
Wida tidak bisa menerima pelajaran dengan baik hari ini. Pikirannya kacau.. karena terlalu banyak yang di pikirkannya. Ia terbayang percakapan terakhirnya dengan Asti tadi sebelum bel berbunyi.
"Kenapa? Kau khawatir jika Prima tahu akan hal itu?" tanya Asti, "bila kau khawatir mengapa kau mengulanginya kembali?"
"Maksudmu?" Wida tidak mengerti.
"Mengapa hari ini kau turun dari taksi dengan Soni?" Asti menjelaskan maksudnya. "Menurutmu.. bagaimana perasaan Prima jika tahu akan hal ini.. kemarin dengan Ryan..dan sekarang dengan Soni.." Asti menggelengkan kepalanya. "Tapi sudahlah.. untuk apa kau pusing.. bukankah kau belum menerima Prima jadi pacarmu?"
Ya.. kenapa ia harus pusing? Benar kata Asti.. ia belum pacaran dengan Prima. Ia masih belum memberi jawaban yang pasti pada Prima. Tapi hatinya tidak bisa di ajak kompak. Hatinya justru resah bila ia memikirkan 'seandainya Prima tahu'. Dan Soni.. mengapa dengan Soni? Ia teman Prima.. masa Prima akan cemburu dengan Soni? Aaah... Wida mendesah.. sepertinya ia benar-benar pusing..
Jam istirahat tiba. Eko yang berjanji akan membawa Wida kerumah Prima hari ini, mencari Wida di kantin. Tapi tampaknya Wida tidak ada disana. Dilihatnya Asti sedang makan somay seorang diri. Eko menghampirinya dan duduk di depan Asti. "Hai As.." sapanya. Asti yang sedang asik makan hanya melihat sekilas ke arah Eko dan kemudian melanjutkan makannya.
Eko yang merasa di acuhkan oleh Asti pasang muka tebal. Ia tetap duduk dan berusaha mengajak ngobrol Asti. "Kok, tumben sendirian.. biasanya bersama Wida." Eko memulai percakapan. Asti masih diam. Di acak-acaknya somay yang tinggal dua potong dipiringnya dengan kesal karena merasa terganggu. "Kau mau tambah lagi somaynya?" tanya Eko mencoba membujuk Asti.
Akhirnya Asti meletakkan sendoknya dipiring. Ditatapnya Eko. "Kamu mau apa sih sebenarnya?" tanyanya kesal. Eko tersenyum, Asti akhirnya mau juga bicara. "Tidak mau apa-apa. Hanya mau tanya tentang Wida ajah," jawab Eko, "Wida.. apakah dia tahu kalau Prima sedang sakit?" lanjut Eko.
__ADS_1
"Sakit? Prima?" tanya Asti. Eko mengangguk.
"Sepertinya tidak.. Wida pikir Prima hanya sedang menghindarinya saja." Asti menjelaskan. "Parahkah sakitnya?"
Eko mengangguk. "Menurutmu.. maukah Wida menjenguk Prima?"
Asti kembali ke kelas dengan langkah cepat. Ia telah berjanji pada Eko untuk menyampaikan pada Wida kalau Prima sedang sakit.
"Tolong ya.. sampaikan pada Wida kalau Prima sakit." kata Eko tadi. "Sepertinya obat paling mujarab bagi Prima adalah Wida."
"Kok bisa begitu?" tanya Asti.
"Kata siapa Wida jadian sama Ryan?" Asti terkejut mendengar berita yang tidak benar itu.
"Bukannya Wida sudah jalan dengan Ryan?" pancing Eko.
__ADS_1
"Oh.. itu.. itu karena Ryan yang memaksanya. Bukan karena keinginan Wida." Asti menjelaskan.
Eko tersenyum.. baguslah kalau begitu, pikirnya, berarti tidak ada apa-apa diantara mereka berdua.
"Tolong ya As.. pokoknya kamu usahakan biar Wida mau menjenguk Prima hari ini.. dari kemarin dia ga mau makan.." Eko makin mengarang cerita. Asti mengangguk, "Ya!" katanya mantap.
Sesampainya dikelas, dilihatnya Wida yang sedang menulis catatan. Wida beneran tidak keluar kelas karena pikirannya yang sedang galau setelah tahu bahwa ada rumor tentang dirinya yang ketahuan jalan dengan Ryan. Sebagian anak malah bilang Wida selingkuh. Karena menurut mereka, Wida adalah pacar Prima.. tapi malah jalan dengan yang lain.
Asti menyodorkan bungkusan somay yang dibawanya begitu ia sampai di dekat Wida.
"Ini... makanlah dulu.." katanya, "ditraktir Eko tadi.." Asti duduk disamping Wida.
"Eko?" tanya Wida heran.
"Iya.. tadi ketemu di kantin. Katanya, Prima sedang sakit.. makanya tidak masuk dua hari ini.." cerita Asti yang langsung membuat Wida membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Apa..? Sakit?" tanyanya tidak percaya.
"Iya.. dan katanya ia sakit karena mu.."