Romansa SMA

Romansa SMA
BAB XXVII : Aku Tak Ingin Kau Tahu..


__ADS_3

Dan kenyataannya Prima memang baik-baik saja. Ia hanya sedang tak bersemangat untuk kesekolah. Rasanya ia belum siap untuk bertemu dengan Wida hari ini. Ia belum siap untuk menghadapi hal-hal yang bisa saja membuat hatinya patah. Mendengar Wida pergi dengan Ryan saja sudah membuat hatinya sakit. Apalagi jika ia mendengar hal lain.. seperti.. Wida jadian dengan Ryan.. Aaah.. desahnya. Di buang pikirannya itu jauh-jauh. Tidak mungkin Wida menerima Ryan semudah itu jika Ryan menyatakan perasaannya. Karena ia tahu bagaimana sifat Wida. Tapi entah mengapa ia tetap saja cemas..


Tadi Eko sahabatnya datang untuk mengajaknya berangkat bareng kesekolah. Tapi Prima yang enggan hanya menitipkan surat ijin sakit yang dibuat sendiri olehnya dengan memalsukan tanda tangan ibunya.


"Aku ijin dulu hari ini.." katanya sambil menyodorkan surat ijinnya pada Eko. "Kau.. tolong aku ya.. cari berita tentang Wida. Apa yang dilakukannya dengan bocah tengik itu kemarin."


Eko hanya mendesah lalu menganggukkan kepalanya. "Okeh.. " jawabnya, "tapi jangan berharap terlalu banyak.. aku tidak suka bergosip." katanya lalu pamit meninggalkan Prima yang kembali masuk kekamarnya.

__ADS_1


Eko menuruti perintah Prima. Ia mengawasi segala gerak-gerik Wida. Dari awal Wida datang sampai saat jam istirahat tiba. Memang Wida terlihat biasa saja. Tapi jika diperhatikan lebih lagi.. terlihat bahwa Wida sedang mencari-cari seseorang.. dan bisa ditebak kalau seseorang itu adalah Prima. Itu terlihat jelas ketika Wida lewat didepan kelas Prima.. dan matanya melirik kedalam kelas. Hal yang tidak pernah dilakukan oleh seorang Wida. Dan itu cukup untuk dilaporkan ke Prima nanti.


Wida yang baru kembali dari kantin terduduk lesu dikursinya. Ia kekantin tapi tidak jajan apa-apa.. karena memang tujuannya bukan untuk jajan melainkan mencari seseorang.. Prima. Dan seseorang itu sepertinya tidak ada dimana-mana.. bahkan dikelasnya.


Wida ingin menjelaskan masalah kejadian kemarin dengan Prima. Ia takut kalau Prima mendengar bahwa ia pergi dengan Ryan kemarin dan akan jadi salah paham. Wida tersentak. Ia kaget sendiri dengan pikirannya. Mengapa ia harus takut kalau Prima salah paham? pikirnya. Toh baginya Prima bukan pacarnya.. karena memang ia belum sepenuhnya menerima Prima jadi pacarnya. Tapi mengapa jauh dilubuk hatinya ia tidak bisa menerima kalau Prima akan salah paham..?


Ternyata bukan hanya Wida saja yang merasakan ketidak hadiran Prima. Nina yang sekelas dengan Prima pun heran dengan ketidak hadiran Prima dikelas hari ini. Prima tidak pernah ijin kalau memang tidak benar-benar sakit. Apakah benar Prima sakit? pikirnya. Tapi kemarin Prima sepertinya baik-baik saja. Masih bisa melesat cepat kekelas Wida waktu bel pulang berbunyi.

__ADS_1


Nina mendekati Eko yang sedang duduk dibangkunya. Ia duduk disamping Eko, tempat duduk Prima. Eko menoleh ke arahnya.


"Ko.." kata Nina membuka percakapan, "Prima memangnya sakit apa? Biasanya kalo cuma batuk pilek ia masih masuk. Sakit parah ya? Kemarin biasa aja.."


"Tidak parah.." Eko menanggapi pertanyaan Nina santai, "memangnya kenapa?"


Nina tersenyum, "aku ingin menjenguknya.. anterin yuk.." pintanya pada Eko.

__ADS_1


Eko menatap Nina sejenak. Bukannya ia tidak tahu kalau Nina memiliki perasaan terhadap Prima. Ia tahu kalau Nina ada hati terhadap Prima sejak dulu saat masih dibangku SMP. Sebenarnya ia akan mampir sepulang sekolah nanti kerumah Prima, untuk melaporkan hasil pantauannya terhadap Wida. Tapi jika Nina ikut nanti, ia pasti tidak akan leluasa saat berbicara dengan Prima.


Tapi ia tidak tega menolak ajakan Nina untuk menjenguk Prima, karena ia tahu pertemanan mereka yang sudah lama. Eko akhirnya mengangguk. "Oke.." katanya yang langsung membuat Nina tersenyum senang.


__ADS_2