
Wida yang sudah tidak bisa membendung air matanya, membating pintu kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Tangisnya pun pecah. Rasa kesal, marah, dan sedih bercampur di balik bantalnya. Ia kecewa dengan sikap ibunya yang memihak Soni, tanpa peduli dengan perasaannya. Ibu bisa menerima Soni, tapi kenapa tidak bisa menerima Prima.
Tak lama terdengar ketukan dari pintu kamarnya. Tanpa menunggu jawaban darinya, pintu itu terbuka. Terdengar langkah ibu yang mendekati tempat tidurnya.
"Ibu tidak suka dengan kelakuanmu! Meninggalkan Soni sendirian dan jalan dengan Prima. Kau pikir Soni tidak punya hati? Kau pikir ia tidak akan sakit hati?" Ibu langsung memberondong Wida dengan omelannya.
"Kau tahu ibu tidak suka dengan Prima. Tapi kau masih saja jalan dengannya. Ia membawa pengaruh buruk padamu! Apa kau tidak tahu itu?"
Wida yang masih menangis terbangun lalu duduk di tepi ranjang.
"Terus... Ibu pikir Wida tidak punya hati? Prima tidak punya hati?" Wida menjawab ibunya sambil menyeka air matanya.
"Wida menyukai Prima... dan Prima menyukai Wida. Dan Soni tahu itu. Tapi mengapa Soni masih saja datang kesini. Ibu tahu bagaimana perasaan Prima saat melihatnya?"
__ADS_1
Ibu menghela napas dengan kesal. Dimatanya tetap Prima itu bukan anak yang baik bagi Wida. Namun ia tidak ingin berdebat dengan anak semata wayangnya. ia tidak ingin Wida jadi ngambek padanya hanya karena masalah sepele seperti ini.
"Pokoknya ibu tidak mau tahu! Ibu tidak inginS kau dekat atau berhubungan lagi dengan Prima. Mulai besok Soni yang akan mengantar jemput kau pergi dan pulang sekolah." Ibu mengakhiri percakapan dan keluar dari kamar meninggalkan Wida yang makin kesal atas sikap ibunya.
Saat akan melangkah menuju ruang tengah, Ibu mendengar teriakan Wida.
"Kalau begitu aku tidak mau sekolah!"
"Padahal aku sudah memperingat agar jangan mengganggu yang bukan miliknya," kata Eko sambil memicingkan matanya, "tapi sepertinya ia mengabaikanku."
"Aku tidak ingin team kita hancur... tapi kalau ini sudah menyangkut Wida, aku tidak bisa tolerir lagi. Iwan bilang padaku, kalau sabtu depan kita ada tanding lagi sama SMA Harapan. Menurutmu Soni akan ikut?"
"Entahlah," Eko mendesah, "aku harap ia bisa membedakan, mana urusan pribadi dan mana urusan team."
__ADS_1
"Lalu... menurutmu, apa yang harus aku lakukan dengan hubungan kami? Tampaknya ibu Wida lebih memihak Soni," kata Prima galau.
"Acuhkan saja si Soni..." Asti ikut bicara, "Ibu sangat memanjakan Wida, walau pun ia terlihat keras, tapi hatinya gampang luluh. Kau jemput saja dia besok pagi. Tebal muka sedikit, kalau bisa kau harus lebih pagi dari Soni."
"Yah aku setuju," Eko mendukung saran Soni, " tinggal kita lihat, Wida pilih kamu... atau Soni."
"Yang penting kau jangan sampai membuat kesalahan lagi. Ibu Wida bila sudah sakit hati... bisa mengerikan sekali!" Asti memperingatkan.
Prima manggut-manggut, yah benar juga kata Eko dan Asti, ia tidak boleh patah semangat hanya karena tidak mendapat dukungan dari Ibu Wida. Toh, yang penting hati Wida hanya untuknya.
Tiba-tiba Prima menyadari sesuatu.
"Tunggu, sepertinya kalian belum menjawab pertanyaanku... sejak kapan kalian Jadian?"
__ADS_1