Romansa SMA

Romansa SMA
BAB XCII : Kau Ada Dimana...


__ADS_3

Prima tiba-tiba menghentikan motornya di trotoar jalan. Nina yang ada di boncengannya merasa heran.


"Ada apa?" tanyanya sambil turun dari motor.


Prima tidak menjawab. Diambilnya ponselnya dari ranselnya. Dengan cepat di panggilnya nomor Wida. Nina yang memperhatikannya nampak bingung. Ia tidak melihat nomor yang di hubungi Prima.


Terdengar nada sambung. Prima menunggu dengan cemas. Terputus! Membuat Prima makin cemas. Dihubunginya lagi. Terputus lagi. Sampai Prima berkali-kali memanggilnya, barulah terjawab.


"Apa?" terdengar suara Wida yang tanpa basa basi.


Wida ternyata tidak langsung pulang kerumah. Ia dan Asti memilih untuk makan bakso dulu di tempat langganan mereka, di belakang sekolah.


Terdengar ponselnya berbunyi. Prima. Dibiarkannya sebentar, lalu di 'reject'nya. Kembali lagi berbunyi, dan kembali pula Wida me'reject'nya. Sampai beberapa kali.


Asti yang melihatnya mengerutkan alisnya.


"Siapa?" tanyanya, namun dengan melihat ekspresi Wida, sepertinya ia tidak butuh jawaban. "Angkatlah... kasihan... sepertinya penting."


Wida akhirnya mengalah dan menuruti saran Asti. Dengan ketus ia menjawab panggilan tersebut.


"Apa?"


Prima yang mendengar suara Wida dari seberang sana tampak tersenyum lega.

__ADS_1


"Kau ada dimana?" tanyanya, tanpa mempedulikan Nina yang berdiri disampingnya.


Sepertinya Nina sekarang bisa menebak siapa yang sedang di hubungi Prima. Pasti Wida, batinnya sambil menyipitkan matanya kesal. Teganya Prima padanya... padahal ia sedang bersamanya, masih sempat berhenti untuk menelpon Wida. Hhh...


Rupanya Wida tidak mengatakan ia ada dimana.


"Tolonglah... katakan kau ada dimana?"


"Untuk apa?"


"Aku tahu kau tidak pulang bersama Soni. Katakan dimana kau sekarang, agar aku bisa datang ketempatmu."


"Bukankah aku sudah bilang, agar kita tidak ketemuan dulu? Lagi pula kau sedang mengantar Nina. Selesaikan dulu urusanmu."


Prima terpaku. Ia tidak percaya Wida memutuskan teleponnya. Ia menoleh kearah Nina yang sedari tadi terdiam disampingnya. Ditatapnya Nina sejenak. Lalu, saat ia melihat taksi yang sedang melintas, ia pun menghentikannya.


"Nina... aku minta maaf... kau pulang dengan taksi saja hari ini. Aku ada urusan mendesak, nanti kau aku telpon," kata Prima sambil mendorong Nina ke dalam taksi.


Nina yang sedari tadi menahan emosinya, hanya memandang Prima dengan kesal. Tampak matanya mulai tergenang air mata. Ia membuang mukanya membelakangi Prima. Ia tidak ingin Prima melihatnya menangis.


Prima meletakkan dua lembar seratus ribuan di pangkuan Nina. Mungkin untuk ongkos taksi. Dan sebelum menutup pintu taksi, ia berkata, "Maafkan aku.." pada Nina. Dan taksi pun melaju membawa Nina yang menangis tanpa suara.


Prima tak kehabisan akal. Menurutnya, Wida pasti tidak sendirian. Pasti ada Asti yang menemaninya. Lalu di carinya nomor Asti dan di panggilnya.

__ADS_1


Wida yang mendengar ponsel Asti berbunyi, bisa menebak, kalau itu dari Prima.


"Jangan di jawab," kata Wida.


Namun Asti mengacuhkan permintaan Wida. Dengan santai ia menjawab, "Ya.."


"Wida bersamamu?"


"Hmmm " jawab Asti tanpa kata-kata.


"Dimana?" Prima penasaran.


Wida ingin merebut ponsel Asti. Asti menepisnya, "Bakso belakang sekolah!" teriak Asti karena ponselnya di acungkannya keatas agar Wida tak bisa mengambilnya.


"Kau ini!" Wida merajuk kesal."Aku pulang, ah!" katanya seraya bangun dari duduknya. Asti mencegahnya dengan memegang bahu Wida dan memaksanya duduk.


"Gimana siiih... baksomu saja belum kau sentuh masa sudah mau pulang," bujuk Asti.


"Kau, sih! Untuk apa coba kau bilang pada Prima kalau kita ada disini!" kata Wida kesal, namun kembali duduk.


"Aku pusing dengan kalian. Selalu ada saja masalah di antara kalian. Coba dong belajar memahami satu sama lain... seperti aku dan Ek..." Asti menutup mulutnya, hampir saja ia keceplosan.


Wida yang menangkap kata-kata terakhir Asti, menatap Asti penuh selidik.

__ADS_1


"Apa kau bilang?" tanyanya sambil memicingkan matanya, "seperti kau dan... Ek...ko? Kau jadian dengan Eko? Sejak kapan? Kenapa kau tidak cerita padaku?" sejenak Wida lupa dengan masalahnya....


__ADS_2