kearah tangan Prima yang sedang menggenggam tangannya. Wajah Wida memerah, ia merasa malu dengan perbuatan Prima. Tapi mau bagaimana lagi, Prima sepertinya tidak perduli dengan tatapan ibunya itu. Dan akhirnya Wida hanya bisa kembali tertunduk dengan menahan malu.
"Aku juga baru mengenalnya," kata Prima menimpali perkataan ibunya. "Walau aku sudah menyukainya secara diam-diam selama dua tahun ini."
Prima melihat ke arah Nina, yang wajahnya terlihat kesal saat mendengar perkataannya.
"Mamih tahu aku tidak mudah bergaul dengan wanita. Dan dari kecil temanku hanyalah Nina. Tapi saat aku melihat Wida, aku menyadarinya kalau aku menyukainya... dan lebih dari sekedar teman."
Prima kembali menatap ibunya.
"Tidak apa kan Mih, aku memiliki wanita lain selain Nina sebagai pacarku?"
__ADS_1