Romansa SMA

Romansa SMA
BAB XIX : Cemburuku Bikin Gila


__ADS_3

Bunyi bel menghalangi langkah Prima untuk mengejar Wida. Ia hanya mampu memandang Wida yang masuk ke dalam kelasnya dari balik jendela. Dengan lesu Prima duduk dibangkunya. Pikirannya penuh akan Wida dan Ryan.. dan juga berbagai pertanyaan yang seakan ingin mencuat dari kepalanya.


Pak Bram guru Matematika, yang mengajar dengan suara lantang pun hanya seperti film bisu baginya. Ryan! batinnya geram, mau apa anak itu.. apa masih kurang ia menghajarnya kemarin? Masih berani dia mendekati Wida! Matanya menyipit.. menyiratkan kalau ada kemarahan disana.


Tiba-tiba Eko menjawilnya. "Di panggil Robi", katanya pelan sambil menunjuk kearah Robi yang duduk di depan. Prima melihat kearah Robi. Dilihatnya Robi dengan mulutnya yang komat kamit.. dan hanya dua kata yang tertangkap olehnya.. Wida.. dan toilet!


Wida! Otaknya langsung mencerna.. Wida sedang ke toilet! Reflek Prima berdiri.. ia pun langsung bergegas kedepan.. ijin ke pak Bram untuk ke toilet.


Wida merasa beruntung karena bel berbunyi tepat pada waktunya. Ia pun segera berlari meninggalkan Ryan didepan kantin tanpa harus memberi jawaban. Terus berlari tanpa menengok kebelakang.. bahkan tidak melihat Prima yang sedang melihatnya berlari dari balik jendela kelasnya.


Sesampainya dikelas ia langsung duduk dengan napas tersengal-sengal. Diraihnya botol minum dan langsung menenggak isinya sampai habis. Asti memperhatikannya dengan keheranan.


"Habis ngapain sih?" tanyanya heran, "santai aja kali.. bu Rum gak masuk ada rapat.. tuh cuma disuruh ngerjain soal", katanya lagi sambil menunjuk Ira, sekretaris kelas, yang sedang menulis soal di papan tulis.

__ADS_1


Wida hanya tersenyum.. ia merasa lega karena bisa kabur dari Ryan dan pertanyaannya. Setelah agak lama napasnya pun mulai teratur. Tiba-tiba ia merasa ingin ketoilet. "Pipis yuk.." ajaknya pada Asti. "Gak ah.. udah tadi.." tolak Asti, "lagian minum udah kaya orang kesurupan.. memangnya tadi di kantin tidak minum?"


Tanpa menjawab pertanyaan Asti, Wida pun segera berdiri dan berjalan keluar untuk ke toilet setelah ijin dengan ketua kelas.


Wida berjalan melewati kelas Prima, tanpa tahu kalau Robi melihatnya. Dan Robi pun segera memberi tahu Prima. Lalu tanpa Wida sadari Prima mengikutinya dari belakang. Hingga saat masuk ruang ganti toilet pun Wida masih belum menyadarinya. Dan akhirnya ia tersadar kalau ada yang mengikutinya ketika tiba-tiba pintu ruang ganti tertutup. Ia pun terkejut setelah dilihatnya siapa yang menutup pintu tersebut.


"Ka.. kamu?" katanya setelah tahu Primalah yang menutup pintu. "Mau apa kamu kesini?" Prima hanya tersenyum grogi sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia sendiri sebenarnya bingung.. kenapa harus mengikuti Wida dan sampai harus masuk keruang ganti wanita. Karena emosi dan cemburu ia jadi gila, pikirnya, untung tidak ada siapa-siapa.. coba kalau ketawan murid lain atau guru.. ia bisa di anggap mesum!


"Hei..!" seru suara di luar, "siapa di dalam?"


Pintu ruang ganti toilet wanita memang jarang di tutup, kecuali ada yang ganti baju saat jam olah raga. Dan didalam ruang ganti ada 3 toilet, dua toilet untuk murid dan satu untuk guru yang selalu terkunci. Dan saat itu sedang tidak ada yang olah raga. Jadi agak mencurigakan kalau tertutup.


Prima panik begitu mendengar suara seseorang diluar. Lalu tanpa disadarinya ia menarik tangan Wida dan masuk kedalam toilet yang langsung ditutup pintunya tanpa suara. Wida yang juga tidak kalah paniknya hampir saja menjerit kalau tidak buru-buru dibekap mulutnya oleh Prima dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya menahan pintu agar tidak terbuka.. walau pun ia sudah menguncinya.

__ADS_1


Posisi mereka sangat berdekatan seperti sedang berpelukan. Wida yang bersandar di tembok dengan kedua tangannya yang mencengkram baju Prima.. dan Prima yang berdiri rapat dengan tangan kanan yang membekap mulut Wida. Prima bahkan dapat merasakan tubuh Wida yang gemetar karena takut. Mata mereka saling bertatapan. Prima kemudian meletakkan jari telunjuk tangan kirinya dibibirnya.. untuk memberi isyarat agar Wida diam.. lalu tersenyum menenangkan Wida.


Terdengar seseorang memasuki ruang ganti toilet. Lalu orang itu berjalan ke arah toilet yang mereka tempati dan mengetuk pintunya. "Ada orang di dalam?" kata orang itu. Prima membuka sedikit bekapan tangannya pada mulut Wida, agar Wida bisa menjawab. Lalu ia menganggukan kepalanya mengisyaratkan agar Wida menjawabnya. "Ya.. ada.." Wida menjawab dengan gugup.. dan setelah itu mulutnya pun kembali di bekap oleh Prima.


Orang yang berada diluar tampak diam sejenak. Sampai akhirnya terdengar langkah orang berjalan keluar meninggalkan ruang ganti toilet.


Setelah dirasa sudah aman, Prima menghembuskan napasnya dengan lega. Ditatapnya mata Wida yang masih terlihat ketakutan. Dibuka bekapan tangannya dengan perlahan.. lalu dengan kedua telapak tangannya di pegangnya wajah Wida. Terasa pipi Wida yang lembut di telapak tangannya. Wida yang masih ketakutan hanya terdiam. Tatapan Prima pun beralih ke bibir Wida yang merah walau tanpa lipstik. Terlihat bibir merah itu bergetar karena takut. Tanpa sadar Prima membelai bibir yang bergetar itu dengan ibu jarinya. Terasa lembut..


Wida terkejut saat Prima menyentuh bibirnya. Ia melepaskan cengkramannya pada baju Prima dan menunduk sambil menepis kedua tangan Prima dari wajahnya. Prima tersadar. Hampir saja ia mengecup bibir Wida kalau saja Wida tidak menepis tangannya.


"Maaf.." katanya. Prima pun mundur. Ia baru sadar kalau ternyata ruangan toilet itu cukup sempit. "Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu.. tapi nanti saja sepulang sekolah.." kata Prima yang kemudian membuka pintu toilet dan keluar dari sana.


Wida yang ditinggal Prima langsung terjongkok lemas. Tangannya mendorong pintu agar tertutup. Ia menghembuskan napasnya lega. Matanya terpejam.. ia tidak percaya akan kejadian yang baru saja ia alami...

__ADS_1


__ADS_2