Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CLI : Biar Aku Yang Terima...


__ADS_3

Di kantin terlihat ramai oleh anak-anak yang sedang beristirahat sambil mengisi perut mereka. Asti, Eko, Wida dan Prima, juga tampak duduk disana.


"Bagaimana? Apakah akan terjadi sesuatu pada kalian? Apakah kalian akan mendapat hukuman?" tanya Asti penasaran, karena sejak Wida kembali kekelas, ia belum berbicara apa-apa.


"Tidak," jawab Prima. "Pak Anton dan bu Shinta mempercayai kami. Hanya saja, mereka penasaran dengan orang yang mengambil dan mengirim gambar itu. Mereka akan menyelidikinya."


"Baguslah!" sorak Asti senang. "Jadi kita bisa menemukan siapa penerormu selama ini."


Wida hanya terdiam. Hatinya masih kalut, karena masalah ini sepertinya akan masih panjang dan berlanjut.


"Tapi bagaimana caranya pak Anton dan bu Shinta menyelidiki?" tanya Asti lagi dengan bingung.


"Katanya, mereka akan menyelidiki dengan melihat dari cctv yang ada di depan kantor," Eko menjawab pertanyaan pacarnya, karena pPrima dan Wida hanya terdiam.


"Oooh... begitu.." Asti manggut-manggut seakan mengerti.


"Tapi... kalian jangan bilang siapa-siapa dulu tentang masalah ini, karena ini rahasia," kata Prima akhirnya buka suara. "Biarlah 'dia' merasa senang karena dikiranya kita mendapat hukuman karena di panggil guru."


Bu Shinta tampak menyuruh salah seorang murid untuk memanggil pak Samin, penjaga keamanan sekolah, untuk datang ke kantor. Dan tidak berapa lama menunggu, pak Samin pun datang.


Bu Shinta yang memang sengaja menunggu pak Samin didepan kantor, langsung mengajaknya ke ruang BP.

__ADS_1


"Ada apa Bu, panggil saya?" tanya pak Samin begitu duduk di hadapan bu Shinta.


"Saya ada perlu sedikit, Pak," kata bu Shinta dengan nada serius. "Saya ingin melihat rekaman cctv dua hari yang lalu. Ada sesuatu yang harus saya lihat, tapi bapak jangan bilang siapa-siapa. Apalagi kepala sekolah. Ini hanya saya dan pak Anton saja yang tahu."


Pak Samin tampak mengerutkan alisnya, lalu mengangguk.


"Kapan Ibu mau melihatnya?"


"Kalau bisa nanti, setelah anak-anak masuk kelas."


"Baiklah, saya tunggu ibu di pos ya..."


Nina memakan somaynya dengan rasa enggan di kantin. Matanya tak lepas dari sudut kantin, dimana Prima dan Wida berada.


Sifa dan Anin yang selalu setia menemani Nina, mau tidak mau jadi ikut melihat kearah pandangan Nina. Tampak oleh mereka, Prima yang sepertinya sedang membujuk Wida yang wajahnya terlihat galau. Tangan prima terlihat sedang menggenggam tangan Wida.


"Lebay sekali sih, mereka," celetuk Anin, "Gak sadar apa kalau kelakuan mereka jadi sorotan orang."


Sifa menoleh ke arah Anin yang ada disebelahnya dengan alis berkerut.


"Kenapa?" tanya Anin saat melihat pandangan heran Sifa padanya, "aku benar, kan? Harusnya mereka malu, dengan tertangkapnya mereka saat masuk kepenginapan. Jangan masih terlihat mesra-mesraan begitu."

__ADS_1


Entah mengapa Sifa merasa kesal dengan perkataan Anin yang kali ini ceplas-ceplos, tanpa memandang perasaan Nina. Di cubitnya paha Anin dengan mata melotot, memberi isyarat kalau ada Nina yang juga mendengarnya.


Anin meringis kesakitan sambil mengusap pahanya yang di cubit Sifa.


"Iya.. maaf.. habisnya aku kesal," katanya membela diri.


Nina mendesah. Ia tidak mempedulikan perkataan kedua sahabatnya. Wajahnya tertunduk dan tangannya mengaduk-aduk somaynya tanpa semangat.


"Bukan Prima yang tak tahu malu..." katanya pelan, "tapi Wida..."


Nada suaranya terdengar kesal saat menyebut nama Wida.


Sifa dan Anin menoleh ke arah Nina berbarengan. Mereka melihat wajah Nina yang kini berubah kesal.


"Aku tidak terima kalau Prima dipermalukan karena perbuatannya. Apalagi kalau sampai Prima dapat masalah karenanya.."


Prima memang sedang membujuk Wida yang masih sedih karena memikirkan masalah yang sedang mereka hadapi. Kedua tangannya tampak menggenggam tangan Wida dengan erat.


Selepas Eko dan Asti pergi, Wida kembali murung. Ia merasa tidak yakin, bahwa bila pelaku di temukan, maka semua masalah akan berakhir. Tidak semudah itu... batinnya.


"Sudahlah... kau tidak usah khawatir. Bu Shinta bilang, ia akan membantu kita mencari pelakunya," bujuk Prima pelan.

__ADS_1


Wida hanya mendesah mendengarnya. Entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa ini belum berakhir dan masih akan berkepanjangan. Ditatapnya mata Prima lembut.


"Kau... janji, yah.. kalau ada apa-apa nanti, biar aku saja yang terima akibatnya..."


__ADS_2