Romansa SMA

Romansa SMA
BAB XVIII : Maaf.. Ini Karenaku...


__ADS_3

Ketika Wida keluar dari kantin terdengar seseorang memanggilnya. "Kak wida!"


Wida menghentikan langkahnya dan menoleh kearah sumber suara.. Ryan! Ryan yang sepertinya habis dari toilet datang menghampiri Wida dengan senyum manisnya. Wida membalas dengan senyum yang di paksakan. Lalu reflek kepalanya celingukan kekanan dan kekiri, seakan mencari seseorang. Ya.. Prima! Ia ingin memastikan bahwa Prima tidak ada disana. Karena ia tidak ingin kejadian pertengkaran antara Prima dan Ryan terulang kembali.


"Hai.." sapa Ryan begitu sampai di hadapan Wida. "Hai.." balas Wida sedikit kikuk karena masih merasa tidak enak atas kejadian kemarin.


"Kakak.. apakah baik-baik saja kemarin? Dia tidak memperlakukan kakak dengan kasar kan?" tanya Ryan sambil menatap Wida lembut. Wida mengangguk. "Iya.." jawabnya singkat. "Ryan.. apa tidak apa-apa?" tanya Wida sambil menunjuk ke wajah Ryan yang terkena pukul kemarin. Ada sedikit gores disana.. dan itu makin membuat Wida menyesali dirinya yang dirasa telah menyebabkan pertengkaran itu terjadi.


"Oh.. ini.. tidak apa-apa..hanya luka kecil" jawab Ryan sambil memegang pipinya.


"Maaf ya..." sesal Wida merasa bersalah.


Ryan tersenyum. "Beneran.. ini tidak apa-apa.." katanya meyakinkan Wida. Ia tidak mau kalau Wida menyalahkan dirinya.


"Kakak mau kekelas ya?" tanya Ryan mengalihkan pembicaaran agar Wida tidak berlarut dalam rasa bersalahnya. "Ayo bareng.. kebetulan aku mau ke ruang guru."


Wida tersentak. Ia terkejut dengan ajakan bareng Ryan. Jangan! pikirnya. Bukankah kalau kekelasnya harus melewati kelas Prima? Bagaimana kalau Prima melihatnya? Bakal ada perang kedua!

__ADS_1


"Tidak usah.. kamu.. kamu duluan saja.." Wida tergagap saat menolak ajakan Ryan.


"Kenapa? Takut dilihat kak Prima?" tanya Ryan begitu terus terang dan dengan nada yang sinis. Belum sempat menjawab pertanyaan Ryan, Nina dan dua sahabatnya lewat. Wida yang merasa berdiri agak ditengah menggeser ke tepi untuk memberi jalan.


"Permisi ya.." kata Nina sambil melirik Wida. Wida tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Bukan.." jawab Wida setelah dilihatnya Nina dan cs-nya sudah menjauh. "Hanya saja..." "Kakak pacaran dengan kak Prima?" Ryan memotong perkataan Wida.


Wida terperangah. Postur tubuh Ryan yang tinggi membuat Wida harus mendongakkan kepala saat menatapnya. Lidah Wida terasa kelu.. mulutnya seakan ingin bicara tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari sana.. karena ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Benarkah?" tanya Ryan meminta kepastian Wida.


Tiba-tiba bel tanda jam istirahat telah selesai berbunyi. Wida yang terkejut begitu mendengarnya.. tanpa menjawab pertanyaan Ryan.. langsung membalikkan badannya dan pergi berlari meninggalkan Ryan untuk kembali kekelasnya.


"Kaak!!" teriak Ryan yang tak terima ditinggalkan begitu saja. Namun Wida yang berlari tak mendengarnya.


Prima yang lebih dulu kembali kekelas karena ada tugas yang belum ia selesaikan tampak duduk di atas meja. Sedari tadi ia melihat keluar jendela memperhatikan murid-murid yang lewat. Ia tidak melihat Wida lewat diantaranya. Apakah ia masih dikantin? pikirnya.. atau sudah kekelas?

__ADS_1


Eko yang duduk di depannya hanya menggeleng melihat kelakuan sahabatnya.


Tak lama kemudian Nina masuk kedalam kelas di iringi dua sahabatnya. Prima yang melihatnya langsung memanggilnya.


"Nin!" katanya, "sini!" Prima melambaikan tangannya agar Nina mendekat.


"Apa?" kata Nina setelah mendekat. Entah mengapa Nina merasa jantungnya berdegup kencang. Apakah ini karena sekarang ia memandang Prima sebagai seseorang yang disukainya? Bukan sebagai sahabatnya? Padahal ia sudah suka dari dulu.. tapi mengapa sekarang rasanya berbeda?


"Kamu baru dari kantin ya..?" tanya Prima.


Nina mengangguk, "Iya.." katanya pelan. Diaturnya napasnya agar degub jantungnya kembali normal.. ia takut.. kalau Prima bisa mendengar bunyi detak jantungnya..


"Kamu lihat Wida?" Deg! Nina merasa ada sedikit rasa nyeri di antara degup jantungnya. Wida! Nina terdiam.. kenapa harus nama itu yang terucap dari bibirnya..


"Lihat!" Sifa yang tak jauh berdiri di belakang Nina menjawab. "Tadi saat kami keluar dari kantin ia sedang berbicara dengan Ryan..!" sepertinya Sifa sengaja mengatakannya agar Prima emosi. Nina menoleh kearah Sifa, ia tidak menyangka kalau Sifa akan berkata seperti itu. Sifa malah mendekati Nina dan menarik tangannya. "Ayo!" ajaknya untuk menuju ketempat duduk mereka.


Dan memang benar.. Prima termakan omongan Sifa dan tampak emosi. Eko yang melihatnya merasa was-was. Belum sempat ia turun dari meja bel pun berbunyi. Dan tak lama ia melihat Wida melintas di depan kelasnya melalui jendela. Wida tampak berlari menuju kekelasnya.

__ADS_1


__ADS_2