Romansa SMA

Romansa SMA
BAB XLIV : Andai Aku Sabar..


__ADS_3

Wida sebenarnya tidak enak karena tidak mengajak Soni masuk kedalam rumah untuk sekedar minum teh. Tapi ia memang sudah lelah. Dan.. sepertinya ia tahu apa maksud Soni mengajaknya jalan ke mall hari ini. Bukan ge er, tapi dari sikap Soni kepadanya tadi saat di mall sudah dapat ia baca.


Benerapa kali ia merasa bahwa tangan Soni ingin menggandengnya. Namun ia selalu bisa menepisnya dengan halus. Ia tidak ingin Soni salah paham. Ia mau di ajak jalan olehnya, karena memandang Soni sebagai teman Prima. Dan Soni anak yang baik, jadi ia tidak menolaknya. Bukan karena hal lain, yang bisa membuat Soni salah paham.


Wida masuk kedalam rumah dengan langkah gontai. Saat akan masuk ke kamar, ibu yang melihatnya langsung datang menghampirinya.


"Tadi ada yang datang kemari tidak lama setelah kalian berangkat," kata ibu begitu sampai didepan Wida.


"Siapa?" tanya Wida. Ah.. mungkin Asti.. tebaknya.


"Prima.." jawab ibu yang langsung membuat mata Wida membelalak lebar.


"Prima?" Wida mengulang perkataan ibu. Mana mungkin? pikirnya. Ia kan tidak tahu rumahnya.. karena kemarin saat ia mengantarnya pulang, Wida sengaja minta turun di lain gang.

__ADS_1


Ibu mengangguk. "Ia bahkan menanyakan kalian pergi kemana.."


Wida makin panik.


"Ibu mengatakan padanya kalu aku pergi ke mall dengan Soni?" tanya Wida cemas.


"Iya.. kenapa? Kok cemas begitu?" ibu heran melihat perubahan paras Wida.


"Tidak apa-apa.." Wida menggeleng. Dibukanya pintu kamar, dan ia pun langsung masuk ke kamar seperti orang linglung. Ibu yang melihatnya mendesah keheranan.


Bukannya ia tidak senang tadi waktu jalan dengan Soni. Awalnya memang menyenangkan.. mereka ngobrol dan tertawa bersama. Soni memang selalu bisa membuatnya tertawa dan pandai berbicara. Namun saat perhatiannya mulai berlebihan, ia mulai risih. Saat Soni menyibak rambutnya, menyentuh pipinya bahkan mencoba menggandeng tangannya.. ia merasa mulai tak enak. Baginya, hanya Prima yang boleh melakukan itu padanya. Ia hanya menganggap Soni sebagai teman.. dan perlakuan seperti itu, bukankah perlakuan 'lebih' dari serorang teman?


Apalagi saat Soni mengajaknya nonton di bioskop. Ia mulai merasa tak enak, terbayang saat ia nonton dengan Ryan.. dan ingat bagaimana suasana di dalam bioskop. Rasanya tidak nyaman bila berdua seperti itu dengan orang yang tidak kita sayangi.

__ADS_1


Wida bangun dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar. Ia berniat meminjam ponsel ibunya. Dilihat ibunya yang sedang sibuk memasak di dapur dengan di bantu mba Yuni, orang yang dipekerjakan ibu untuk membantu usaha ketringnya. Ibunya memang membuka usaha ketring di rumah, untuk menunjang kehidupan ekonomi mereka.. karena ayahnya yang telah meninggal lima tahun yang lalu. Tidak banyak yang tahu kalau dirinya sudah tidak berayah, kecuali Asti sahabatnya dan beberapa teman dekatnya.


"Bu..!" panggil Asti.


Ibu yang sedang mengaduk-aduk sesuatu di penggorengan menjawab tanpa menoleh, "Apa.." katanya.


"Pinjam Hp.. sebentar.." Wida merajuk.


"Buat apa?"


"Mau telepon Asti.."


Ibu menoleh, "Jangan lama-lama.. itu pulsa baru di isi.. bukan buat telpon yang lain-lain.. tapi buat usaha ibu.." pesannya.

__ADS_1


"Iyaaa.. makasiiih.." Wida tersenyum senang. Diraihnya ponsel ibunya yang tergeletak di meja dapur dan di bawanya kekamar.


__ADS_2