
Wida yang sedang kalut, terkejut saat ada seseorang yang menarik tangannya dan membuat langkahnya terhenti. Reflek ia menoleh dan melihat si penarik tangannya.
"Ryan..." desahnya pelan saat mengenalinya. Entah mengapa ia merasa tenang saat melihat Ryan berdiri di hadapannya. Mungkin karena selama ini Ryan selalu ada saat ia dalam masalah. Tanpa dapat membendung lagi isaknya, tangisnya pun pecah di hadapan Ryan.
Ryan yang masih terkejut karena melihat mata Wida yang basah oleh air mata, semakin panik saat Wida menangis terisak di hadapannya. Di rangkuhnya tubuh Wida yang bergetar karena tangis ke dalam pelukkannya. Di biarkannya Wida menangis di dadanya sambil menepuk lembut bahu Wida untuk menenangkannya.
"Ada apa?" tanyanya lembut saat Wida mulai tenang.
Wida hanya menggeleng. Ia takut bila ia membuka mulutnya, hanya suara tangis saja yang keluar dari sana.
Ryan yang mengerti dengan keadaan Wida yang sedang terguncang, mengajak Wida untuk ikut dengannya.
"Sudahlah.. lebih baik kakak ikut aku sekarang," katanya pelan, "tidak mungkin kan kakak pulang dalam keadaan seperti ini?"
Bagai terhipnotis, Wida yang sedang kalut itu hanya diam saja saat Ryan menarik tangannya dan mengajaknya masuk kedalam mobilnya.
"Pak.. aku tidak akan kesekolah hari ini. Antar aku ke rumah tante Linda," kata Ryan memerintah Pak Atmo.
Pak Atmo yang mendengar perintah tuan mudanya hanya melihatnya sekilas melalui kaca spion depan dan menghela napas pelan. Ia tidak pernah bisa menolak keinginan tuannya itu, karena tahu watak Ryan yang keras. Dan dengan menambah kecepatannya, ia pun melewatkan tempat yang seharusnya ia berhenti disana.
Prima mengetuk pintu ruang kepala sekolah setelah mengatur nafasnya yang tadi memburu karena emosi. Setelah terdengar perintah untuk masuk, ia pun membuka pintu dan melangkah masuk. Sang kepala sekolah yang sedang duduk di balik meja, menatap Prima tanpa ekspresi.
"Ada apa?" tanyanya datar.
Prima yang berdiri di samping meja menatap Pak Subarja dengan tajam karena menahan emosi.
"Saya mau minta keadilan, Pak!" katanya lantang. "Kenapa hanya Wida yang di rumahkan, sedangkan saya tidak? Kan, kami kepenginapan itu bersama-sama. Bukan hanya Wida seorang..!"
Pak Barja menyandarkan tubuhnya kesandaran bangku. Ditatapnya Prima yang sedang emosi dengan sikap tenang.
"Wajah mu tidak terlihat jelas di foto itu, dan itu bisa siapa saja," katanya membuat opini sendiri. "Bapak tidak ingin orang tuamu tahu akan hal ini, karena Bapak sangat menghormati orang tuamu."
Yah, orang tua Prima memang memiliki pengaruh yang besar disekolahnya. Ayahnya adalah donatur terbesar dan juga merupakan relasi Pak Robert, pemilik sekolah ini. Ia tidak ingin masalah ini merusak hubungan baik mereka. Apalagi ibu Prima, ia merupakan ketua komite para orang tua murid disekolahnya. Walau ia sering berada di luar kota, ia selalu datang bila ada rapat atau urusan disekolah. Untung saja ia bisa menutup rapat masalah ini, agar tidak sampai terdengar olehnya. Hanya saja, ada anggota komite yang mengancamnya, akan menyebar luas masalah ini bila ia tidak mengeluarkan Wida..
Prima makin menatap nanar Pak Barja. Ia paling benci bila orang tuanya disangkut pautkan dengan dirinya apalagi masalahnya.
"Kalau begitu, aku yang akan memberitahu orang tuaku!" ancam Prima, "Dan aku akan meminta mereka menyelesaikan masalah ini!"
Pak Barja langsung duduk dengan tegak saat mendengar perkataan Prima yang sepertinya mengancamnya.
"Kau..." Pak Barja seperti ingin mengatakan sesuatu, namun terputus karena Prima sudah keburu keluar dengan rasa emosinya.
__ADS_1
Tanpa mempedulikan teriakkan kepala sekolahnya, Prima berlalu keluar dengan menahan emosinya. Dengan langkah cepat ia ketempat dimana ia meminta Wida untuk menunggunya. Namun betapa terkejut dan kecewanya ia, saat melihat Wida tidak ada disana.
Prima berpikir mungkin Wida ke kantin, dan ia pun segera berlari ke arah kantin. Dan ia juga tak menemukannya disana. Setelah bertanya dan mencari sejauh matanya memandang namun tidak membuahkan hasil, akhirnya ia memutuskan untuk keparkiran.
Setelah ia sampai disana, ia hanya menemukan Asti dan Eko yang sepertinya sedang menunggu dirinya dan Wida.
"Apakah kalian melihat Wida?" tanyanya pada keduanya.
Asti dan Eko menggeleng setelah keduanya saling pandang dengan bingung.
"Wida tidak kemari," kata Asti yang di dukung oleh gelengan kepala Eko.
"Bukankah kalian tadi bersama?" tanya Eko melanjutkan pertanyaan Asti.
"Iya.. tadi kami bersama. Tapi aku meninggalkannya di depan ruang BK, dan menyuruhnya untuk menungguku disana," jawab Prima khawatir, "tapi saat aku kembali, ia sudah tidak ada.."
"Apa kau sudah menelponnya?" tanya Eko, yang langsung membuat Prima merogoh tasnya.
Setelah menemukan ponselnya, Prima langsung menghubungi Wida. Namun sepertinya ponsel Wida sedang tidak aktif.
"Sepertinya.. Wida mematikan ponselnya.." kata Prima lesu, setelah berkali-kali menghubungi Wida namun hanya nada tidak aktif yang didengarnya.
Asti juga mencoba menghubungi Wida dan mengirim pesan. Namun sama seperti Prima, ia sama sekali tidak mendapat jawaban dari ponsel Wida.
Prima menghampiri motornya.
"Sudahlah.. aku akan mencarinya kerumahnya. Mungkin ia pulang lebih dulu karena sedih setelah mendengar keputusan kepsek."
"Memangnya apa keputusan kepsek?" tanya Eko penasaran.
"Wida akan dirumahkan.. sedangkan aku.. hanya kena surat peringatan begitu juga dengan Anin dan Sofi," kata Prima sambil mengenakan helmnya.
"Kenapa begitu? Itu tidak adil!" seru Asti agak kesal mendengar perkataan Prima. "Seharusnya kau juga di rumahkan! Kenapa hanya Wida seorang? Bukankah jelas-jelas kau juga mengakui bahwa kau juga ikut masuk kepenginapan itu?!"
Prima sudah siap diatas motornya dan menyalakannya.
"Entahlah.. sepertinya Pak Barja melakukannya atas permintaan seseorang yang cukup berpengaruh. Dan aku juga akan melakukan hal yang sama untuk mengubah keputusannya itu."
Dan tanpa bicara apa-apa lagi Prima meninggalkan Eko dan Asti, yang tidak mengerti apa maksud perkataan temannya itu.
Ryan benar-benar membawa Wida kerumah tantenya. Rumah yang cukup besar dan sepi, karena tantenya hanya tinggal seorang diri dan belum berkeluarga. Tante Linda adalah adik dari ibunya.
__ADS_1
Saat Ryan dan Wida masuk kerumah besar itu, tampak seorang wanita yang sedang duduk di ruang tamu dan membaca sebuah majalah. Wajahnya yang menunduk langsung terangkat saat melihat kedatangan Ryan dan Wida. Senyumnya pun mengembang. Sepertinya ia merasa senang dengan kedatangan Ryan.
"Siang, Tante..." sapa Ryan dengan manis saat melihat tantenya yang tersenyum padanya.
"Heeii.. siapa ini? Tumben kau datang kemari.." kata Tante Linda menyambut Ryan yang langsung datang mengahampirinya dan duduk disampingnya.
Wida yang merasa canggung, hanya berdiri menyaksikan keakraban antara keponakan dan tantenya itu, tidak jauh dari mereka.
Ryan yang melihatnya, langsung menyuruh Wida duduk di sofa yang ada disampingnya.
"Duduklah," katanya pada Wida.
Lalu ia menoleh ke arah tantenya, "Ini Wida, Tante, kakak kelasku.." katanya memperkenalkan Wida pada tantenya.
Tante Linda tersenyum ramah pada Wida, yang mengangguk hormat padanya.
"Apakah dia pacarmu?" tanya Tante Linda tanpa basa-basi membuat wajah Wida memerah.
Ryan tersenyum.
"Belum, Tante. Mungkin nanti.." kata Ryan dengan nada menggoda membuat wajah Wida semakin memerah.
Tante Linda yang melihatnya tertawa renyah.
"Kau pasti sangat spesial bagi Ryan," kata Tante Linda setelah tawanya berhenti, "Prima tidak pernah membawa teman wanitanya kemari."
Wida melihat ke arah Ryan sekilas, lalu menunduk menyembunyikan wajahnya yang dirasanya memanas.
"Apakah ada sesuatu yang membuatmu datang kemari?" tanya Tante Linda sambil menatap Ryan, menebak maksud kedatangan keponakannya itu kerumahnya.
Ryan menghela nafas pelan.
"Iya, Tante," jawabnya pelan. "Kak Wida sedang ada masalah, ia butuh tempat untuk menenangkan diri. Dan aku merasa rumah Tante adalah tempat terbaik baginya.."
Prima sudah sampai di depan rumah Wida yang terlihat sepi. Dengan suara yang cukup lantang ia mengucapkan salam. Dan sepertinya seseorang menjawab salamnya, dan membuka pintu, yang ternyata Ibunya Wida.
"Siang, Bu," sapanya hormat. "Apakah.. Wida sudah pulang?"
Alis Ibu Wida langsung berkerut mendengar pertanyaan Prima.
"Bukankah ia selalu pulang bersamamu?" tanya Ibu Wida heran. "Kenapa kau bertanya apakah Wida sudah pulang atau belum? Apakah.. terjadi sesuatu pada Wida?"
__ADS_1
Wajah Ibu Wida berubah cemas. Ia tahu belakangan ini putrinya selalu bersama Prima, baik pergi atau pulang sekolah. Tapi.. kenapa hari ini Prima mencarinya kesini? Apa benar kalau terjadi sesuatu pada putrinya itu?
Prima agak terkejut dengan pertanyaan Ibu Wida. Jelas sekali kalau Wida belum pulang kerumahnya. Lalu... kemana Wida?