
Tiga jam terakhir dirasakan berlalu dengan lambat, bagi Wida dan bagi Prima. Wida dan Prima selalu saja melihat jam tangan mereka dengan gelisah, seakan tidak sabar untuk mendengar bel tanda pulang berbunyi.
Wida yang ingin cepat pulang, agar bisa menghindari Prima. Sedangkan Prima ingin cepat menemui Wida, walau hanya sekedar melihatnya saja.
Dan yang ditunggu pun berbunyi memekakkan telinga. Disambut berbagai suara dari para siswa yang mendengarnya. Prima cepat-cepat memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas. Ia ingin melihat keadaan Wida. Perasaannya masih tak enak saat meninggalkan Wida yang menangis tadi.
"Bukannya Wida melarangmu untuk menemuinya?"kata Eko mengingatkan Prima.
"Aku hanya ingin melihatnya saja," jawab Prima sambil berdiri.
Baru saja Prima akan keluar dari bangkunya, Nina sudah berdiri disamping meja menunggunya.
"Kau akan mengantarku pulang, kan?" kata Nina saat dilihatnya Prima yang sudah siap untuk pulang.
__ADS_1
Prima terkesiap. Dengan sengaja ia menekan bahu Eko yang akan berdiri.
"Aku ada sedikit urusan dengan Eko, kau pulang saja duluan. Ya kan, Ko?"
Eko yang selalu jadi bantalan oleh sobatnya ini, hanya mengangguk pasrah.
"Kepalaku masih sedikit pusing kalau naik angkot..." Nina memakai alasan untuk memaksa Prima.
Prima menghela napas, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menolaknya. Ia tidak ingin disalahkan orang tua Nina, kalau ada apa-apa pada Nina. Karena ia sudah kadung janji untuk menjaga Nina hari ini.
Sesaat ada keinginan terlintas untuk mengejar Wida, menarik tangannya dan melarangnya jalan dengan Soni. Tapi saat diingatnya bahwa ia yang menyuruhnya bareng dengan Soni tadi pagi, ia hanya bisa menekan perasaannya.
Prima memang tidak menyadari saat Soni melintas tadi ketika di dalam kelas, karena ia terlihat sedang sibuk menghadapi Nina. Dengan santai Soni berjalan menuju ke kelas Wida.
__ADS_1
Wida yang terlihat tidak bersemangat menolak ajakan Soni untuk di antar pulang kerumah.
"Aku ingin pulang sendiri," tolak Wida pada Soni.
"Tapi aku tidak enak pada Ibumu, aku sudah janji akan mengantarmu pulang," Soni berusaha membujuk Wida.
Wida menghela napas.
"Aku bisa menghadapi ibuku, kau tidak usah khawatir..." Wida berdiri lalu berjalan melewati Soni yang terdiam, karena bingung bagaimana lagi ia harus membujuk Wida. Dan akhirnya Soni hanya mengikuti Wida yang berjalan bersama Asti dari belakang.
Prima berpikir kalau Soni mengantar pulang Wida, saat dilihatnya motor Soni yang sudah tidak ada diparkiran lagi. Dengan perasaan tak menentu ia membonceng Nina untuk mengantarnya pulang.
Wida dan Asti berjalan menuju jalan raya tempat biasa Wida naik angkot. Tanpa sengaja Wida melihat Prima melintas dengan vespanya bersama Nina. Wida sempat terpaku saat melihatnya. Namun ia sadar, begitulah Prima, sepertinya ia belum bisa lepas dari Nina.
__ADS_1
Tanpa sadar Prima melajukan motornya dengan cepat. Sampai-sampai Nina harus menegurnya agar Prima memelankan kendaraannya. Entah mengapa hati Prima tidak tenang hari ini. Apakah karena rasa bersalahnya pada Wida?
Saat motor Prima berhenti di area lampu merah, tiba-tiba matanya menangkap sosok yang ia kenal. Soni... Tapi, mengapa ia berkendara sendiri? Bukankah tadi ia bersama Wida saat keluar dari sekolah? Lalu... dimana Wida? Apakah Wida pulang sendiri? Kini Prima merasa semakin bersalah pada Wida...