Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CLVIII : Saksi... Atau Pelaku...


__ADS_3

Tepat pukul lima bell tanda pulang sekolah berbunyi. Ryan yang sudah merapikan peralatan sekolahnya langsung berdiri begitu guru keluar dari kelas. Di hampirinya bangku Sofi yang berada di barisan pertama. Wajahnya yang tampan nampak mengeras saat berdiri disisi meja Sofi.


"Aku mau bicara," katanya datar pada Sofi.


Kini mereka berada di warung es kelapa yang berada tidak jauh dari sekolah. Ryan memandang Sofi dengan pandangan tak ramah. Sofi yang bingung dengan sikap Ryan bertanya-tanya dalam hati, apakah ini karena masalah kak Wida? Ia tahu bahwa Ryan menyukai rivalnya itu. Sofi merasa jantungnya tiba-tiba berdetak cepat, saat menyadari ada kemarahan di mata Ryan.


Siang tadi saat Alex mengatakan bahwa Sofi sedang di panggil oleh pak Anton ke ruang BK, ia langsung menduga bahwa ini pasti terkait dengan kasus foto Wida. Apalagi Alex juga mengatakan bahwa selain Wida ada Prima dan dua teman lainnya disana. Dan saat ia melihat Sofi masuk ke kelas tidak lama kemudian, ia semakin yakin dengan dugaannya karena di lihatnya wajah Sofi yang tampak resah. Andai saja ia tidak ada ulangan susulan saat jam istirahat, mungkin ia telah menanyainya tadi.


Dan kini Sofi ada di hadapannya, duduk dengan gelisah seakan tahu mengapa ia di panggil olehnya.


"Kenapa kau dipanggil pak Anton, tadi?" tanya Ryan langsung tanpa peduli dengan kegelisahan Sofi.


Sofi menatap Ryan gugup. Bagaimana ini? Batinnya. Apakah ia akan berkata jujur, kalau ia di panggil tadi karena masalah foto kak Wida? Tapi ia takut Ryan akan marah bila tahu apa yang terjadi.


"Tidak ada apa-apa..." jawab Sofi pelan dan terdengar takut.


"Kau jangan berbohong. Aku bisa saja menanyakannya langsung pada pak Anton bila aku mau. Tapi aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu. Apakah ini terkait dengan foto kak Wida?"


Sofi semakin gelagapan. Matanya berkejap-kejap karena cemas.


"Iya..." akhirnya Sofi mengaku. Ia tahu kalau ia sudah tidak bisa berbohong lagi.


"Kenapa kau ikut dipanggil... apakah kau ada sangkut pautnya dengan foto itu? Atau.. jangan-jangan kau pelakunya?!" Ryan menekan Sofi.


Sofi semakin gugup. Tidak... ia harus bisa berbohong, pikirnya. Ia tahu Ryan masih amat menyukai Wida, walau ia telah di tolaknya. Apa yang akan terjadi padanya, bila Ryan tahu dirinya salah satu orang yang menyebabkan Wida terkena maslah?


"Bukan... bukan aku pelakunya. Aku... aku hanya.. hanya sebagai saksi!" katanya tanpa pikir panjang lagi, mencari kalimat yang tepat untuk melindungi dirinya dari amarah Ryan.


Ryan memicingkan matanya. Ia sepertinya tidak percaya dengan perkataan Sofi.

__ADS_1


"Saksi..? Saksi apa maksudmu?"


Tanpa suara Sofi menghela napas lega. Syukurlah Ryan mulai termakan omongannya, batinnya.


"Kebetulan.. aku menemukan foto yang sama di meja piket depan kantor. Aku menyerahkannya pada pak Anton.." Sofi mulai mengarang cerita. "Hanya itu saja..."


"Hanya itu? Tidak ada yang lain?"


Sofi menggeleng cepat.


"Tidak ada," katanya dengan nada meyakinkan. "Aku juga mengatakan hal yang sama pada pak Anton. Ini sudah sore.. aku harus pulang.." Sofi tidak ingin berlama-lama dengan Ryan, takut ia akan mengorek lebih banyak lagi darinya, dan pada akhirnya ia tidak akan bisa berbohong.


Ryan melihat jam di tangan kirinya. Sudah setengah enam lewat.


"Pulanglah," katanya setelah menghela napas. "Tapi kalau kau berbohong.. aku akan mencarimu lagi," ancamnya pada Sofi.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Sofi langsung beranjak bangun dan pergi meninggalkan Ryan. Ia tidak memungkiri ketampanan Ryan, tapi kalau sudah membeku begitu, ia lebih memilih untuk menghindarinya.


Angin berhembus membelai wajah Wida yang duduk di belakang Prima yang sedang mengendarai vespanya. Tangannya merangkul erat pinggang kekasihnya itu, dengan kepala yang tanpa helm bersandar di punggung Prima. Sepertinya Prima akan mengantar Wida pulang karena hari telah menjelang sore.


Tak lama Wida melepas rangkulannya, karena mereka telah memasuki gang rumahnya. Tanpa mematikan mesin motornya Prima berhenti di depan rumah Wida. Wida pun turun.


"Aku pulang ya.." kata Prima dengan senyum manisnya.


Wida hanya mengangguk. Lalu melepas kepergian Prima dengan desahan napas seakan ingin membuang semua masalah yang terjadi hari ini.


Baru saja ia masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ponselnya berdering. Dengan malas ia bangun dan meraih tasnya yang ada di atas meja, dan mengambil ponselnya.


Sebuah nomer yang tampak tak asing bagi Wida, terlihat di layar ponsel. Dan ia pun menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan itu.

__ADS_1


"Ya... halo.." katanya santai karena tahu siapa si penelpon itu.


"Halo Kak.. sedang apa?" tanya si penelpon yang ternyata Ryan.


"Tidak sedang apa-apa.. hanya tiduran," jawab Wida kembali tiduran di ranjangnya.


"Aku dengar kau di panggil pak Anton tadi... apa karena masalah foto Kakak?" tanya Ryan diseberang sana.


Wida menghela napas pelan. Baru saja ia ingin melupakan kejadian hari ini... tapi sepertinya harus ia ingat kembali.


"Iya..." jawabnya pelan.


"Apa sudah ada titik terang?" Ryan tampak penasaran.


"Sedikit," jawab Wida singkat.


"Lalu... mengapa Sofi ikut dipanggil? Apa... dia pelakunya?" cecar Ryan.


Wida diam sejenak. Ia agak ragu untuk memberitahu Ryan lebih banyak lagi, karena tempramen Ryan yang emosian.


"Bukan... ia hanya tahu siapa pelakunya," kata Wida memilih kata yang tepat agar Ryan tidak tersulut emosinya.


"Apa? Ia tahu pelakunya? Siapa, Kak?" volume suara Ryan terdengar meninggi.


"Kau tidak perlu tahu. Hal ini tidak boleh tersebar, itu kata pak Anton," kata Wida merahasiakannya.


"Ini aku Kak. Aku bisa jaga rahasia dan tidak akan menyebarkannya. Kakak bisa percaya aku. Aku hanya ingin melindungi Kakak," Ryan mencoba membujuk Wida agar Wida memberitahu pelakunya.


"Kakak tahu.. Nantilah kita bicarakan lagi. Hari ini Kakak lelah sekali. Sudah ya.. Kakak mau istirahat.." dan Wida pun mematikan ponselnya.

__ADS_1


Ryan yang masih berada di warung es kelapa, tampak kecewa saat panggilannya terputus. Namun ia tidak ingin mengganggu istirahat Wida. Tiba-tiba wajahnya berubah kesal saat diingatnya Sofi teman sekelasnya itu. Karena ia merasa Sofi telah membohonginya...


__ADS_2