
Ketika pertama kali dilihatnya Prima dan Wida di kantin beberapa waktu lalu, ia pikir Prima hanya menggoda Wida. Walaupun setelahnya terdengar rumor bahwa Prima jadian dengan Wida.. ia tidak ambil pusing.. karena sikap Prima padanya tidak berubah. Namun kejadian yang ia dengar kemarin saat Prima dan Ryan bertengkar karena Wida sempat membuat galau hatinya. Karena tidak biasanya Prima berkelahi, apalagi hanya karena seorang perempuan.
Sifa yang duduk di hadapan Nina tahu kalau sahabatnya itu sedang cemburu melihat kedekatan Prima dan Wida. Karena ia tahu bagaimana perasaan Nina terhadap Prima yang telah di pendamnya sejak lama. Sifa meraih tangan Nina untuk menyadarkannya agar ia tidak terus melihat kearah tempat Prima duduk. "Makanlah.. nanti keburu bel.." katanya mengingatkan Nina.
Nina menghela napas yang dirasa menyesakkan dadanya. Ia tersenyum pada Sifa seakan ingin mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan mulai memakan mie pesanannya yang mulai dingin.
Anin yang sedari tadi diam dan hanya sibuk dengan makanan yang di hadapinya, akhirnya buka suara, "Setahu aku Wida belum menerima pernyataan Prima. Itu aku dapat info dari Asti.. teman sebangkunya.." katanya ikut menenangkan hati Nina.
"Jadi kamu ada kesempatan untuk menyatakan perasaanmu. Mungkin saja Prima mendekati Wida hanya untuk memanasi kamu", lanjutnya menyemangati.
Nina menatap Anin dengan tatapan yang mulai bersemangat. Benar juga.. pikirnya.. mungkin Prima menunggunya. Buktinya ia selalu di ajak Prima dalam segala kegiatannya. Pertandingan basket, kepengurusan OSIS dan lainnya. Bahkan tadi Prima tidak menolak saat tangannya ia gelayuti.
"Yah.. bisa jadi.." Sifa mendukung pendapat Anin. "Kamu cobalah dekati Prima.. bukan sebagai sahabat lagi.. tapi sebagai seseorang yang menyukainya. Kali aja dengan begitu Prima akan tahu bagaimana perasaan kamu yang sebenarnya padanya."
__ADS_1
Nina tersenyum lebar dan kembali bersemangat.. mienya pun dilahapnya dengan cepat. Anin dan Sifa tersenyum senang melihat sahabatnya kembali ceria.
Sementara itu, Prima yang masih penasaran kenapa tadi Wida sembunyi saat ia datang mencarinya, terus menanyakannya pada Wida.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku.. kenapa tadi sembunyi saat aku datang", katanya setelah dilihatnya Wida selesai makan.
Wida meletakkan sendok yang dipegangnya ke piring. Ia menatap Prima. Lalu menghela napas dan menjawab, "Aku ingin kita tidak bertemu dulu", katanya, "tapi kamu selalu saja datang."
"Kenapa tidak.. kamu kan pacar aku.. aku ingin makan bersama saat istirahat dengan pacar.. kurasa sah aja", jawab Prima sambil tersenyum tidak peduli dengan wajah Wida yang mulai terlihat kesal.
"Tapi kan kamu tidak menolaknya..." jawab Prima merasa Wida memang tidak menolaknya.
"Aku menolaknya!" Wida melotot kesal karena sikap Prima yang terlihat ngeyel.
__ADS_1
"Kapan..?" tanya Prima sedikit menggoda, "aku kan bertanya sama kamu.. 'kamu tidak menolakkan jadi pacarku?' terus kamu jawab 'tidak'. Ditanya lagi.. kamu jawab 'iya'.. nah kapan kamu menolaknya?" Prima tersenyum menang.
Wida memukul meja karena rasa kesalnya semakin menjadi.
"Apa pun jawabannya 'iya' atau 'tidak'.. pasti sama saja hasilnya!" katanya. "Coba kamu ubah dong pertanyaannya.. jangan seperti itu!" kekesalan Wida meluap.
Prima malah tertawa melihat kepolosan Wida diantara rasa kesalnya. "Suka-suka aku dong", godanya, "Pokoknya mulai dari saat kamu tidak menolak aku jadi pacarmu.. berarti kamu pacar aku sekarang. Dan aku tidak ingin ada laki-laki lain selain aku.. terutama Ryan. Jangan sampai kejadian kemarin terulang. Okey?" Prima mengingatkan Wida akan kejadian kemarin saat dirinya bertengkar dengan Ryan. Wida pun akhirnya terdiam.. benar.. ia juga tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi..
Prima bangun dari duduknya dan bersiap untuk kembali kekelas.
"Ayo.." ajaknya pada Wida, "sudah mau masuk.."
Wida diam sesaat, lalu menjawab, "Aku mau ke toilet dulu.."katanya, "kamu duluan ajah. Makasih somay sama es tehnya."
__ADS_1
Prima tidak ingin memaksa Wida.. ia hanya mengangguk sambil tersenyum manis. Di usapnya rambut Wida dengan sayang. "Ya udah.. aku duluan.. ingat langsung kembali kekelas yah.. dan tunggu aku saat pulang nanti.." kata Prima dan akhirnya pergi meninggalkan Wida yang masih duduk terdiam.
Dan tak lama setelah dilihatnya Prima telah jauh berjalan.. Wida pun bangun dari duduknya dan bergegas untuk kembali kekelasnya..