Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CLXXIV : Maafkan Aku Terlalu Menyayangi Mu...


__ADS_3

Soni hanya diam saja saat melihat Prima membawa Wida pergi. Dari parasnya terlihat jelas, kalau ia sangat kesal dengan sikap Prima, yang menurutnya sangat kekanakan. Lalu ia berdiri. Setelah pamit pada Eko, ia pun pergi meninggalkan kantin.


"Untung kau tidak seperti Prima," kata Asti. "Kalau kau seperti dia, sudah lama aku tingglkan."


Eko menoleh ke arah kekasihnya itu.


"Memangnya kenapa?" tanyanya heran.


"Terlalu kekanakan! Bikin pusing!"


Tanpa bicara Wida, mengikuti langkah Prima. Ia membiarkan Prima tenggelam dalam emosinya, karena ia tahu dialah yang membuat Prima seperti itu. Walau ia merasa sakit dipergelangan tangannya, karena eratnya pegangan Prima.


Ternyata Prima membawa Wida ke kebun sekolah, di mana mereka pernah menjalani hukuman disana. Sepanjang perjalanan, Prima hanya diam karena menahan emosinya. Belum hilang kesalnya karena Wida tidak mempercayainya, kini ditambah lagi Wida yang dengan mudahnya mengikuti Soni yang membawanya ke kantin.


Sesampainya di sana, Prima memillih tempat yang teduh, dimana terdapat sebuah bangku yang sudah tidak terpakai lagi.


"Duduklah," perintah Prima pada Wida.


Wida dengan wajah datar mengikuti perintah Prima, lalu duduk sambil mengelus pergelangan tangannya yang terasa sakit, karena pegangan Prima yang cukup kuat.


Prima sedikit terkejut saat melihat pergelangan tangan Wida yang memerah. Sepertinya ia tidak menyadari, kalau telah terlalu kuat saat menggandeng tangan Wida tadi. Ia menggigit bibir bawahnya seakan menyesali perbuatannya.


"Sakit, ya?" tanyanya pelan. "Maaf, ya.."


Wida mendongak melihat ke arah Prima. Dilihatnya ada rasa bersalah dari tatapan Prima.


"Kau, sih... Bikin aku kesal," kata Prima yang malah menyalahi sikap Wida. "Coba kalau kau tidak mengikuti Soni, aku tidak mungkin akan melakukan itu."


Wida menghela nafas.


"Aku tidak mengikuti Soni," bela Wida. "Aku memang ingin ke kantin. Lagi pula aku sudah mengajakmu, tapi kau tidak mau karena sedang bersama Nina. Jadi, kenapa kau kesal bila aku bersama Soni? Apa kau saja yang boleh bersama orang lain?"

__ADS_1


Wida tampak meluapkan emosinya yang ia pendam, dari saat ia melihat Prima bersama Nina.


Prima terdiam, matanya menatap tajam Wida, seakan tidak menerima perkataan Wida.


"Tapi kau tahu Soni menyukaimu. Apa kau mau, membuatnya salah paham lagi terhadapmu?"


Wida menghindari tatapan Prima.


"Kau juga tahu Nina menyukaimu.."


"Makanya aku menghindarinya dan menyusulmu," kilah Prima cepat, membuat Wida langsung terbungkam.


"Tapi kau malah duduk semeja dengannya."


Wida kembali menoleh ke arah Prima.


"Memangnya kau tidak? Bukankah saat aku ke kelasmu kau sedang duduk bersama Nina? Pakai pamer kalau Nina membelikanmu makanan segala," kata Wida tidak mau kalah.


"Kau ini... Sudah bisa melawanku sekarang," kata Prima gemas sambil mencubit pipi Wida pelan.


Wida pura-pura meringis kesakitan.


"Kau tadi membuat tanganku sakit, sekarang mencubit pipiku... Apa kau benar-benar sudah tidak suka lagi padaku?" tanya Wida pura-pura kesal.


Prima tidak dapat menahan senyumnya lagi. Ia tertawa melihat Wida yang sedang merajuk dengan wajah manjanya. Dihampirinya Wida dengan duduk disebelahnya, lalu meraih tangannya untuk menggenggam jemarinya.


"Justru aku melakukan itu karena aku sayang padamu. Kalau aku tidak menarikmu tadi, mungkin Soni akan melakukannya lebih dulu. Dan aku mencubitmu, karena aku gemas, melihatmu yang cemburu sama Nina," kata Prima lembut.


"Maafkan sikapku padamu, hari ini," kata Prima lagi dengan nada menyesal, "aku hanya kesal saja karena kau tidak percaya padaku, tapi kau percaya pada Ryan. Kau tahu aku juga tidak menyukai Ryan."


Wida memperhatikan jemari Prima yang menggenggam lembut tangannya.

__ADS_1


"Ryan hanya berniat membantuku. Itu saja. Tapi aku rasa, kau bukan hanya tidak menyukai Soni dan Ryan. Sepertinya kau tidak menyukai semua pria yang mendekatiku."


Prima tersenyum. Entah mengapa ia tidak bisa kesal atau marah terlalu lama pada Wida. Wida sepertinya benar-benar telah mengikat hatinya, hingga ia amat menyayanginya dan tidak ingin menyakiti hatinya.


Direngkuhnya tubuh Wida yang mungil kedalam pelukkannya. Dikecupnya kening Wida dengan lembut.


"Kau tahu aku menyayangimu, aku tak ingin cowok mana pun mendekatimu. Kau sudah aku patenkan hanya milikku seorang."


Wida hanya terdiam mendengar perkataan Prima. Hatinya merasa tenang mengetahui Prima tak lagi marah padanya.


"Prima.." kata Wida pelan.


"Apa.." Prima menjawab panggilan Wida mesra.


"Aku lapar..."


"Kalian sudah berbaikan?" tanya Asti penasaran, saat mereka ada dikelas mengikuti pelajaran berikutnya.


Wida hanya mengangguk, karena ia sedang fokus ke catatannya.


"Ia tidak mempermasalahkan kejadian saat kau dan Ryan bersama?" cecar Asti.


Dan kali ini Wida menggeleng.


"Wah... Hebat! Aku pikir ia akan bersikap kekanakan dan marah padamu," kata Asti setengah berbisik, takut terdengar oleh guru yang sedang mengajar.


"Ia sudah mengerti, kalau Ryan hanya ingin membantuku. Asal jangan lebih dari itu, katanya," kata Wida menjelaskan.


Waktu pun berlalu, bell tanda pulang juga telah berbunyi. Nina tampaknya memperhatikan perubahan yang terjadi pada diri Prima. Prima yang tadi pergi saat istirahat dengan wajah yang tampak marah, dan kembali dengan wajah yang ceria. Bahkan sampai jam berakhir pun, senyum cerah selalu terlihat di wajahnya. Terlihat jelas kalau ia sepertinya sudah akur kembali dengan Wida. Dan itu membuat Nina kecewa...


Prima yang kembali ceria, melesat cepat begitu bell pulang berbunyi, meninggalkan Eko yang berjalan perlahan di belakangnya. Eko yang melihatnya, hanya menggelengkan kepalanya dengan sikap sahabatnya yang mudah naik turun emosinya itu dengan senyum di bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2