Romansa SMA

Romansa SMA
BAB XLVI : Kita Kencan


__ADS_3

Senin pagi. Seperti biasa, suasana tampak hiruk pikuk diterminal yang tak pernah sepi itu. Tanpa sengaja.. atau disengaja..? Wida bertemu dengan Soni. "Hai..!" sapanya.


Wida hanya tersenyum canggung menjawab sapaan Soni. Entah mengapa sekarang ia merasa harus menjaga jarak dengan Soni.


"Kita bareng ya.." ajak Soni dengan senyum cerianya.


Tak lama angkot yang biasa mereka naiki melintas. Dan tiba-tiba saja Soni menarik tangan Wida untuk mengejar angkot tersebut. Mau tidak mau Wida mengikutinya. Dari pada nanti terlambat, pikirnya. Mereka pun berhasil naik kedalam angkot, meski harus duduk berhimpitan.


Wida merasa agak risih, karena Soni duduk terlalu rapat disebelahnya. Lengan dan kaki mereka bersentuhan. Apalagi kalau angkot tiba-tiba mengerem, Wida merasa tubuh Soni makin merapat padanya.


Untunglah angkot berjalan dengan cepat, sehingga Wida bisa segera terbebas dalam himpitan tersebut. Angkot sebentar lagi akan sampai di gang tempat biasa Wida turun. Dilihatnya dari jauh gang tersebut tampak sepi. Wida pun segera menyetop kendaraan tersebut, kemudian ia turun yang juga di ikuti oleh Soni dari belakang.


Saat akan melanjutkan jalan menuju kesekolahnya, entah kenapa dada Wida tiba-tiba berdetak cepat. Ketika dilihatnya tidak jauh dari mereka, ada vespa merah yang terparkir disisi jalan. Ia ingat dengan vespa merah yang pernah ia naiki bersama Prima.


"Ayo.." kata Soni mengejutkannya karena ia berhenti jalan. Wida tersentak.. dan kemudian melanjutkan jalannya disamping Soni menuju kesekolah. Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba Prima nongol tidak jauh dari tempat vespa merah itu terparkir.


Wida terkejut, begitu juga dengan Soni. Namun Soni terlihat lebih pandai menyembunyikan keterkejutannya di banding Wida, karena ekspresinya yang begitu tenang. Berbeda dengan Wida, yang paras wajahnya terlihat begitu tegang.


Wida menghentikan langkahnya, dan Soni yang berjalan disisinya otomatis juga ikut berhenti. Prima datang mendekat menghampiri mereka. Ditatapnya Wida tanpa mempedulikan Soni yang berdiri disamping Wida. Wida yang tampak tegang tidak dapat mengartikan tatapan Prima. Marahkah... atau.. Wida ingin menyapa, namun entah mengapa lidahnya terasa kaku untuk berkata-kata.

__ADS_1


"Hai, Prim.." sapa Soni kaku, memecahkan keheningan diantara mereka bertiga. Prima yang tampak kesal hanya melirik ke arah Soni.. namun kemudian beralih lagi menatap Wida tanpa menjawab sapaan Soni.


"Bisakah kau tinggalkan kami?" tanya Prima yang ditujukan pada Soni. "Ada yang mau aku bicarakan denga Wida," lanjutnya tanpa melihat kearah Soni.


"Untuk apa?" tanya Soni yang kurang senang dengan permintaan Prima.


"Aku rasa kau tak perlu tahu.." Prima menanggapi perkataan Soni dengan kesal.


"Tapi sekolah sebentar lagi akan mulai," Soni beralasan untuk menolak permintaan Prima.


Prima menoleh menatap Soni dengan pandangan kesal.


Soni membalas tatapan Prima dengan tatapan yang tidak kalah kesalnya. Wida yang berada diantara mereka bingung harus berbuat apa. Tanpa bicara tiba-tiba tangannya reflek mendorong tubuh Prima agar sedikit menjauh. Prima terdorong, ditatapnya Wida dengan heran. Wida mengacuhkannya.


"Kau duluan saja," Wida menoleh kearah Soni, "aku nanti bareng Prima.." katanya dengan suara pelan karena merasa tak enak pada Soni.


Soni menatap Wida kecewa.. karena Wida lebih memilih Prima daripada dirinya. Ia menghela napas kesal. Tak ingin Wida mendapat masalah dengan Prima, Soni pun menganggukkan kepalanya.


"Baiklah.. " Soni mengalah. "Aku duluan.."

__ADS_1


Tanpa menoleh ke Prima, Soni pergi dengan perasaan kesal menuju ke sekolah. Wida menatap kepergian Soni dengan perasaan tak menentu.


"Kenapa?" tanya Prima tiba-tiba ketika dilihatnya Wida yang terlihat sedih saat Soni pergi, "tak rela dia pergi?"


"Bicara apa sih.." kata Wida sedikit kesal dengan prasangka Prima.


Wida melangkah seakan hendak menyusul Soni menuju ke sekolah.


"Eeeh.. mau kemana?" teriak Prima pelan sambil menahan langkah Wida dengan memegang tangan Wida.


"Ya mau kesekolah.. mau kemana lagi?" jawab Wida.


"Tidak bisa." Prima menarik tangan Wida dan membawanya menuju ke vespanya.


"Hari ini aku akan menculikmu."


Prima memakaikan helm kekepala Wida. Wida yang bingung dengan kelakuan Prima protes, "Kita mau kemana?"


Prima tersenyum, "Kencan.." katanya.

__ADS_1


__ADS_2