Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LXXVIII : Aku Ingin Kita Jujur...


__ADS_3

Asti terkejut saat menerima telepon dari nomor ibu Wida. Bukankah Wida sudah punya ponsel? Mengapa ia memakai ponsel ibunya. Dan ternyata yang menelpon memang ibunya Wida.


Dan ia lebih terkejut lagi saat mendengar ibu Wida meminta nomor ponsel Wida. Dari mana ibunya Wida bisa tahu kalau Wida memiliki ponsel? Bukankah Wida pernah bilang, kalau ibunya jangan sampai tahu kalau Wida punya ponsel. Wida takut ibunya akan marah, karena ponsel itu pemberian Prima. Wida tidak ingin Prima terkena masalah lagi karenanya.


Setelah memberi nomor Wida pada ibunya, Asti langsung mengontak Wida. Ponselnya terhubung, namun lama Wida tidak mengangkatnya. Dan dengan sabar ia menunggu. Andai ia tahu mengapa Wida tak cepat mengangkatnya. Huft..


Wida yang terkejut karena ternyata Asti yang menghubunginya menatap Prima. Prima mengambil ponsel Wida. Setelah melihat nama Asti dilayar ponsel Prima kembali menyerahkannya pada Wida.


"Jawablah, mungkin penting..." katanya.


Wida menggeser gambar hijau pada ponselnya dan menjawab panggilan Asti. "Ya... Ada apa?"


"Wid! Tadi Ibumu meminta nomor ponselmu!" seru Asti diseberang sana. "Bagaimana ia tahu kalau kau punya ponsel?"


Wida terperangah. Ia terkejut. Oiya Ibu! Batinnya. Rupanya ia baru ingat akan ibunya yang ia tinggal dirumah... bersama Soni!


"Wid... kau masih disana?"

__ADS_1


"Ya..."


"Menurutmu... bagaimana ibumu bisa tahu?" tanya Asti penasaran.


"Aku... aku dirumah Prima. Nanti aku ceritakan..."


Wida menutup ponselnya. Ditatapnya Prima kembali yang masih duduk disampingnya. Dan ponselnya tiba-tiba kembali berdering. Wida terkejut dibuatnya. Tertera kata 'Ibu' dilayar ponselnya, yang membuat matanya melebar. Dengan ragu, Wida pun kembali menggeser gambar hijau untuk menjawab panggilan ibunya.


Ibu mencoba berkali-kali menghubungi ponsel Wida. Soni yang memperhatikannya hanya diam menunggu. Dan usaha Ibu tidak sia-sia. Setelah lama menunggu akhirnya ia mendapat jawaban.


"Ya... halo Ibu..." suara Wida terdengar dari seberang sana.


"Dimana kamu?" suara ibu terdengar kesal diseberang sana.


"Aku... " Wida menatap Prima, ia tidak ingin mengatakan kalau ia ada di tempat Prima.


"Cepat pulang!" bentak Ibu tanpa menunggu jawaban Wida. Dan ibu mematikan ponselnya.

__ADS_1


Wida menghela napas.


"Ibu menyuruhku pulang..."


"Ya sudah... aku antar" Prima bangun dari duduknya. Diulurkannya tangannya untuk meraih tangan Wida. Wida menyambutnya dan berdiri.


Soni tersenyum menang, saat melihat ibu Wida mengakhiri ponselnya. Ia merasa Wida pasti pulang, karena tidak mungkin ia mengabaikan perintah ibunya.


"Maafkan kelakuan Wida ya, nak Soni..." kata Ibu merasa tak enak pada Soni.


"Tidak apa-apa, bu," jawab Soni sambil tersenyum.


Wida merangkul tubuh Prima erat agar ia tak jatuh, karena Prima membawa motornya dengan kecepatan yang lumayan kencang. Dan tak lama kemudian akhirnya mereka tiba didepan rumah Wida.


Prima sengaja menurunkan Wida di depan rumahnya, bukan di depan gang lagi. Ia ingin berterus terang kepada ibu Wida mengenai hubungannya dengan Wida. Apapun resikonya ia harus jujur dan tidak ingin main belakang lagi. Walau wajah Wida tampak cemas karenanya.


Wida memasuki halaman rumahnya dengan di ikuti Prima di belakangnya. Dengan jantung yang berdegub cepat ia membuka pintu rumahnya.

__ADS_1


Ibu dan Soni melihat ke arah pintu yang terbuka. Nampak Wida berdiri dengan seseorang dibelakangnya. Ibu berdiri dari duduknya begitu mengetahui siapa sosok yang ada di belakang Wida dengan wajah tak senang...


__ADS_2