
Setelah Prima pergi dan sudah tak terlihat lagi, Wida langsung berjalan cepat memasuki gang rumahnya. Rumahnya pun lumayan jauh dari ujung gang dimana tadi Prima menurunkannya. Sesampainya di rumah ia langsung kekamarnya. Merebahkan tubuhnya dengan relaks setelah seharian dirasakannya tegang.
Wida tersenyum sendiri, saat terbayang wajah Prima yang sedang menyatakan perasaan sayangnya padanya. Hati Wida berbunga-bunga.. karena selama ini Prima hanya mengatakan kalau ia adalah pacarnya tanpa pernah mengatakan rasa sayang padanya. Aah.. desahnya. Akhirnya aku resmi pacaran dengan Prima, batinnya. Wida berguling-guling kekiri kekanan diatas ranjangnya karena senangnya.
Minggu pagi ini dirasa begitu cerah oleh Wida. Pagi-pagi sekali ia bangun, bahkan ibunya pun heran. Wida yang biasanya susah kalau dibangunin untuk berangkat sekolah, hari ini bangun dengan sendirinya. Padahal biasanya kalau minggu, Wida akan memanfaatkannya untuk bangun siang.
"Tumben," kata ibu. "Apa matahari salah terbit ya?"
Wida cuma mesam-mesem mendengar perkataan ibunya, sambil mencomot sepotong roti lapis buatan ibunya yang ada di meja makan.
Minggu pagi itu Wida benar-benar santai. Menonton film kartun kesayangannya sambil sarapan dan membaca-baca majalah lama koleksi ibunya. Ibunya yang memang selalu mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri, membiarkan Wida melakukan apa yang ia suka. Yang penting tidak menggagu pekerjaannya.. mungkin begitu pikir ibunya.
Pagi pun beranjak. Wida tertidur di depan tivi. Ibu yang melihatnya menggeleng-geleng. Tiba-tiba terdengar ada seseorang yang mengucapkan salam dari arah teras rumah. Ibu segera keluar untuk melihatnya sambil menjawab salam tersebut.
Saat ibu membuka pintu nampak seorang anak laki-laki berdiri disana.
__ADS_1
"Siapa ya?" tanya ibu.
Anak laki-laki itu tersenyum. "Saya Soni, bu. Teman Wida," jawabnya. "Wida ada, bu?"
Ibu tersenyum, "Ada.. tunggu sebentar ya.."
Ibu pun masuk kedalam meninggalkan Soni di teras.
"Wida!" kata ibu membangunkan Wida sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya. "Bangun! Ada yang mencarimu..!"
Wida hanya mengulet sebentar. Berbalik badan lalu btidur lagi.
"Aduuuh!" Wida mengaduh, "sakit ibuuuu.." katanya sambil mengelus pipinya yang kena cubit.
"Makanya kalau dibangunin langsung bangun doong" kata ibu membela diri. "Itu, ada yang cari di depan. Cepat sana keluar." Ibu meninggalkan Wida yang akhirnya terbangun dan duduk.
__ADS_1
Ada yang cari? pikirnya. Siapa? Asti? Atau.. Prima? Mata Wida melotot, ia terkejut sendiri saat memikirkan bahwa yang datang adalah Prima. Mana mungkin..? Wida segera berlari menuju ke teras. Dadanya berdetak cepat, saat menebak siapa kiranya yang datang.
Dari jauh dilihatnya punggung seorang anak laki-laki sedang berdiri diteras. Prima! Detak jantungnya makan cepat. Namun saat sampai diteras perlahan detak jantungnya melambat. Ternyata bukan sosok Prima. Dan saat sosok itu berbalik.. mulut Wida mengucap pelan, "Soni.." katanya dengan wajah sedikit kecewa.
Soni tersenyum, "Hai.." sapanya.
"Hai.. " balas Wida juga tersenyum untuk menyembunyikan kekecewaannya. "Duduklah," Wida mempersilahkan Soni duduk dikursi yang ada diteras rumah. Soni pun duduk. Tiba-tiba ibu datang membawa secangkir teh hangat untuk Soni. "Silahkan di minum nak Soni.." kata ibu ramah.
"Terima kasih, bu.." jawab Soni sambil mengangguk sopan. Ibu kembali kedalam setelah melirik Wida, dan Wida membalas dengan mendelikkan matanya karena ia tahu ibunya sedang menggodanya. Soni yang melihatnya hanya tersenyum.
"Ada apa kemari?" tanya Wida.
"Kenapa?" Soni balik bertanya, "aku tidak boleh ya, kerumahmu?"
Wida menggeleng. "Bukan begitu.. tumben ajah.." jawabnya.
__ADS_1
"Ingin main ajah. Jarak rumah kita tidak terlalu jauh.. dan kita teman satu sekolah.. aku juga belum pernah kerumahmu."
Wida tersenyum menanggapi perkataan Soni. Jarak rumah mereka memang tidak terlalu jauh.. hanya naik angkot sekali dan cuma sebentar juga sampai. Namun Wida hanya heran, karena tidak bisanya Soni main kerumahnya.