
Prima membantu Wida merapikan peralatan tulisnya. Ia benar-benar sabar menunggu Wida menyelesaikan catatannya. Sebenarnya Wida telah sengaja melambatkan tulisannya agar Prima jenuh menunggunya, dan segera pergi meninggalkannya. Karena menurutnya, akan lebih baik jika ia tidak terlihat terlalu dekat dengan Prima, agar Prima tidak terseret bila keputusan kepala sekolah sudah keluar.
Tanpa setahu Wida, Prima sebenarnya menyadari apa yang dilakukan kekasihnya itu. Namun ia telah memutuskan akan selalu ada disamping Wida apapun keputusan kepseknya.
"Kita makan siang dulu?" katanya berusaha mengajak bicara Wida. "Bakso?"
Wida menatap Prima sejenak, lalu ia menggeleng pelan.
"Aku ingin langsung pulang..." jawabnya pelan.
"Baiklah.." Prima menanggapi perkataan Wida dengan nada kecewa. Ia sebenarnya kecewa pada sikap Wida yang sepertinya masih meragukan ketulusannya. Ketulusan hatinya yang benar-benar mencintainya dan akan selalu ada disisinya apa pun yang terjadi.
Prima berjalan di belakang Wida tanpa bicara karena sikap Wida yang diam. Namun belum jauh meninggalkan kelas, ada seorang siswi memanggil mereka. Prima dan Wida pun menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Prima pada siswi tersebut.
"Anu.. Wida di panggil Pak Anton," kata siswi tersebut sungkan.
Wida hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan siswi itu. Dan tanpa mempedulikan Prima, ia berjalan meninggalkan Prima di belakangnya.
Prima yang panik melihat Wida meninggalkannya, langsung mengejar Wida setelah mengucapkan terima kasih pada siswi yang menyampaikan pesan dari Pak Anton itu.
"Kenapa kau meninggalkanku?" katanya sambil mengimbangi langkah Wida.
"Karena aku yang di panggil.. bukan dirimu..." jawab Wida tertahan karena degub jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat.
"Apa kau lupa.. aku juga terkait dalam masalah ini?" tanya Prima sedikit kesal dengan sikap Wida.
__ADS_1
Wida menghentikan langkahnya. Ditatapnya Prima dengan mata yang kini nampak mengkristal.
"Apa kau tidak dengar?" katanya menahan emosi, "Aku yang di panggil.. bukan dirimu. Kau pulang saja.."
Prima menghela napasnya, menahan kekesalannya karena sikap Wida yang keras kepala.
"Aku tidak peduli siapa yang dipanggil.. kita hadapi bersama." Dan Prima pun melanjutkan langkahnya sambil menarik tangan Wida menuju keruangan Pak Anton.
Pak Anton nampak tengah menunggu kedatangan Wida di kursinya dengan tangan yang sedang menulis sesuatu di atas mejanya. Ia menoleh ke arah pintu, saat Wida masuk di ikuti Prima yang berjalan di belakangnya. Sepertinya ia tidak terlalu terkejut melihat Prima yang juga ikut datang keruangannya.
"Duduklah.." perintahnya pada keduanya.
Wida langsung duduk di bangku yang sudah ada di depan meja Pak Anton, sedangkan Prima mengambil bangku yang lain, lalu duduk di samping Wida.
"Sebenarnya Bapak hanya memanggil Wida, tapi tak apa.. kau juga harus tahu apa keputusan kepala sekolah tentang masalah ini," kata Pak Anton pada Prima, lalu menghela napas pelan sebelum melanjutkan perkataannya. "Wida, untuk sementara kau belajar dulu di rumah, sampai ada kabar dari sekolah."
"Sebenarnya Bapak tidak ingin hal ini terjadi padamu. Tapi kau bersabar saja dulu... Bapak akan mengusahakan yang terbaik untukmu.." lanjut Pak Anton menenangkan Wida.
Prima menyorongkan badannya kedepan.
"Lalu bagaimana dengan saya, Pak?" tanyanya penasaran, "Apakah saya dirumahkan juga?"
Pak Anton kembali menghela napas.
"Kau hanya dapat surat peringatan saja.." katanya pelan membuat Prima membelalakkan matanya.
"Bagaimana bisa begitu?" tanya Prima dengan nada yang agak tinggi. "Ini tidak adil! Kalau Wida dirumahkan, saya juga harusnya dirumahkan juga! Bukankah kami yang melakukan kesalahan itu sama-sama?!"
__ADS_1
Wida yang membeku seakan tersadar saat mendengar suara Prima yang emosi. Dan dengan reflek ia menahan tubuh Prima yang semakin maju karena emosi, dengan menarik lengannya.
"Sudahlah... tidak apa," katanya menenangkan Prima. "Aku tidak apa-apa.."
"Bagaimana tidak apa-apa?! Mana ada keputusan yang seperti itu? Hukumanmu dan aku seharusnya sama! Bukan hanya kau yang melakukan kesalahan itu! Aku juga!" suara Prima meninggi karena kesalnya.
"Ini sudah keputusan kepala sekolah. Tapi akan Bapak usahakan agar Wida secepatnya bisa kembali belajar di sekolah."
Prima keluar dari ruangan Pak Anton dengan wajah yang merah karena menahan amarah. Wida yang kembali terdiam hanya menundukkan kepalanya saja, memikirkan keputusan yang telah ia terima. Kepalanya penuh dengan pikiran yang tiba-tiba menumpuk di kepalanya dan menjadi berbagai pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Bagaimana bila ibunya mendengar hal ini? Bagaimana jika Pak Anton tidak bisa mengusahakan ia kembali kesekolah? Bagaimana..
"Aku tidak bisa diam begini!" seru Prima membuat Wida yang menunduk mengangkat kepalanya dan membuyarkan pikirannya. "Aku harus ketemu dengan kepala sekolah!"
Prima menatap Wida.
"Kau tunggu disini. Aku akan bicara dengan kepala sekolah," tanpa menunggu jawaban dari Wida, Prima pun berlari menuju keruang kepala sekolah.
Wida yang hanya terperangah tidak bisa mencegah Prima. Ia pun hanya mendesah melepas ketegangan yang sedari tadi telah menyesakkan dadanya. Tanpa peduli pesan Prima agar menunggunya, Wida pun berlalu menuju gerbang sekolah dengan langkah yang cepat.
Kristal di mata Wida mulai pecah, mengalir di kedua sudut matanya mengiringi langkah cepatnya untuk meninggalkan sekolahnya. Ia sempat melihat Eko dan Asti di parkiran motor. Namun ia malah menghindarinya, memilih jalan lain agar mereka tidak melihatnya.
Berulang kali ia menyeka air matanya, dan berulang kali pula air matanya jatuh kembali. Bahkan, suara seseorang yang tengah memanggilnya pun tak di dengarnya. Sampai tiba-tiba ada sebuah tangan yang menariknya membuat ia menoleh dan menghentikan langkahnya..
Ryan bergegas masuk kedalam mobil yang akan mengantarnya kesekolah. Tanpa menunggu perintah dari tuan mudanya, Pak Atmo, sang supir, segera melajukan mobil yang di bawanya begitu tuannya duduk, menuju sekolah.
Ryan sengaja berangkat lebih awal karena ingin menemui Om Barja, sang kepala sekolah, untuk memintanya membatalkan keputusannya mengeluarkan Wida. Ia sangat yakin bahwa Om Barjanya itu, pasti akan mengabulkan permintaannya. Karena sedari ia kecil Om Barja selalu mengabulkan keinginannya, apapun yang ia minta. Om Barja belum mempunyai anak, makanya ia sudah menganggap dirinya seperti anaknya sendiri dan amat memanjakannya melebihi ayahnya.
Saat mobilnya sudah hampir sampai di gedung sekolah, ia sempat melihat Wida yang berlari kecil di trotoar jalan menuju arah berlawanan. Sepertinya ia akan pulang dari sekolah. Tanpa menunggu lama ia menyuruh Pak Atmo menghentikan mobilnya, dan segera turun dari mobil lalu mengejar Wida.
__ADS_1
Berkali-kali ia memanggil Wida, namun sepertinya Wida tidak mendengarnya. Sampai akhirnya ia menarik tangan Wida untuk menghentikan langkahnya. Betapa terkejutnya ia, saat Wida menoleh dengan mata yang basah..