
Prima benar-benar hanya mengikutinya. Ia mengikuti saran Asti, yang mengatakan agar membiarkan Wida dulu. Karena katanya, Wida terlihat agak tertekan belakangan ini. Mungkin karena banyaknya masalah yang ia hadapi.
Walau hanya memandang punggung Wida, bagi Prima itu sudah cukup untuk sekarang ini. Yang penting baginya Wida baik-baik saja.
Wida pun sepertinya terlihat lebih santai. Walau ia merasa sepertinya ada yang kurang, karena biasanya Prima selalu datang padanya.
Waktu berlalu tanpa terasa. Semua berjalan seperti biasanya. Wida kini lebih sering terlihat bersama Asti kemana pun ia pergi. Begitu pula dengan Prima, yang lebih sering terlihat bersama gengnya baik di lapangan atau di kantin. Dan berita putusnya Wida dengan Prima tersebar ke penjuru sekolah.
Nina yang mendengarnya juga ikut heran. Memang, beberapa hari ini dilihatnya Prima tidak lagi ke kelas Wida. Keluar pun paling hanya duduk di pinggir lapangan bersama gengnya.
"Beneran ya, Prima putus sama Wida?" tanya Anin polos saat trio Nina ada di kantin.
"Sepertinya sih begitu," Sifa menimpali, "aku tidak melihat mereka jalan bersama lagi beberapa hari ini."
Nina hanya terdiam. Ia berpikir sepertinya ada yang aneh dengan putusnya hubungan Prima dan Wida. Baginya, Prima tidak terlihat seperti orang yang putus cinta. Ia terlihat biasa saja.
Malah sepertinya terlalu biasa. Tertawa lepas saat bercanda dengan Eko, atau makan dengan santainya saat di kantin. Apa sebenarnya yang terjadi? Tanpa terasa Nina menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa aneh.
Sifa yang melihatnya mengerutkan alisnya.
"Ada apa?" tanyanya.
__ADS_1
Nina yang sadar kalau Sifa sedang memperhatikannya, hanya tersenyum kecut.
Orang yang sedang dipikirkan Nina tampak sedang tertawa dipinggir lapangan bersama gengnya, Eko, Rudi dan Iwan. Walau Prima tampak bicara dengan mereka, tapi matanya tak lepas dari kelas Wida. Seakan-akan berharap bisa melihat Wida keluar dari sana.
Tidak berapa lama harapan Prima terkabul. Wida keluar dari kelasnya bersama Asti sahabatnya. Wida tampak tertawa lepas bersama Asti, seperti tidak ada beban pada dirinya. Prima yang melihatnya ikut tersenyum.
Saat Asti dan Wida hampir dekat dengan tempat Prima berada, Asti menyenggol Wida, seakan menunjukkan keberadaan Prima disana. Wida menoleh kearah yang ditunjuk Asti.
Sekilas pandangan matanya bertemu dengan mata Prima. Prima menatapnya tanpa kedip, seakan menyimpan kerinduan yang dalam. Menyadari itu Wida langsung mengalihkan pandangannya kedepan. Hatinya tidak tega bila melihat Prima dengan tatapan matanya yang seperti itu.
Prima terus melihat ke arah Wida, sampai Wida menghilang di balik tembok. Tanpa disadarinya Eko menghampirinya. Ia menepuk bahu Prima.
Prima tertunduk, matanya melihat ujung sepatunya yang memainkan daun kering yang diinjaknya.
"Memangnya kau pikir, aku ingin begini terus?" jawab Prima tanpa melihat ke arah Eko. "Asal kau tahu... aku... amat sangat kangen padanya. Tawanya, manjanya, bahkan marahnya."
Prima menoleh ke arah Eko, "Kau masih beruntung bisa kapan saja bicara dengan Asti. Sedangkan aku... jangankan bicara di ponsel, pesanku saja tak satu pun di balas."
Eko hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan Prima.
"Besok kita ada tanding basket di SMA Harapan, bagaimana kalau Asti aku suruh mengajak Wida untuk ikut datang?"
__ADS_1
Mata Prima melebar mendengarnya.
"Oh iya... aku hampir lupa! Boleh juga usulmu. Tapi.. apakah Wida akan mau ikut?" tanya Prima ragu.
"Kau tenang saja, serahkan semuanya pada Asti," jawab Eko sambil tersenyum.
"Dan Soni... apakah ia akan ikut tanding?" tanya Prima yang tiba-tiba teringat akan Soni.
"Nanti aku tanyakan," jawab Eko santai. "Kalau ia tidak mau ada Rudi yang akan menggantikannya. Edi juga bisa. Tapi aku akan tetap menanyakannya, apakah ia mau ikut main atau tidak."
Soni yang sepertinya sedang menghindari Prima, hanya duduk didalam kelas sambil melihat para siswa yang lalu lalang di depan kelasnya. Ia juga melihat saat Wida lewat untuk ke kantin bersama Asti. Walau ada keinginan untuk menyusul Wida, tapi ia tidak bisa melakukannya. Karena sudah beberapa hari ini Wida menghindarinya.
Setiap ia datang kerumahnya untuk menjemput, Wida selalu sudah berangkat duluan. Di sekolah juga begitu. Saat ia menyapa, Wida hanya membalasnya dengan senyum, dan berusaha menghindarinya. Sepertinya ia benar-benar sudah di tolak oleh Wida. Tapi bila ia menolak dirinya, mengapa ia juga putus dengan Prima?
Tiba-tiba Prima, Eko dan Rudi masuk ke kelas. Soni langsung pura-pura membaca buku yang ada di mejanya. Eko menghampirinya.
"Son, apakah kau besok akan ikut bertanding?" tanya Eko mengingatkan Soni.
Soni melihat ke arah Eko. "Ya," jawabnya, "kenapa? Apa ada yang akan menggantikanku?" terdengar nada tersinggung dari pertanyaan Soni.
"Bukan begitu... aku kira kau lupa," jawab Eko santai. "Okelah kalau begitu, jangan lupa besok." Eko pun kembali ke kursinya di ikuti pandangan sinis Soni...
__ADS_1