Romansa SMA

Romansa SMA
BAB CLIV : Ada Pelaku Yang Lain...?


__ADS_3

Eko melangkah masuk kedalam kelas dimana Sofi berada. Di lihatnya Sofi yang sedang duduk dan berbicara dengan teman-temannya. Eko pun datang menghampirinya.


"Sofi, ya?" tanya Eko setelah berada di dekat Sofi.


Sofi menoleh, dilihatnya Eko dengan serius.


"Iya, ada apa, ya?" Sofi balik bertanya.


"Disuruh ke ruang BK sama pak Anton," kata Eko tanpa basa-basi.


Sofi tampak terkejut mendengarnya. Wajahnya yang tadi ceria mendadak pucat. Ada apa... ada apa pak Anton memanggilku? Batinnya panik. Apa karena...


"Sekarang?" tanyanya gugup.


"Iya..." Eko mengangguk.


Teman-teman Sofi tampak bertanya-tanya padanya kenapa pak Anton memanggilnya.


"Entahlah.. aku tidak tahu," jawab Sofi menjawab pertanyaan temannya. "Aku tinggal dulu, ya.." pamitnya.


Sofi mengikuti langkah Eko menuju ruang BK. Dari matanya yang bergerak-gerak tak menentu, menandakan bahwa ia sedang merasa cemas. Napasnya terdengar cepat, karena debaran jantungnya yg juga berdetak cepat. Diliriknya Eko, seakan takut bila kakak kelas yang ada disampingnya ini akan mendengar debaran jantungnya.


Entah mengapa tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak. Foto... batinnya. Matanya melebar. Apakah karena masalah itu ia dipanggil? Hatinya makin gelisah.


Eko melirik sekilas ke arah Sofi, sudut bibirnya tampak tersenyum kecil. Ia tahu bahwa Sofi terlihat gelisah. Sepertinya ia tahu, mengapa dirinya di panggil, batin Eko.


Nina, Anin dan Sifa yang masih melihat ke arah kelas yang di masuki Eko, agak terkejut saat melihat Eko keluar dari kelas dengan Sofi.


"Siapa dia?" tanya Nina pelan yang memang tidak mengenali Sofi. "Apakah dia orangnya?"


"Entahlah..." jawab Sifa yang ternyata juga tidak mengenalinya.


"Dia... Sofi..." jawab Anin mengambang seperti berbisik.


Nina dan Sifa serempak menoleh ke arah Anin.


"Kau mengenalnya?" tanya Nina dengan alis berkerut.


"Ah..anu..tidak," jawab Anin gugup. "Aku hanya tahu... bahwa anak itu pernah menyukai Prima"


Eko mengetuk pintu ruang BK sebelum ia membuka pintunya dan masuk bersama Sofi. Saat mereka masuk, semua mata tertuju pada Sofi yang tampak gelisah.


"Masuklah," perintah bu Shinta pada Sofi yang hanya diam berdiri didekat pintu,

__ADS_1


menatap takut pada orang-orang yang ada di ruang itu.


Sofi tampak mengangguk kecil menanggapi perintah bu Shinta. Dengan perlahan ia berjalan masuk menghampiri sofa yang kosong. Ia merasa gugup saat matanya bertatapan dengan Prima. Sedangkan Prima yang kini tahu bahwa Sofi adalah pelakunya, menatapnya dengan kesal.


"Kau tahu kenapa kau di panggil kesini?" tanya pak Anton begitu Sofi telah duduk.


Dengan wajah yang terlihat polos Sofi menggeleng.


"Tidak tahu, Pak..." katanya pelan sambil melirik ke arah Wida.


Wida yang beradu mata dengan Sofi tampak tenang. Namun dalam hatinya ia tidak menyangka, bahwa dibalik wajah mungil yang terlihat polos itu dapat melakukan perbuatan yang bisa mencelakakan dirinya.


Berbeda dengan Asti, yang tampak geram dengan sikap polos Sofi yang menurutnya palsu.


"Benar, kau tidak tahu?" gantian kini bu Shinta yang bertanya.


Sofi menoleh ke bu Shinta, dengan pandangan gugup ia menganggukkan kepalanya.


"Iya Bu... saya.. benar-benar tidak tahu.."


Bu Shinta mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan meletakkannya dimeja tepat di depan Sofi. Selembar kertas foto, dimana ada gambar Wida yang terlihat dengan jelas.


Seketika wajah Sofi berubah pucat saat melihatnya. Matanya mengejap-ngejap dengan gugup, sedangkan kedua tangannya mengepal erat.


"Kau tahu foto ini?" tanya bu Shinta lagi.


"Kau tahu foto ini, tidak?" bu Shinta kembali bertanya dengan nada yang agak tinggi.


Dan kali ini Sofi menggeleng cepat.


"Benar Bu.. saya tidak tahu.."


"Bukankah kamu, yang mengambil foto ini dan meletakkanya di mading dan di meja piket?" cecar bu Shinta.


"Bukan.. Bu.. sungguh! Bukan saya yang melakukannya. Saya tidak tahu apa-apa..." dengan gugup Sofi menyangkalnya.


Prima yang sudah tidak tahan lagi dengan kebohongan Sofi, mengambil ponsel bu Shinta yang ada di hadapannya dan meletakkannya di depan Sofi. Lalu diputarnya rekaman itu, yang membuat mata Sofi melebar karenanya.


"Kau tidak usah menyangkal lagi. Semua terlihat jelas disitu apa yang telah kau lakukan," kata Prima dengan nada kesal.


Sofi tertunduk lemas, ia tidak bisa menyangkal lagi. Ia tidak menyangka kalau ada rekaman dimana dirinya tengah meletakkan foto tersebut di meja piket. Dan wajahnya terlihat dengan jelas...


Pak Anton menghela napas.

__ADS_1


"Kenapa kau melakukannya?" dengan suara yang wibawa namun tegas, pak Anton bertanya pada Sofi.


"Apa kau tidak tahu kalau tindakkanmu itu bisa berakibat fatal bagi orang yang ada di foto itu?"


"Tapi foto itu memang benar adanya..." walau terdengar gugup Sofi berusaha membela diri. "Mereka memang tampak masuk kepenginapan itu..."


"Memangnya kenapa kalau kami masuk kepenginapan itu?" Prima mulai tampak emosi.


Pak Anton mengangkat tangannya untuk menenangkan Prima. Dengan matanya ia meyuruh Prima agar diam.


"Lalu, mengapa kau meletakkan foto itu di meja piket? Apa kau ingin semua guru mengetahuinya?" tanya pak Anton setelah Prima kembali diam.


"Iya.." jawab Sofi yang kini lebih berani karena merasa tindakkannya benar. Ditatapnya Wida yang sedari tadi hanya terdiam.


"Bukankah tidak pantas seorang pelajar masuk ke penginapan? Dengan seorang laki-laki pula.."


"Kau...!" seru Prima kembali yang sudah meledak emosinya, namun terpotong karena pak Anton kembali mengangkat tangannya.


"Apa ada untungnya kau melakukan itu?" kini bu Shinta yang buka suara. "Apa kau sudah bertanya mengapa mereka masuk ke dalam penginapan?"


Sofi melirik ke arah Wida.


"Saya hanya ingin guru-guru tahu, bahwa ada anak muridnya yang berkelakuan seperti itu..."


"Tanpa bertanya apa yang dilakukannya disana?"


"Yah pasti menginap.. mau apa lagi.." kata Sofi pelan seperti bergumam.


Mata Asti, Prima dan Eko memandang kesal ke arah Sofi, hanya Wida yang menatapnya murung. Ia merasa sedih dan menyesali mengapa waktu itu masuk ke dalam penginapan, jika tahu akan seperti ini jadinya.


"Berarti kau mengenali siapa yang ada di dalam foto itu?" tanya bu Shinta memancing Sofi.


Sofi mengangguk.


"Iya.. kak Wida. Wajahnya terlihat jelas disana."


"Dan laki-lakinya?"


Sofi melihat ke arah Prima sekilas. Di dalam hatinya ia masih menyukai Prima, dan ia tidak ingin menyakitinya. Lalu dengan tertunduk ia menjawab pelan, "saya... saya tidak tahu. Wajahnya tidak terlihat jelas."


"Cih!" Prima mendecih saat mendengar perkataan Sofi, yang menurutnya berbohong. Ia yakin Sofi pasti tahu bahwa laki-laki yang ada di foto itu adalah dirinya. Bukankah ia yang mengambil gambarnya? Dengan pandangan jijik ia melihat kearah Sofi.


"Masa kau tidak tahu?" tanya bu Shinta bingung. "Bukankah kau yang mengambil gambar itu? Setidaknya kau melihat dengan jelas waktu itu dengan siapa Wida masuk ke penginapan."

__ADS_1


Sofi mengangkat kepalanya yang tertunduk dan menoleh ke arah bu Shinta.


"Tapi.. bukan saya yang mengambil gambar itu..." kata Sofi sambil menatap bu Shinta, yang kali ini dengan tatapan yang terlihat jujur...


__ADS_2