
Akhirnya hari Sabtu pun tiba. Wida yang biasanya sudah rapi, masih berbaring di tempat tidurnya. Sepertinya ia malas untuk berangkat ke sekolah. Karena hari ini adalah hari bertandingnya Prima dan teamnya.
Dari semalam Asti sudah rewel menelponnya, untuk mengingatkan pertandingan basket hari ini.
"Pokoknya kau harus datang. Buktikan ke Prima, kalau kau tidak ingin putus darinya. Buktikan kalau itu semua salah paham," kata Asti semalam.
Namun perkataan Prima yang sepertinya marah, masih terngiang di telinganya. 'Kalau mau putus, putus sekalian, jangan pakai sementara..' sakit rasanya hatinya bila ingat kalimat yang satu itu.
"Wida!" teriak ibu dari luar, "apa kau tidak mau berangkat ke sekolah?"
Wida terdiam tidak menjawab panggilan ibunya. Ia masih bimbang, apakah akan berangkat atau tidak.
Ibu yang heran karena Wida tidak menjawab panggilannya, membuka pintu kamar. Hanya kepalanya saja yang terlihat dari balik pintu.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya ibu langsung tanpa basa basi karena melihat Wida belum siap-siap dan masih rebah di tempat tidur.
"Bu... bolehkah hari ini aku tidak masuk dulu? Badanku kurang enak. Kayanya aku masuk angin," kata Wida beralasan dengan manja.
Ibu diam sejenak. Kemudian ia masuk dan duduk di pinggir tempat tidur. Dipegangnya dahi Wida.
"Kau tidak demam," kata ibu setelah dirabanya dahi Wida. "Kau lagi malas ya, ke sekolah?" tebak ibu. Dan tebakkan itu berhasil membuat Wida gugup.
Ibu yang hapal kebiasaan Wida kalau berbohong, menarik tangan Wida dari balik selimut.
"Apanya yang tidak enak badan! Lihat tanganmu mengepal! Sudah bangun! Tidak usah beralasan macam-macam!" kata ibu sambil berdiri dan keluar dari kamar.
"Cepat! Nanti terlambat!"
__ADS_1
Wida yang kesal karena ibunya tahu ia berbohong, menendang-nendang selimutnya. Dengan gerakkan yang sengaja dilambatkan akhirnya ia mengganti bajunya dan bersiap-siap untuk kesekolah.
Prima menunggu Wida di gang sekolah dengan cemas. Sudah hampir satu jam ia disana. Walau selama ini Wida tidak pernah menyadari, kalau ia selalu menunggu dan mengikutinya dari belakang. Sebenarnya ia sudah tidak tahan dengan hubungan mereka yang seperti ini. Sejak ia mencium Wida, ia hampir tidak bisa menahan diri bila melihat Wida. Ingin rasanya ia memeluk gadisnya itu, menciumnya dengan sesuka hatinya dan tak akan pernah melepasnya.
Namun karena 'putus sementara' ini, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan menyentuhnya, melihatnya saja harus jarak jauh. Pokoknya hari ini, semua masalah ini harus di akhiri. Tapi bagaimana bisa diakhiri, kalau sampai jam segini saja Wida belum kelihatan batang hidungnya. Hatinya makin cemas, ia takut perkataannya kemarin dianggap serius oleh Wida, dan Wida benar-benar ingin putus darinya.
Dan Prima sepertinya tidak bisa menunggu lagi. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit. Setelah menghela napas panjang, akhirnya ia mengambil langkah seribu menuju sekolahnya.
Ternyata Wida berangkat ke sekolah dengan taksi. Setelah mengancam ibunya, kalau ia tidak akan berangkat kalau tidak dengan taksi. Karena ia tahu, ia pasti telat jika naik angkot. Ibunya pun terpaksa mengalah, dan tentu dengan syarat bahwa uang jajan Wida di potong separuh. Dengan menggerutu Wida menerima syarat ibunya, yang memang tidak mau rugi. Hee..
Wida sempat melihat Prima yang berlari masuk ke sekolah, saat ia turun dari taksi tidak jauh dari sekolahnya. Setelah membayar taksi, ia pun berlari masuk ke sekolah.
Namun apes bagi Wida, ternyata guru piket hari itu sedang melakukan razia untuk anak-anak yang suka terlambat. Terlihat Prima yang berdiri di antara anak-anak yang sedang berbaris karena terlambat...
__ADS_1