
Prima tahu, kalau Nina sedang berusaha mengajaknya berbicara saat mereka berjalan menuju keruang BK. Tapi entah mengapa hatinya terlalu enggan untuk menanggapinya.
"Hai..." sapa Nina saat berusaha mensejajari langkahnya. "Apa kau masih marah padaku?"
Ia hanya melirik ke Nina sekilas, tanpa memberi jawaban.
"Maafkan aku, bila aku salah. Tapi aku sungguh tidak tahu bahwa temanku yang melakukannya. Tapi kau jangan khawatir... aku akan bertanggung jawab bila itu akan menyulitkanmu.."
Mendengar perkataan Nina, Prima menghentikan langkahnya, dan membuat Nina juga ikut berhenti.
"Bagaimana kalau itu menyulitkan Wida? Apa kau akan bertanggung jawab juga?" tanyanya dengan nada ketus tanpa melihat ke arah Nina.
Nina yang senang karena Prima akhirnya mau bicara dengannya, mengangguk dengan antusias.
"Pasti... aku pasti akan bertanggung jawab.." jawabnya cepat.
Prima tersenyum sinis mendengar jawaban Nina, dan tanpa komentar ia pun melanjutkan langkahnya.
Di dalam ruang BK pun Prima masih mengabaikan Nina. Ia tidak mempedulikan Nina yang memilih duduk disampingnya. Yang ia cemaskan hanya Wida seorang. Dan saat Wida datang, ia mencoba tersenyum untuk menenangkannya, walau Wida tidak meresponsnya..
"Baiklah.." kata Bu Shinta membuka percakapan saat semuanya sudah berkumpul dan duduk, "selamat pagi semuanya. Tentu kalian sudah tahu, mengapa kalian di panggil ke sini. Karena masalah ini sudah tersebar luas, bahkan sudah sampai terdengar oleh orang tua murid, maka Bapak Kepala Sekolah jadi ikut di hadirkan."
Bu Shinta berhenti sejenak, diperhatikannya wajah anak-anak didiknya yang ada didepannya. Mereka sepertinya terkejut saat mendengar bahwa masalah ini sudah di ketahui oleh orang tua murid.
"Kalian harus menceritakan apa yang terjadi kepada Bapak Kepala dengan sebenar-benarnya, tanpa ada yang di tutupi," lanjut Bu Shinta sambi mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya yang ternyata ponsel dan selembar foto dan meletakkannya di meja.
Semua mata tampak tertuju ke meja dimana barang yang merupakan bukti itu tergeletak. Awalnya ekspresi wajah para siswa tampak biasa saja, karena memang mereka telah melihat barang bukti itu sebelumnya. Namun wajah Anin tiba-tiba memucat saat Bu Shinta mengatakan bahwa ada rekaman cctv saat seseorang meletakkan foto itu di atas meja piket.
"Semuanya terekam jelas disini..."
Bu Shinta menekan tombol play pada ponselnya. Nina, Sifa dan Anin melihat rekaman tersebut dengan serius, karena mereka memang belum melihatnya. Wajah Anin yang pucat semakin memucat saat sosok Sofi terlihat jelas.
" Bukankah.. itu si anak kelas satu yang kemarin?" bisik Nina pada Sifa.
__ADS_1
"Sepertinya begitu... kalau tidak salah.. Sofi namanya," jawab Sifa dengan berbisik juga.
"Anin.." tiba-tiba Bu Shinta memanggil Anin. Sontak semua mata tertuju pada Anin.
Anin yang namanya disebut, langsung terlonjak kaget.
"I.. iya, Bu.." katanya terbata menjawab panggilan Bu Shinta, dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Kau kenal dengan siswi yang ada direkaman itu?" tanya Bu Shinta dengan tegas.
Napas Anin tertahan. Ia bingung, apakah ia harus mengakuinya atau tidak. Saat ini hati dan pikirannya sepertinya sedang bertentangan. Hatinya ingin mengakui bahwa ia mengenalnya, tapi pikirannya tidak ingin mengaku, bagaimana kalau ia mendapat masalah jika ia mengaku? Tapi... bukankah Sofi kemarin bilang kalau ia tidak mengatakan apa-apa?
"Tidak... aku tidak mengenalnya," akhirnya Anin memutuskan untuk berbohong.
Prima yang mendengarnya mendengus kesal, begitu pula Eko dan Asti, karena mereka telah tahu bagaimana hubungan Sofi dan Anin sebenarnya. Hanya Wida yang bersikap tenang, walau ia juga mengetahuinya.
Mendengar dengusan Prima Anin sedikit tersentak. Ditatapnya wajah-wajah yang tampak kesal itu. Kenapa mereka tampak kesal? Batinnya. Apakah.. sebenarnya mereka telah tahu? Tahu hubungannya dengan Sofi? Anin semakin gelisah.
"Yakin kau tidak kenal?" Bu Shinta kembali mengulangi pertanyaannya.
Nina dan Sifa memperhatikan perubahan raut wajah Anin. Nina mengerutkan alisnya. Apa ini? pikirnya. Apakah Anin mengenalnya? Kemarin ia bilang tidak mengenalnya dan hanya tahu kalau Sofi itu menyukai Prima. Hanya itu saja... tapi.. mengapa raut wajahnya seperti orang yang tertangkap basah?
"Jawab.. jangan hanya diam saja," celetuk Pak Anton yang sedari tadi hanya diam saja. "Asal kau tahu... anak itu bilang, kalau ia mengenalmu."
Akhirnya Anin mengangguk setelah menghela napas pelan. Sialan si Sofi, batinnya. Katanya tidak bilang apa-apa... bikin malu saja.
"Ia.. saya mengenalnya," katanya pelan.
"Apa kau yang menyuruhnya untuk meletakkan foto itu di meja piket?" tanya Bu Shinta.
Anin kembali mengangguk. Nina yang melihatnya dan telah mengetahui kebenarannya menatap Anin dengan pandangan marah. Ia merasa kesal, karena kemarahan Prima padanya yang tak beralasan ternyata di sebabkan olehnya. Dan perubahan ekspresi wajah Nina tidak luput dari perhatian Prima..
Bu Shinta mendesah lega, karena Anin akhirnya mengaku.
__ADS_1
"Kalau begitu kau ceritakan dengan benar.. apa yang kau lihat dan bagaimana foto itu bisa tersebar.. dengan jelas. Agar tidak ada salah paham dan tidak ada yang dirugikan karena perbuatanmu."
Anin terdiam sejenak, dilihatnya Wida sekilas yang juga tengah menatapnya.
"Waktu itu.. saya memang melihat mereka masuk kepenginapan itu... lalu saya memfotonya. Dan saya juga yang memasangnya di mading," kata Anin pelan.
"Kenapa kau lakukan itu?" tanya Bu Shinta.
"Waktu itu... saya hanya memfotonya saja, karena saya pikir... untuk apa mereka kepenginapan. Bukankah tidak pantas sepasang pelajar masuk kepenginapan.. hanya itu saja," tutur Anin sambil sesekali melihat kearah Prima dan Wida.
Wajah Prima nampak menahan amarah. Bila tidak ada kepala sekolah yang sedang mengawasi, mungkin ia telah menghardik Anin.
"Lalu Prima.." kata Bu Shinta beralih ke Prima. "Kenapa kalian berdua waktu itu masuk ke penginapan? Coba kau jelaskan ke Anin apa yang kalian lakukan di sana, agar ia tidak salah paham dan menduga yang tidak-tidak."
Prima yang mendengar perkataan Bu Shinta, langsung menatap Anin tajam.
"Memang kau pikir kami akan melakukan apa disana?" katanya dengan nada kesal. "Pikiranmu saja yang kotor, kalau menduga yang tidak-tidak."
"Prima!" kata Pak Anton menegur Prima yang sudah tampak emosi.
Prima menghela napas menahan emosinya. Untung saja Pak Anton menyadarkannya, kalau tidak mungkin ia sudah meledak.
"Asal kau tahu, kami hanya menumpang ke toilet saja disana! Bukan macam-macam!"
"Oh, ya? Apa kau yakin hanya numpang ke toilet? Tidak lebih dari itu? Siapa yang bisa memastikan kalau kalian tidak melakukan yang lain?" kata Anin tiba-tiba mendadak berani.
"Kau..!" Nina dan Prima berseru berbarengan.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" kata Nina dengan nada kesal mendahului Prima."Apa kau pikir Prima orang seperti itu?"
"Kenapa kau kesal padaku?" tanya Anin yang tidak menyangka kalau Nina akan membela Prima. "Aku melakukan ini untukmu! Aku ingin Prima kembali padamu! Bukankah itu yang kau inginkan?"
Mata Nina melebar. Wajahnya tampak memerah. Apa-apaan si Anin ini? Batinnya. Mengapa ia berkata seperti itu? Di depan Bu Shinta.. Pak Anton.. bahkan Kepala Sekolah? Dan.. juga Prima..
__ADS_1
"A... apa maksudmu? Aku tidak pernah meminta kau melakukan itu.. apalagi hal yang bisa merugikan Prima.."
Prima melihat ke arah Nina. Kali ini ia melihat ketulusan di mata Nina. Berarti.. Nina memang tidak bersalah... batinnya...