Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LIV : Apakah Dia...


__ADS_3

Ibu yang terlihat masih marah menghela napas dengan kesal.


"Ibu pikir temanmu hanya Asti", kata ibu setelah reda amarahnya. "Kau tidak pernah macam-macam seperti ini. Awas, jangam sampai ibu dengar kau jalan lagi sama Prima. Apalagi sampai bolos!"


Ibu beranjak dari duduknya, dan tanpa melihat ke arah Wida yang tertunduk ia pun meninggalkan Wida.


Wida masuk ke kamarnya dengan langkah gontai begitu ibu meninggalkannya. Ancaman ibunya tentang Prima masih terngiang di telinganya. Hhhh... desahnya. Bagaimana ini.. pikirnya, ibu pasti amat membenci Prima. Padahal ia baru saja menjalin hubungan dengan Prima. Dihempaskannya tubuhnya yang terasa lelah ke tempat tidur. Matanya menerawang mengingat kejadian hari ini. Tiba-tiba bibirnya tersenyum. Walau bagaimana pun, baginya hari ini terasa indah dan menyenangkan. Walau ia harus menuai omelan dari ibunya.


Dengan gerakan cepat ia langsung duduk dan meraih tas sekolah yang tak jauh dari sisinya. Dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya, ia keluarkan satu-satu barang yang ia dapatkan dari Prima. Boneka panda kecil dari mesin penjepit, dan ponsel android yang masih lengakap dengan kardusnya. Dengan cepat ponsel dikeluarkannya dari kardus, kemudian diaktifkannya. Dan saat ponselnya telah aktif, dilihatnya begitu banyak pesan dan panggilan yang masuk dari Prima. Rupanya Prima langsung menghubungi Wida, saat ia sampai di rumahnya.


Wida pun segera membalas pesan Prima.


'Maaf ya.. aku baru lihat pesanmu..'


Wida menunggu balasan dari Prima, dengan wajah sedikit tegang.


'Ya, ga apa..' balas Prima. 'Kamu tidak apa-apa kan? Ibumu.. apakah ia marah?'


Wida tersenyum lega karena Prima membalas pesannya. Ia takut Prima akan salah paham karena ia mengabaikan pesan serta panggilan darinya.

__ADS_1


'Ibuku tidak marah, hanya kesal sedikit.'


Wida terpaksa berbohong. Tidak mungkin kan ia mengatakan yang sebenarnya kalau ibunya mengamuk tadi.


'Syukurlah' balas Prima. 'Aku telpon ya'


'Jangan.. nanti ibu dengar' ketik Wida cepat.


"Widaa!" terdengar ibu memanggilnya, "makan!"


"Iya buu!" jawab Wida cepat agar ibunya tidak marah lagi. Wida tersenyum kecil. Begitulah ibunya, semarah apapun masih saja perhatian.


'Sudah ya, ibu menyuruhku makan.'


'Iya', balas prima singkat.


Wida merapikan barang-barang yang bergeletakkan di tempat tidurnya. Setelah rapi ia pun bergegas keluar kamar.


Prima, yang begitu sampai di rumahnya, langsung menuju ke kamarnya. Mengabaikan sapaan mbok Uti yang menyambutnya. Di ambilnya ponsel yang ada di dalam tasnya. Setelah meletakkan tas sekolahnya di atas meja belajar, ia pun mendaratkan tubuhnya keatas tempat tidur. Dan langsung melakukan panggilan ke nomor Wida. Sekali... dan tak terjawab. Lalu di ulanginya beberapa kali, dan tetap tak terjawab. Wajah Prima terlihat cemas. Mungkinkah ibunya memarahinya? Prima menerka-nerka apa yang terjadi pada Wida.

__ADS_1


Ditulisnya beberapa pesan untuk Wida.


'Hai.. Kau tak apa-apa?'


'Segeralah kau telepon aku bila kau baca pesanku.'


'Atau balas pesanku.'


'Aku menunggu.'


Lama Prima memandangi ponselnya, menunggu balasan atau panggilan dari Wida.


Kesal tak kunjung ada jawaban dari Wida, dilemparnya ponselnya dengan sembarang.


Prima memejamkan matanya. Terbayang dalam pikirannya saat ia dan Wida jalan-jalan di mall tadi. Seulas senyum tergambar di wajahnya yang seketika berubah ceria. Terlihat jelas kalau ia merasa senang dengan apa yang ia alami hari ini. Yah.. kencan pertamanya berjalan sukses. Wida pun terlihat bahagia saat bersamanya. Setelah hari-hari yang menyebalkan, yang sebelumnya ia lalui karena orang-orang yang ada disekeliling Wida. Orang-orang yang berusaha mendekati Wida. Bahkan temannya sendiri, Soni.


Hehh.. Prima mendesah saat teringat Soni. Baginya Soni teman yang baik, solidaritasnya terhadap teman cukup tinggi. Dimana ia atau teamnya membutuhkan kehadirannya, ia selalu siap sedia. Kehadirannya selalu bisa membawa suasana menjadi ceria. Namun.. akan kah ia masih seperti itu dengan adanya kejadian ini?


Tiba-tiba ponsel Prima berdering pendek, menandakan ada pesan yang masuk. Prima langsung meraih ponselnya yang ternyata terlempar kesudut tempat tidurnya. Rupanya pesan masuk dari Wida. Prima dengan cepat membacanya dan segera membalasnya. Saling berbalas, sampai akhirnya Wida mengatakan bahwa ibunya menyuruhnya makan. Prima tersenyum dan mengakhiri pesannya dengan mengetik kata 'iya'. Syukurlah, batinnya, berarti ibu Wida tidak marah pada Wida. Prima mendesah lega.

__ADS_1


Baru saja Prima akan meletakkan poselnya, tiba-tiba dering nada panggilnya berbunyi. Karena mengira Wida yang menelponnya, tanpa melihat lagi, ia langsung menjawabnya, "Iya Wida.." katanya, "ada apa?" "Ini aku.." jawab suara diseberang sana yang ternyata Eko. Prima langsung mengenali suara sahabatnya, "Oh.. aku kira Wida.. ada apa, Ko?" "Kau bolos kemana tadi sama si Wida?" tanpa basa basi Eko langsung mengintrogasi Prima. Prima tercengang. Bagaimana sahabatnya itu bisa tahu kalau ia membolos..? Bersama Wida pula! Terlintas wajah Soni di matanya.. apakah dia?


__ADS_2