Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LXXXIII : Kau Juga Mencemaskanku...


__ADS_3

Sifa terpana melihat rumah Prima yang cukup besar itu. Ruang tamu yang luas yang dipenuhi pernak pernik yang mewah. Dari ujung ke ujung semua tampak mewah. Dari arah dalam datang seorang wanita setengah baya membawa baki yang berisi minuman.


"Silahkan... " katanya ramah.


"Terima kasih," Sifa tersenyum menanggapinya.


Prima datang dan langsung duduk di seberang Sifa. Ia berganti pakaian dengan t-shirt polos berwarna navy di padukan dengan drawstring krem yang terlihat sangat cocok ditubuhnya. Sifa sempat terpana melihatnya, namun ditepisnya perasaan itu karena ingat tujuannya datang ke rumah Prima.


"Kau sungguh terlalu terhadap Nina. Kau tidak memikirkan perasaannya. Ia sudah menyukaimu sedari dulu. Masa kamu tidak menyadarinya?" Sifa mengungkapkan apa yang ia pendam dari tadi setelah mengantar Nina pulang.


Prima menghela napasnya, ia memandang Sifa yang sepertinya sedang kesal dengannya.


"Aku tahu... tapi aku menganggapnya sudah seperti saudara, tidak lebih."


"Mana ada saudara antara laki-laki dan perempuan bila tidak sedarah. Persahabatan saja bisa berubah jadi pacaran. Apalagi kalian, yang sudah dekat dari kecil," kata Sifa antusias.


"Sudahlah... nanti aku bicara dengannya. Aku bisa menangani Nina," putus Prima.

__ADS_1


Nina tampak tak bergairah di kamarnya. Hatinya masih sakit dengan apa yang terjadi disekolah tadi. Ia tak menyangka bahwa Prima benar-benar memilih Wida daripada dirinya. Lalu apa arti kebaikan dan perhatian Prima selama ini? Hanya sebagai sahabat? Saudara? Lalu untuk apa Prima lama menjomblo? Bukankah untuk menunggu dirinya? Atau... sebenarnya Prima menunggu dirinya, namun Wida menikungnya? Ah... Banyak sekali pertanyaan dalam hatinya yang ia ingin tanyakan pada Prima. Andai saja Prima ada disini....


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Dilla, adik semata wayangnya, melongokkan kepalanya di pintu yang setengah terbuka.


"Ada kak Prima," katanya singkat dan kemudian menghilang lagi dari balik pintu.


Prima? Batinnya. Baru saja ia berharap Prima ada disini, dan ternyata ia datang! Apakah ini jodoh? Nina kembali semangat dan langsung menghambur keluar kamar.


Dilihatnya Prima duduk di ruang tamu. Wajahnya yang tampan tersenyum padanya. Lihatlah... siapa yang tidak terpesona dengan senyumnya?


Nina duduk disofa panjang dihadapan Prima. Wajahnya yang tadi ceria saat mendengar Prima datang, di ubahnya menjadi sendu. Agar terlihat kalau ia sedang sedih dan mendapat simpati dari Prima. Dan usahanya tidak sia-sia. Prima datang menghampirinya, dan duduk disamping Nina.


Nina tidak langsung menjawab. Ia hanya melirik Prima sekilas.


"Aku pikir, kau tahu aku kenapa..." jawabnya pelan tak lama kemudian.


"Maafkan aku... aku tak bermaksud menyakitimu, " kata Prima sambil memegang lengan Sifa. "Kau tahu, aku tak akan pernah menyakitimu. Kau sudah seperti saudara bagiku."

__ADS_1


Nina yang mendengarnya tampak kesal. Saudara? Nina menepis tangan Prima yang memegang lengannya.


"Sudah aku katakan aku tidak mau jadi saudaramu. Apalagi sahabat."


Prima menghela napas mencoba bersabar dengan sikap Nina.


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Kau tahu aku selalu menyukaimu... dari dulu. Tidak bisakah kau balas rasa sukaku padamu?"


Prima menatap lembut Nina.


"Aku juga menyukaimu. Dari dulu... sampai sekarang. Tapi hanya sebatas sahabat... tidak lebih. Dulu aku pernah berpikir kalau aku menyukaimu... bukan sebagai sahabat, tapi setelah bertemu Wida, ternyata rasa sukaku berbeda," kata Prima pelan takut menyakiti Nina.


"Apa maksud berbeda?"


"Sukaku pada Wida berbeda... Bila sebentar saja tidak bertemu, aku rindu dia. Bila dia bersama laki-laki lain... aku pasti marah. Aku seperti ingin melakukan apa saja dengan dia. Membuat dia senang... terta..." kata-kata Prima terpotong, karena Nina tiba-tiba berdiri.

__ADS_1


"Bukankah kau seperti itu juga padaku?" kata Nina dengan kesal, "lihat! Kau langsung datang saat mendengar aku sakit! Bukankah itu suatu perhatian? Kau mencemaskanku?"


__ADS_2