
"Huh! Bikin kesal saja!" kata Sifa saat melihat Prima yang berlari ke arah Wida untuk meminta botol minumnya. Nina yang juga melihatnya hanya terdiam.
"Kau tegor dong, Nin! Masa kau diam saja Wida merebut Prima darimu. Pakai pura-pura bubar segala, lagi!" Sifa mengompori Nina.
Nina tetap diam tak acuh sambil mengalihkan pandangannya ketempat lain. Sebenarnya ia agak menyesal juga menerima ajakan Prima untuk menonton pertandingan, karena ternyata harus melihat pemandangan yang membuat hatinya kesal.
"Kau ikut ya, Nin, lihat pertandingan hari ini," ajak Prima tadi dengan menghampirinya ke mejanya. Nina yang tidak menyangka bahwa Prima akan mengajaknya, langsung mengangguk cepat karena senang. Bagaimana tidak, ia mengira Prima marah padanya dan akan mengabaikannya. Namun ternyata Prima masih membutuhkannya.
Tapi ia tidak menyangka akan melihat kemesraan Prima dan Wida secepat ini. Ia mengira bahwa sandiwara mereka akan terus berlanjut, sehingga ia bisa mengambil kesempatan untuk dekat lagi dengan Prima. Tapi ini... sejak kapan mereka mulai dekat lagi? Bukankah kemarin Prima terlihat marah pada Wida, karena Ryan mendekatinya? Nina jadi pusing sendiri, terlalu banyak pertanyaan dipikirannya.
Sifa menyenggol Nina.
"Kalau kau tidak berani, biar aku yang bicara!" kata Sifa seraya bangun dari duduknya dan menghampiri Wida. Nina terkejut dengan kenekatan Sifa. Karena takut Sifa akan bikin ulah, Nina pun bangun dan mengikuti Sifa dari belakang. Anin yang bingung dengan tingkah kedua temannya, tanpa mengerti ikut bangun dan menyusul keduanya.
"Romantis banget!" seru Sifa begitu dekat di bangku yang diduduki Wida, Asti dan Uli. "Bukannya kalian sudah putus, ya?"
__ADS_1
Wida cs menoleh serempak ke arah datangnya Sifa. Namun Wida tidak menanggapi perkataan Sifa, dan kembali melihat ke lapangan.
Sifa yang merasa dirinya di abaikan menjadi kesal.
"Sombong amat, sih! Ditanya kok gak jawab!"
Asti yang ada disebelah Wida nampak kesal, lalu bangun berdiri.
"Memangnya perlu ya, di jawab?" tanya Asti kesal sambil mendelikkan matanya.
"Ya setidaknya jawablah kalau di tanya..!" jawab Asti tak kalah ketusnya.
"Iya... kami memang sempat putus, tapi kami mencoba baikkan kembali..." jawab Wida datar.
"Putus... atau cuma mengecohkan kami? Atau jangan-jangan cuma cari sensasi, ya? Biar jadi bahan gosipan anak-anak lain?" cecar Sifa.
__ADS_1
Nina yang merasa Sifa sudah terbawa emosi, menarik tangannya.
"Jangan begitu..." katanya pelan.
Sifa menepis tangan Nina.
"Biar saja! Biar dia sadar kalau dia itu bukan artis. Jangan suka cari sensasi, pakai sandiwara putus segala!"
Wida berusaha menahan emosinya. Namun tidak dengan Asti. Asti yang merasa Sifa sudah keterlaluan maju dan berdiri didepan Wida.
"Keterlaluan ya, kamu!" serunya. "Tidak usah ikut campur dengan urusan orang. Mau putus atau tidak, memangnya merugikan kamu? Pakai bilang cari sensasi. Kalian saja yang pengen tahu urusan orang!"
Sifa yang benar-benar sudah terbawa emosi, hampir menerjang Asti kalau saja tidak di pegangi oleh Nina dan Anin.
"Ada apa ini?!" tiba-tiba Prima datang dengan napas yang masih menderu karena sedang bertanding.
__ADS_1
Rupanya Prima yang sedang berada ditengah pertandingan melihat Sifa, Nina dan Anin datang mendekati bangku yang diduduki Wida. Disaat ia merasa bahwa Nina dan yang lainnya cuma menegur, ia masih lanjut bertanding. Tapi tak lama Eko memberitahunya lewat isyarat agar Prima melihat kearah penonton.
Prima yang melihat Asti tampak maju mendekati Sifa dengan wajah kesal, mulai hilang fokusnya dalam pertandingan. Ia merasa Wida sedang di ganggu oleh Sifa dan Nina. Prima langsung melempar bola yang sedang di pegangnya ke Eko, dan menunjuk Iwan yang sebagai cadangan untuk menggantikannya. Dan ia sendiri langsung berlari ke arah tempat Wida duduk...