Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CLXVIII : Akulah... Pengaruh Buruk Bagimu...


__ADS_3

Wida mendesah lega saat Tante Linda meninggalkan ruang tamu untuk membuat minuman buat mereka berdua. Jujur saja, ia merasa risih saat mendengar candaan Tante Linda dengan Ryan mengenai dirinya. Apalagi saat menyinggung tentang status hubungannya dengan Ryan.


Tiba-tiba ia teringat akan Prima, dan menduga kalau Prima pasti mencemaskannya karena ia pergi meninggalkannya begitu saja tanpa pesan. Wida pun segera mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Ia memang sengaja mematikan ponselnya tadi, saat berada di dalam mobil Ryan, karena pikirannya yang sedang kalut.


Dan benar saja, setelah ia mengaktifkan ponselnya, dilihatnya banyak panggilan dan pesan yang masuk baik dari Prima ataupun Asti. Rupanya mereka mencemaskan dirinya.


Ryan yang duduk di sofa lain yang tidak jauh darinya, memperhatikannya dalam diam. Namun saat dilihat perubahan ekspresi wajah Wida yang berubah saat melihat ponselnya, ia pun bertanya, "Kenapa? Apakah 'dia' menghubungimu?"


Ryan memakai kata 'dia' untuk menyebut nama Prima.


Wida pun langsung menoleh ke arah Ryan ketika mendengar pertanyaan Ryan yang terdengar sinis. Namun ia tidak mengatakan apa-apa dan kembali tertunduk menatap ponselnya.


"Aku tahu masalah yang sedang Kakak hadapi," kata Ryan lagi yang membuat Wida kembali menoleh ke arahnya.


"Tapi Kakak tidak usah khawatir, aku akan membantu Kakak. Ayahku adalah pemilik sekolah Jaya, aku akan meminta bantuannya agar Kakak tetap sekolah disana," janji Ryan pada Wida.


Wida memperbaiki duduknya.


"Benarkah?" tanya Wida dengan semangat seakan menemukan sebuah harapan untuk masalahnya.


"Benarkah ayahmu pemilik sekolah kita?" tanya Wida sekali lagi untuk meyakinkan dirinya pada apa yang barusan ia dengar.


Ryan tersenyum lalu mengangguk menjawab pertanyaan Wida.


"Aku tahu, Kakak menangis tadi karena keputusan Pak Barja. Tapi, apapun keputusan itu, Kakak tidak usah khawatir. Aku akan membantu agar Kakak tetap di sekolah Jaya.."


Prima melajukan motornya dengan kecepatan penuh agar segera sampai kerumahnya. Saat pamit pada Ibu Wida, ia mengatakan mungkin Wida sedang bersama Asti saat itu. Jadi ia meminta Ibu Wida tidak usah cemas, karena ia akan menjemput Wida.


Setelah sampai dirumah, ia segera mencari ayahnya diruang kerjanya. Dilihatnya ayahnya yang sedang membaca sebuah buku dengan seriusnya. Tanpa peduli apa ayahnya akan merasa terganggu atau tidak, Prima langsung menerobos masuk keruangan itu.


"Pih, aku mau bicara!" katanya membuat ayahnya sedikit terkejut karena suaranya yang cukup lantang menggema di ruangan itu.


Sang ayah langsung menutup bukunya. Dilepasnya kaca mata baca yang dipakainya, dan diletakkannya dimeja.


"Tumben kau mau bicara sama Papih, biasanya kau malah kabur bila Papih mendekat," katanya dengan suara bijaknya.


Prima menggaruk kepalanya yang tak gatal, karena perkataan ayahnya ada benarnya juga. Ia memang paling enggan bicara dengan ayahnya yang selalu penuh dengan wejangan. Dengan senyum malu yang tersunging dibibirnya, ia berjalan mendekati ayahnya.

__ADS_1


"Tapi, Pih... kali ini aku butuh bantuan Papih," kata Prima merendahkan volume suaranya.


"Ada apa?" tanya ayah Prima sambil menyandarkan tubuhnya dengan sikap santai. "Kenapa kau tiba-tiba butuh bantuan Papih?"


"Aku... terkena masalah disekolah. Dan karena aku... seseorang akan di keluarkan dari sekolah," kata Prima dengan wajah sedikit tertunduk karena takut melihat reaksi ayahnya.


Ayah Prima mengerutkan alisnya.


"Apa yang kau lakukan sampai merugikan orang seperti itu? Kau berkelahi?"


Tiba-tiba ibu Prima datang dan langsung masuk mendekati putranya.


"Ada apa?" tanyanya serius, "siapa merugikan siapa?"


Sepertinya ia telah mendengar pembicaraan suami dan anaknya.


Prima yang agak terkejut dengan kedatangan ibunya, langsung menoleh kearahnya dengan mulut terbungkam.


"Ini... katanya Prima melakukan sesuatu yang membuat seseorang akan di keluarkan dari sekolahnya," ayah Prima mewakili Prima menjawab pertanyaan ibunya.


"Apa?" suara ibu meninggi, "Siapa yang akan di keluarkan? Memangnya apa yang kau lakukan padanya hingga ia di keluarkan? Kenapa Nina tidak cerita apa-apa pada Mamih?"


"Wida, Mih. Ia terkena masalah karena aku... dan akan dirumahkan. Sedangkan aku... yang telah membuatnya terkena masalah hanya mendapat surat peringatan. Karena kata Pak Barja dia menghormati Papih. Bukankah itu tidak adil? Membedakan hukuman hanya karena status orang tua?"


"Memangnya apa yang kau lakukan hingga ia harus di rumahkan?" tanya sang ayah dengan nada menyelidik.


Prima berpaling ke ayahnya.


"Aku dan Wida.. masuk kesebuah penginapan..." kata Prima yang harus terpotong karena pekikkan ibunya yang terkejut mendengar perkataannya.


"Apa!? Penginapa?! Mau apa kalian kesana?!" pekik ibu Prima tertahan.


"Tenang, Mih.. biarkan Prima bercerita dulu.." kata ayah Prima menenangkan istrinya.


Ibu Prima menatap suaminya.


"Bagaimana aku bisa tenang? Penginapan?"

__ADS_1


Prima menghela napas.


"Kami tidak melakukan apa-apa disana, Mih," lanjut Prima membuat ibunya kembali menatapnya.


"Waktu itu, aku ingin mengantarkan Wida pulang, setelah ia berkunjung kerumah kita terakhir kalinya. Tiba-tiba saja perut Wida sakit dan harus kekamar kecil. Dan tempat terdekat saat itu adalah penginapan itu. Jadi kami menumpang untuk ke toilet di sana. Hanya itu saja. Tapi ternyata ada yang melihat kami, dan memfotonya, lalu menyebarkannya di sekolah. Kalau Mamih atau Papih tidak percaya, bisa ditanyakan pada resepsionis disana," Prima menceritakan kejadiannya dengan panjang lebar.


"Hanya itu?" tanya ibu Prima dengan penasaran.


Prima mengangguk.


"Iya.. hanya itu."


"Kau bilang masalah itu telah tersebar di sekolah. Tapi kenapa Mamih tidak mendengar apa-apa dari komite? Bahkan Nina juga tidak bercerita apa-apa..." kata ibu Prima merasa heran karena tidak tahu apa-apa.


"Sebelum masalahnya tersebar luas, Pak Anton dan Bu Shinta telah mencegahnya. Juga Pak Barja, ia tidak ingin komite tahu," Prima menjelaskan, "Dan Nina... mungkin ia tidak ingin Mamih panik.."


Ayah Prima terlihat tenang, ia tidak seterkejut istrinya ketika mendengar cerita Prima. Hal itu membuat ibu Prima menatapnya heran.


"Kenapa kau diam saja?" tanyanya pada suaminya. "Apakah menurutmu itu baik-baik saja dengan apa yang dilakukan Prima dan Wida? Bagaimana jika orang berpikiran buruk dan menduga mereka melakukan hal yang tidak-tidak? Bukankah itu akan merusak nama baik keluaga kita?" ibu Prima tampak emosi dan tidak bisa menerima masalah yang di hadapi Prima.


Ayah Prima tersenyum.


"Kenapa?" tanyanya pada istrinya, "apa kau tidak percaya pada anakmu?"


"Bukannya aku tidak percaya... aku hanya takut orang akan berpikiran negatif tentang anak kita," kata ibu Prima dengan nada kesal.


Lalu ia berpaling menatap tajam Prima. "Jangan-jangan benar kata Nina, kalau Wida itu membawa pengaruh buruk untukmu..!"


"Mamih..!" pekik Prima marah, karena ibunya membawa-bawa nama Wida. "Bukan Wida yang membawa aku ke penginapan itu! Tapi aku yang membawanya kesana! Jadi bukan Wida yang membawa pengaruh buruk bagiku, tapi aku! Aku yang membawa pengaruh buruk baginya!"


"Kau...!"


"Sudahlah.." kata ayah Prima sambil berdiri dan berjalan menghampiri anaknya. "Yang sudah terjadi ya sudah, kita tidak bisa mengubah itu. Tapi kita bisa memperbaikinya. Papih akan menghubungi Pak Barja untuk menyelesaikan masalah ini, dan mencegah dia untuk mengeluarkan temanmu itu..."


"Bagaimana kau akan menyelesaikan masalah ini?" tanya ibu Prima seakan meragukan sikap suaminya. "Mereka itu masuk kepenginapan, bukan ke mall! Dan itu bukan hal yang baik bagi seorang pelajar! Dan orang-orang pasti akan mengecamnya..!"


Ayah Prima menatap istrinya lembut.

__ADS_1


"Tapi orang-orang itu tidak ada disana, dan tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku.. aku ada disana dan tahu apa yang terjadi dan apa yang mereka lakukan. Aku bisa membuktikan bahwa mereka benar-benar hanya ke toilet.."


__ADS_2