Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CXIV : Jangan...!


__ADS_3

Wida yang yakin bahwa Prima tidak akan macam-macam dengannya, duduk disamping Prima dengan debaran jantungnya yang cepat. Wajahnya menoleh kesana kemari karena gelisah.


Belum lama ia duduk, tiba-tiba tangan Prima merangkul bahunya. Wida yang terkejut, menegang seketika. Belum sempat ia melakukan apa-apa, kembali tangan Prima yang satunya bergerak cepat meraih wajahnya dan memaksanya untuk menghadap ke wajah Prima.


Sekilas mata mereka beradu pandang, sampai akhirnya mata Prima beralih kebibirnya dan mendaratkan bibirnya dengan cepat disana.


Wida terkesiap. Tangannya yang bebas berusaha mendorong Prima. Tapi gerakkan bibir Prima yang bagai menari dibibirnya, membuatnya gagal fokus. Dorongannya pun melemah, dan perlahan akhirnya Wida malah menikmati setiap cengkraman bibir Prima.


Seperti awalnya, Prima juga mengakhiri ciumannya dengan tiba-tiba. Dilepasnya bibir Wida dari bibirnya dengan perlahan. Dipandanginya wajah Wida yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Wajah yang belakangan ini selalu hadir disetiap mimpinya.


Setelah puas memandanginya, Prima kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Wida yang sepertinya memang sudah menunggu. Baru di pagutnya bibir atas Wida, tiba-tiba terdengar suara handel pintu di putar.


Spontan keduanya saling menjauhkan wajah mereka. Bahkan Wida menggeser duduknya agar tidak terlalu dekat dengan Prima. Keduanya menoleh kearah pintu dengan menahan napas, menunggu siapa yang akan muncul dari balik pintu.


Pintu pun terbuka, dan ternyata Dewi yang muncul dari sana. Prima dan Wida menghela napas berbarengan. Merasa lega karena Dewi yang datang.

__ADS_1


"Kak!" kata Dewi ceria sambil berjalan mendekati Prima dan Wida.


"Ada apa?" tanya Prima begitu Dewi mendekat.


"Mamih menyuruh kakak dan kak Wida makan siang dulu," katanya sambil melirik Wida yang terlihat diam dengan kepala tertunduk.


"Kak Prima... kakak melakukan sesuatu ya, pada kak Wida?" tanya Dewi tiba-tiba membuat Wida mengangkat kepalanya dan menatap Dewi.


"Melakukan apa?" Prima balik bertanya sambil berdiri dan berjalan ke arah lemari.


"Memangnya... ada apa?" tanyanya dengan gugup pula, ia cemas kalau Dewi mengetahui apa yang ia lakukan dengan Prima sebelum Dewi datang.


"Tidak.. hanya saja wajah kak Wida terlihat pucat," kata Dewi sambil duduk di samping Wida.


"Ooh... " kata Wida pelan. Huft! Wida mendesah pelan. Bagaimana ia tidak pucat... hampir saja ia kepergok olehnya.

__ADS_1


"Makanya... kalau masuk kamar orang tuh, ketuk pintu dulu," kata Prima sambil mengganti baju sekolahnya dengan t-shirt polos berwarna navy. "Jadi kak Wida tidak akan pucat begitu."


Wida spontan melihat kearah Prima dengan mata mendelik, saat mendengarnya. Bagaimana sih Prima ini? Pikirnya. Apa maksudnya ia berkata seperti itu? Apa ia ingin memberitahu Dewi bila mereka sedang berciuman tadi?


Prima yang tahu Wida mendelik padanya, hanya tersenyum menggoda dan mengacuhkannya.


"Loh... memangnya kenapa? Apa aku masuk di saat yang tidak tepat, tadi?" tanya Dewi lugu.


"Ya..." jawab Prima sambil berjalan mendekat ke arah Wida dan Dewi. Sekarang ia telah mengganti bajunya lengkap dengan levis hitam.


"Apa?" tanya Dewi penasaran.


Wajah Wida kembali memucat. Apa Prima benar-benar akan mengatakannya?


Prima sangat menikmati saat melihat wajah Wida yang tampak memucat itu. Ia membungkuk menghadapkan wajahnya kewajah Wida. Matanya menatap Wida dengan tatapan menggoda. Saat ia akan membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, dilihatnya Wida menggeleng pelan. Prima tersenyum jail. Lalu dengan posisi masih membungkuk didepan Wida ia menoleh ke Dewi dan berkata, " Kami sedang berciuman, tadi..."

__ADS_1


__ADS_2