Romansa SMA

Romansa SMA
BAB LXXXIX : Kita... Berpisah Sejenak


__ADS_3

Prima bergegas masuk kekelas Wida. Dilihatnya Wida yang sedang merebahkan kepalanya di meja dengan posisi menghadap tembok. Dengan pelan Prima menghampirinya, lalu duduk disamping Wida.


Mata Wida yang terpejam terbuka saat dirasanya ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Walau ia sudah menduga siapa yang datang, tetap saja ia merasa terkejut saat menoleh untuk melihat siapa yang datang. Dengan wajah cemberut ia mengubah posisi duduknya.


Karena masih kesal, ia mengacuhkan Prima yang duduk disebelahnya dengan memandang ke luar jendela. Mulutnya terkunci rapat, jelas sekali kalau ia sedang menahan emosinya.


Prima duduk terdiam. Di pandangnya jari jemari Wida yang meremas-remas dengan gelisah di atas meja. Dari gerakan jari jemari Wida, Prima bisa merasakan kalau Wida sedang kesal. Tak tahan hanya berdiam diri, akhirnya ia menggenggam jemari itu.


Wida yang disentuh dengan tiba-tiba terkejut. Ia menarik tangannya yang di genggam Prima. Tapi Prima tak membiarkannya. Ia malah menarik tangan mungil itu kepangkuannya.


Wida mendelik marah. Walau mulutnya terkunci rapat, namun matanya mengekapresikan bahwa dirinya benar-benar marah.


Prima mengacuhkannya. Malah dengan sengaja digenggamnya tangan Wida dengan dua tangannya.


"Lepas!" akhirnya Wida membuka mulutnya. Matanya yang masih terlihat marah, menatap Prima tajam.

__ADS_1


Prima yang ditatap seperti itu bukannya takut, malah mendekatkan wajahnya ke Wida. Wida yang terkejut reflek mundur.


"Jangan marah dong," kata Prima pelan sambil menatap Wida. "Beneran... aku lebih baik menjemputmu daripada Nina."


Wida membuang mukanya menghindari tatapan Prima. Mulutnya kembali terbungkam. Dirasakannya tangan Prima yang membelai hangat punggung tangannya.


"Wida..." panggil Prima lembut mencoba membujuk.


"Apa sebaiknya kita jangan ketemuan dulu, ya?" kata Wida tiba-tiba tanpa berpaling, yang membuat jantung Prima seakan berhenti seketika.


"Apa?!" tanya Prima terkejut, membuat genggaman tangannya mengendur. Dan kesempatan itu diambil Wida yang langsung menarik tangannya.


"Karena sepertinya kau belum bisa melepas Nina..." kata Wida pelan sambil menoleh dan menatap Prima.


"Apanya yang harus dilepas? Nina bukan siapa-siapa aku!" dalih Prima. "Aku tidak punya perasaan pada Nina. Dari dulu ia hanya teman bagiku."

__ADS_1


"Iya... teman. Teman yang membuat kau mengingkari janji pada pacarmu, dan menyerahkannya pada orang lain, yang jelas-jelas sedang mendekatinya..!" kata Wida dengan mata yang mulai tergenang air mata.


Prima terdiam. "A... aku..." kata katanya terhenti, ia bingung harus bicara apa.


"Kau tahu Soni sedang mendekatiku. Bahkan ibuku memihaknya. Dan sekarang... tadi pagi kau menyuruh aku berangkat bareng Soni! Apa itu bukan berarti kamu menyerahkan aku ke Soni? Dan... tiba-tiba aku melihatmu... di jalan dengan membonceng Nina, yang jelas-jelas suka padamu! Apa ini tidak aneh?" Wida yang sedari tadi menahan emosinya, kini tumpah meruah tanpa sisa dengan air mata, yang juga tumpah dari matanya.


Prima terpaku. Ia tidak menyangka jika Wida bisa bicara seperti itu.


"Aku... Aku tidak pernah berpikiran seperti itu. Aku tidak bermaksud menyerahkan dirimu ke Soni. Aku hanya tidak ingin kamu telat kesekolah..." kata Prima mencoba memberi pemahaman agar Wida mengerti maksudnya.


"Kau bisa menyuruhku naik angkot! Tapi ini... dengan santainya kau menyuruhku ikut Soni. Kau tahu apa yang kupikirkan? Aku pikir...aku pikir kau sudah menyerah terhadapku... " tangis Wida pun pecah, "aku pikir... kau sudah tidak menyukaiku lagi..." kata Wida terisak.


Sambil menangis Wida menelungkupkan wajahnya di meja dengan bertumpu pada lengannya. Tubuhnya tampak bergetar karena menahan isaknya agar tidak bersuara. Air matanya yang menetes kembali membasahi rok abu-abunya.


Prima tersandar lemas pada sandaran kursi. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Wida akan menyingkapi maksudnya seperti ini.

__ADS_1


Di angkatnya tangan kanannya untuk membelai punggung Wida. Namun saat tangannya menyentuh punggung Wida, Wida menggerakkan tubuhnya menolak punggungnya disentuh.


"Pergilah... aku ingin sendiri..."


__ADS_2