Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CXXXVI : Jangan Kau Tanggung Sendiri...


__ADS_3

Jam pelajaran pertama yang mendebarkan bagi Wida. Ia duduk dengan gelisah. Kelasnya yang ramai dengan siswa yang berbicara karena guru yang belum datang, seakan sedang mengguncingkan dirinya. Beberapa mata pun tertuju padanya dengan pandangan yang berbeda.


"Wida!" sebuah suara tiba-tiba memanggil namanya. Laras, salah seorang temannya yang duduk tak jauh darinya, memanggilnya dengan suara yang cukup keras.


Wida yang sedikit terkejut dengan panggilan itu, menoleh kearah Laras. Dilihatnya Laras yang tengah memandangnya sinis.


"Itu benar, ya, kalau itu fotomu yang ada di mading?" tanya Laras tanpa basa-basi, yang langsung membuat seisi kelas terdiam.


Wida terpaku, ia merasa kelas tiba-tiba menjadi hening. Ia menyadari kalau semua pandangan temannya tertuju kearahnya, seakan menunggu jawaban darinya.


Asti yang mendengar perkataan Laras menjadi kesal.


"Tidak usah pakai teriak. Kalau mau bertanya, sini mendekat," katanya dengan wajah kesalnya.


"Siapa yang teriak? Lagian bukan aku saja yang ingin tahu. Semua yang ada di kelas ini juga ingin tahu, bahkan satu sekolah ini!" kata Laras sambil berdiri karena emosi Asti ikut campur.


Asti semakin kesal, Ia pun ikut berdiri.


"Memangnya matamu sudah tidak bisa melihat dengan jelas, ya?"

__ADS_1


"Sembarangan! Aku kan hanya ingin kepastian! Kali saja itu hanya editan!" Laras tampak semakin emosi.


Wida akhirnya ikut berdiri. Ia berniat melerai pertikaian antara Asti dan Laras. Ia tidak ingin Asti mendapat masalah karena dirinya.


Namun belum sempat ia berkata, tiba-tiba pintu kelas terbuka. Terlihat bu Lusi guru yang akan mengisi jam pelajaran memasuki kelas. Ia tampak heran melihat kelas yang hening dan ada ketiga muridnya yang duduk di bagian belakang tampak sedang berdiri.


"Selamat pagi!" sapanya, "ada apa ini? Kenapa kalian berdiri?" tanyanya pada Asti, Wida dan Laras.


Ketiganya hanya terdiam, dan kembali duduk dengan perasaannya masing-masing. Bu Lusi pun tidak bertanya lagi. Ia langsung menuju ke bangkunya dan memulai pelajaran.


Wida menarik napas lega, untunglah bu Lusi segera datang, batinnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa tadi. Ia takut apabila dirinya salah bicara dan menjadi omongan semua orang... walau pun sekarang memang sudah menjadi omongan...


Namun selama jam pelajaran bu Lusi, Wida tetap merasa cemas. Setiap bu Lusi membuka mulut dan bersuara, jantung Wida seakan berhenti berdetak. Ia takut bila bu Lusi memanggilnya dan menyuruhnya ke kantor karena masalah foto di mading tadi.


Ternyata bukan hanya Wida, Prima pun merasa cemas. Ia merasa cemas akan keadaan Wida. Duduknya yang gelisah membuat Eko berulang kali menoleh padanya dengan alis berkerut.


"Kenapa, sih?" akhirnya Eko bertanya karena merasa terganggu.


"Aku mencemaskan Wida," jawab Prima tanpa menoleh ke Eko.

__ADS_1


"Iya, aku tahu kau cemas. Tapi jangan seperti cacing kepanasan gitu," sungut Eko.


Prima menghembuskan napasnya melalui mulutnya, untuk menenangkan dirinya. Disandarkannya tubuhnya kebangku dengan pandangan mata yang menerawang jauh. Pikirannya menebak-nebak apa yang terjadi pada Wida. Apakah teman sekelasnya akan mengganggunya? Membullynya? Atau melakukan sesuatu yang bisa menyakitinya?


Aaah... desah Prima pelan sambil mengacak rambutnya kesal, karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk Wida. Kenapa sih, waktu berputar lambat sekali? Batinnya. Tanpa ia sadari dua pasang mata sedang menatap dirinya, dengan pandangan berbeda...


Nina meremas kertas yang ada di tangannya. Matanya menatap Prima dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia sepertinya marah dan cemburu, tapi ia juga merasa kasihan, karena Prima selalu dalam masalah. Dan baginya itu semua karena Wida.


Matanya menyipit, ada kebencian terpancar disana. Tapi sepertinya bukan pada Prima. Nina menghela napas menahan emosi. Awas saja... batinnya, aku tidak akan memaafkan bila sesuatu terjadi pada Prima...


Berbeda dengan Soni yang juga sedang melihat ke arah Prima. Matanya menatap dengan penuh kemarahan. Ada perasaan sesal di hatinya, karena melepas Wida pada Prima. Bila wida bersamanya, mungkin masalah ini tak akan terjadi.


Hhh.. desahnya, walau gambar wajah laki-laki yang ada di foto itu di buramkan, ia tahu bahwa itu adalah Prima. Tangannya mengepal, ia tidak menyangka bahwa Prima akan membawa Wida ke tempat seperti itu. Tempat yang akan membuat Wida dalam masalah.


Tapi... siapa yang meletakkan gambar itu di mading? Batinnya. Dan kenapa hanya gambar Prima saja yang diburamkan? Ini pasti disengaja... dan orang itu sepertinya membenci Wida. Tapi siapa? Batin Soni bertanya-tanya.


Tiba -tiba matanya tertuju ke tempat duduk Nina. Dilihatnya Nina yang sedang melihat ke arah Prima. Apakah dia? tanya Soni dalam hati. Hanya Nina yang selalu ingin memisahkan Wida dengan Prima. Tidak dapat di pungkiri kalau ia juga ingin Wida pisah dengan Prima. Tapi bukan begini caranya.


Hhh.. lagi-lagi Soni mendesah. Sepertinya aku harus mencari tahu, batinnya. Aku tidak ingin Wida terluka karena masalah ini. Apalagi masalah ini bisa membahayakan sekolahnya. Yah.. bagaimana bila para guru tahu... apa yang akan terjadi pada Wida?

__ADS_1


Soni kembali berpaling ke arah Prima. Tidak... tak akan ku biarkan Wida menanggung masalah ini sendiri... batinnya.


#maaptelatepisodenya...😓🙏


__ADS_2