
Wida yang seperti kehabisan napas karena ciuman Prima, tersadar. Ia berusaha melepaskan bibirnya yang berada dalam perangkap bibir Prima, dengan memalingkan wajahnya. Dengan napas yang masih memburu di dorongnya tubuh Prima pelan. Dirinya masih tidak mengerti mengapa hati dan pikirannya tidak bisa sinkron hari ini. Pikirannya ingin mengabaikan Prima, namun hatinya... hatinya ternyata begitu merindukan Prima. Sehingga saat Prima memeluk dan menciumnya, ia malah menikmatinya. Aah.. sungguh memalukan. Ketahuan sudah oleh Prima, bahwa 'putus sementara' mereka juga menyiksanya.
Prima pun tersadar saat Wida mendorongnya pelan. Perlahan dilepasnya tubuh Wida sambil mengatur napasnya yang masih naik turun.
"Maaf," katanya disela napasnya yang masih belum teratur.
Wida mundur selangkah dengan perasaan canggung. Ia tidak tahu harus berbuat apa atau mengatakan apa. Ia tidak ingin Prima mengetahui bahwa cepatnya debaran jantungnya saat ini.
Keduanya terdiam karena suasana menjadi canggung. Masing-masing merasakan, bahwa tidak dapat dipungkiri ternyata ada kerinduan di antara mereka.
"Wida..." kata Prima setelah hatinya tenang mendekati Wida, "aku ingin, kita mengakhiri 'putus sementara' ini..."
Wida terdiam, matanya menatap Prima dalam seakan mencari kesungguhan disana. Syukurlah... batin Wida, untung Prima duluan yang meminta, ia juga sebenarnya sudah tidak ingin melanjutkan hubungan yang seperti itu. Menyesal juga ia memintanya dulu, kalau ia tahu akan menyiksanya.
Prima yang melihat Wida terdiam, menduga kalau Wida marah.
"Kau marah padaku? Apa karena... yang aku lakukan tadi padamu?" tanya Prima pelan. "Maaf... aku... aku tidak bisa menahannya. Aku terlalu rindu padamu..."
Wida tertunduk malu karena Prima membahas masalah ciuman tadi.
"Tidak... aku hanya takut, kalau kau masih bimbang antara aku dan Nina." Wida mengangkat kepalanya dan menatap Prima kembali. "Kau selesaikan saja dulu masalahmu dengan Nina, setelah selesai baru kau datang padaku."
Prima tersenyum.
__ADS_1
"Asal kau tahu, aku tidak pernah bimbang antara kau dan Nina... karena status kalian berbeda. Kau pacarku...dan Nina temanku. Jadi, aku tidak ada masalah dengan Nina."
"Tapi Nina menyukaimu. Dari sebelum aku mengenalmu. Aku tidak mau terlihat seperti merebutmu darinya. Aku..."
Perkataan Wida terpotong, karena tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"Hei! Apakah kalian sudah selesai?" tanya Doni, siswa yang juga kena hukuman membersihkan toilet pria.
"Ya!" jawab Prima, "sebentar lagi." Prima berjalan kearah pintu dan membukanya.
Doni mengerutkan alisnya begitu dilihatnya Prima dan Wida berdua di dalam toilet yang terkunci.
"Sedang apa kalian?" tanyanya.
"Sshh..! Bukan urusanmu. Pergilah duluan, nanti kami akan menyusul," kata Prima memberi kode agar Doni segera pergi.
"Okey! Kami duluan, ya."
Sepeninggalnya Doni, Wida langsung bersih-bersih tanpa menunggu Prima. Prima yang melihatnya langsung ikut membersihkan sambil sesekali melihat ke arah Wida.
Peima telah menyelesaikan bagiannya. Dilihatnya Wida yang masih mengepel lantai. Ia lalu menghampiri Wida. "Sini, biar aku saja."
"Tidak usah," tolak Wida, "ini sudah mau selesai."
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, Wida dan Prima berjalan berdampingan menuju kekantor.
"Kau datang ya, lihat pertandingan basket nanti," pinta Prima.
Wida hanya mengangguk.
Prima yang merasa cukup dengan anggukan Wida sebagai jawaban, tersenyum senang.
Rupanya Sifa melihat Wida dan Prima yang sedang berjalan ke kantor, saat ia sedang membuang sampah. Bibirnya tersenyum sinis. Saat ia kembali, ia langsung menceritakan apa yang dilihatnya pada Nina.
"Apa mereka nyambung lagi?" tanya Sifa setelah selesai dengan ceritanya.
"Mereka tidak putus. Semua itu hanya sandiwara mereka," kata Nina dengan nada sedikit cemburu.
"Benarkah? Darimana kamu tahu?" tanya Sifa antusias.
"Kemarin aku lihat sendiri..."
Percakapan mereka terhenti saat Prima masuk kedalam kelas. Wajahnya tampak berseri-seri, sepertinya suasana hatinya sedang baik. Nina yang melihatnya langsung kesal, karena ia tahu itu pasti karena Wida. Nina bertanya-tanya dalam hati, apakah telatnya Prima karena Wida juga?
Jangankan Nina, Eko saja terheran-heran melihatnya.
"Kau ini... telat kok malah kelihatan seneng banget. Memangnya tidak dihukum?" tanyanya bingung.
__ADS_1
"Telat kali ini beda. Untuk yang satu ini aku mau kalau harus telat tiap hari.." jawab Prima sambil senyum-senyum gak jelas.
Eko yang tidak mengerti hanya geleng-geleng kepala.