
Prima ternyata lebih tenang dari Wida. Ia menunggu si penelepon gelap itu dengan sabarnya. Dan kesabarannya membuahkan hasil. Terdengar diseberang sana menerima panggilannya, namun tidak ada suara yang terdengar.
Lama Prima terdiam. Dan diseberang sana juga terdiam. Wajah Prima mengeras, rupanya ia sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi.
"Hei!" serunya. "Kau jangan macam-macam atau mengancam ke nomor ini! Kau pikir bisa menghancurkan hubungan kami?!"
Lalu terdengar nada bahwa panggilan telah diputus. Rupanya si penerima tidak ingin berbicara dengan Prima. Dengan kesal Prima meletakkan ponsel Wida di meja.
"Aku benar-benar penasaran!" seru Prima kesal.
Tiba-tiba ponsel Wida berbunyi. Ada pesan masuk. Prima mengambil kembali ponsel yang baru saja ia letakkan. Ekspresi wajah Prima terlihat semakin kesal setelah membaca pesan tersebut.
"Apa isinya?" tanya Wida penasaran.
Prima tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan ponsel itu ke tangan Wida. Wida membacanya, dan wajahnya tampak terkejut. Hanya satu kata, tapi mengandung makna mengancam.
'Pengadu!'
__ADS_1
Wida menatap Prima. Ia tahu pesan itu di tujukan kepadanya. Terlihat jelas bahwa si pengirim pesan itu marah karena Wida membertahu masalahnya pada Prima. Kini hatinya semakin resah. Apakah 'ia' akan melakukan sesuatu pada dirinya dan Prima?
"Sudahlah," kata Prima menenangkan Wida yang tampak cemas, sambil mengambil ponsel Wida dan menaruhnya kembali di meja. "Kau tidak usah terlalu memikirkan masalah ini. Kau tidak sendiri. Ada aku, Eko dan Asti, sahabat baikmu. Kita akan menghadapinya bersama-sama."
Wida mengangguk pelan menanggapi perkataan Prima. Namun tetap saja ia tak bisa membohongi dirinya sendiri, kalau jauh di lubuk hatinya ia merasa cemas. Cemas dengan apa yang akan dilakukan si penelepon gelap itu padanya atau pada Prima.
Waktu berjalan cepat, dan tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Wida menoleh kearah Prima yang tengah duduk disampingnya.
"Aku.. bukan mengusirmu, tapi sebaiknya kau pulang sebelum ibuku datang.. " kata Wida pelan takut Prima tersinggung.
"Aku tunggu saja sampai ibumu datang," kata Prima sambil memainkan tangan Wida yang sedang di digenggamnya.
Wida menghela napas pelan, dan kemudian menarik tangannya yang sedang di genggam Prima lalu berdiri.
"Tidak.. pulang saja. Nanti ibuku akan berpikir macam-macam kalau melihat mu disini, dan hanya berdua denganku."
__ADS_1
Prima tertawa pelan.
"Memangnya apa yang akan aku lakukan padamu? Paling hanya menciummu.." kata Prima menggoda, yang kemudian tiba-tiba saja menarik tangan Wida dengan sedikit keras, hingga Wida terjatuh dalam pelukkannya dan membuat wajah mereka jadi sangat berdekatan.
Wida yang terkejut dengan sentakkan Prima yang tiba-tiba, menjadi gugup karena berada dalam pelukkan Prima. Namun Prima mengabaikannya. Dengan senyumnya yang menggoda, ia menatap Wida mesra. Dan dengan sekali gerakkan di kecupnya bibir Wida.
Wida semakin terkejut. Dipukulnya dada Prima pelan, lalu membebaskan dirinya dari pelukkan Prima. Prima tertawa lepas merasa senang karena berhasil menggoda Wida. Kemudian ia pun berdiri.
"Baiklah, aku pulang," katanya sambil mencubit pipi Wida yang memerah karena malu, dengan gemas.
Wida mengantar Prima sampai keluar pagar. Dilihatnya Prima yang sudah berada di atas motornya dengan pandangan tak rela. Ia merasa waktu sangat terburu-buru berputarnya, seakan-akan Prima hanya baru beberapa menit saja di rumahnya.
"Masuklah," kata Prima, "nanti aku akan meneleponmu jika sudah sampai di rumah."
Wida pun mengangguk. Tangannya melambai melepas Prima.
"Hati-hati, ya..." katanya sambil tersenyum hangat. Dan ia pun masuk begitu Prima melajukan motornya meninggalkan rumahnya.
__ADS_1
Prima melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Wajahnya terlihat memikirkan sesuatu. Ada rasa senang dan cemas bergelut di hatinya. Senang karena bisa berdua saja dengan Wida tanpa ada yang mengganggunya. Dan cemas... karena masih belum bisa mengetahui siapa penelepon gelap yang kerap mengganggu Wida.
Ia yakin, mereka pasti mengenal siapa penelepon itu. Entah mengapa tiba-tiba saja wajah Nina terbayang dipikirannya. Bukan dia, kan? Batinnya...