
Melihat Keenan sama sekali tidak menolak murid baru yang dengan mudahnya duduk bersebelahan denganya, membuat murid-murid yang lain terutama murid perempuan berdecak kesal karena merasa iri dengan Laura.
Mereka masih tidak percaya, jelas-jelas sebelum-sebelumnya Keenan sangat tidak suka dan murka jika ada yang berani mengusik ketenanganya dengan duduk di bangku sebelahnya.
Begitu pula dengan 2 sobat karibnya itu, Sam dan Rino juga merasa ada yang korslet dengan otak Keenan, gak biasa-biasanya Keenan berbuat begitu.
Setelah Bu Nina menyelesaikan acara perkenalan murid barunya, dia pun bergegas meninggalkan kelas, karena Miss Fifin sudah siap untuk memulai pelajaran pertama hari ini yaitu mata pelajaran Bahasa Inggris.
Seperti biasa Miss Fifin pun masuk ke dalam ruangan kelas dan menyapa murid-murid dengan logat Inggrisnya sebagai pembuka, lalu memulai memberikan materi hari ini dengan memberikan beberapa latihan soal untuk di kerjakan oleh murid-muridnya.
Para murid pun bergegas mengeluarkan buku pelajaran dan alat tulis mereka masing-masing, begitupun dengan Laura dan Keenan.
Setelah meletakan buku dan alat tulisnya di meja, Laura memperhatikan Keenan yang sedang asik memandang keluar jendela, Keenan yang sudah mengeluarkan buku paket dan buku pelajaran Bahasa Inggris nya, alih-alih mengerjakan tugas nya malah melamun tanpa perduli dengan tugas yang di berikan oleh Miss Fifin.
Lauran pun terdiam sejenak, diliriknya lagi Keenan lalu mata Laura tertuju pada sampul coklat buku pelajaran yang ada di depan Keenan yang bertuliskan sebuah nama di atas sebuah sticker berwarna putih.
'Keenan Narendra Harmain'
"Oh, namanya 'Keenan', nama yang bagus." Ujar Laura dalam hati, terlihat senyuman tipis menghiasi bibir manisnya, lalu diliriknya lagi wajah Keenan yang masih tak bergeming.
Laura ingin mengerjakan Soal-soal latihan yang diperintahkan oleh Miss Fifin, tapi dia bingung mau mengerjakan apa karena dia anak baru jadi belum mempunyai buku paket seperti murid lainya.
Di liriknya lagi wajah Keenan entah untuk yang keberapa kalinya, lalu bergantian mengarahkan bola matanya pada buku paket Bahasa Inggris yang masih teronggok manis di depan Keenan.
__ADS_1
"Gimana sih nih anak, suruh ngerjain soal malah bengong ajah kayak gitu**." Umpat Laura dalam hati. Akhirnya dia pun mencoba memberanikan diri untuk meminjam buku paket itu, walaupun ada sedikit keraguan mengingat sikap Keenan yang terlihat kurang bersahabat.
Laura terlihat sedang menusuk-nusuk pelan lengan Keenan dengan ujung jari telunjuknya yang lentik dengan takut-takut.
Merasakan ada benda yang menyentuhnya Keenan pun menoleh.
"Kenapa?" Ucap Keenan datar, seraya menoleh ke arah Laura.
"Emmm... boleh pinjem buku paket Bahasa Inggrisnya, ngga?" mencoba mengembangkan senyumnya dan dengan ragu dia bertanya seraya menunjukan jari telunjuknya ke arah buku paket Bahasa Inggris yang berada tepat di depan Keenan.
Keenan pun tanpa sadar melihat senyuman itu lagi, bahkan kali ini dia melihatnya begitu jelas dan dekat. Untuk beberapa detik mata mereka saling bertemu pandang, melihat senyuman itu Keenan merasa jantungnya berdegup lebih kencang.
"Sial! kenapa setiap ngeliat dia senyum jantung gw jadi berdebar-debar." Gumam Keenan dalam hati.
Laura pun menerimanya dengan senang hati, lalu bergegas mengerjakan soal latihan tersebut. Laura sengaja meletakan buku paket yang sudah di bukanya itu ke tengah-tengah meja antara mereka berdua, agar Keenan pun bisa melihat dan mengerjakanya juga.
Laura sudah hampir selesai mengerjakan soal-soal latihan itu, tiba-tiba dia menghentikan aktifitas nya lalu menoleh ke arah Keenan yang masih tidak bergeming menatap jendala kaca di sampingnya.
"Kenapa Lo gak ngerjain soal latihanya?" Tanya Laura heran, masih belom mengerti dengan isi kepala anak laki-laki yang duduk di sampingnya itu. Mendengar ucapan Laura Keenan hanya melirikan matanya sekilas tanpa menoleh sedikitpun dan kembali menatap kaca jendela.
Sam dan Rino yang sedari tadi mendengarkan percakapan di belakang, mereka berdua pun mulai bereaksi tak tahan dengan sikap dingin Keenan terhadap Laura.
"Udah, Ra. Gak usah di perduliin bocah tengik di sebelah lo ini, gak usah di anggep... anggap ajah dia pajangan boneka di mall." Cerocos Sam mengejek, melirik sekilas ke Keenan dengan wajah di buat sinis, lalu beralih memandang Laura dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Bener, Ra. Cuekin ajah... diamah emang orangnya begitu. So cool, apalagi klo di depan cewe, ehem... ehem..." Timpal Rino sambil berdehem dan makin memprovokasi Keenan, dua sobat anehnya itu emang paling demen godain dan bikin kesel Keenan.
"Eh, bisa diem gak lo berdua. Jangan sampe nih buku terbang ke muka lo pada." Sungut Keenan mengambil buku di depanya, sudah siap-siap seperti orang yang ingin melempar buku ke arah dua teman biang keroknya itu.
Bukan tanpa alasan mereka selalu menjahili Keenan. Karena Keenan memiliki sifat yang terlalu introvert dan super pendiam, cara satu-satunya agar Keenan mau membuka mulutnya, ya... dengan menghujaninya dengan banyolan-banyolan aneh agar Keenan bisa lebih terlihat hidup gak kaya patung pajangan di mall.
Ya, walaupun kadang candaan mereka sangat keterlaluan dan melampaui batas tapi mereka bertiga seolah sudah terbiasa dan tidak pernah di ambil hati, malah dengan mengejek dan melontarkan makian satu sama lain membuat mereka semakin akrab dan kadang membuat mereka tertawa lepas tanpa beban.
"Udah-udah jangan berantem, gw udah selesai ngerjainya, nih bukunya gw balikin." Laura pun menggeser buku paket tadi ke arah Keenan.
"Makasih..." Timpal Laura lagi seraya memiringkan kepalanya ke arah Keenan dan memasang wajah imut dan menepuk bahu Keenan dengan menyunggingkan senyumnya hingga maksimal sampe terlihat jelas lesung pipitnya, menambah tingkat kecantikanya kian terpancar.
Keenan yang sedari tadi mendapat sentuhan-sentuhan secara intens dari Laura merasa ada getaran-getaran aneh semacam tersengat aliran listrik berdaya rendah dan entah kenapa hatinya menghangat, karena selama ini tidak ada satu wanita pun yang berani mendekatinya.
Sebenernya bukan tidak ada yang mau mendekati Keenan, justru banyak sekali murid-murid perempuan yang tergila-gila pada Keenan, mengaguminya bak selebritis Kpop, tapi Keenan memang selalu menunjukan sikap dingin dan kurang bersahabat kepada mereka.
Menurut Keenan perhatian para fans-fans nya itu terlalu berlebihan dan sama sekali tidaklah tulus. Dan menurutnya juga, mereka mendekati Keenan hanya karena status sosial Keenan sebagai anak konglomerat dan juga sekaligus anak pemilik sekolah tersebut.
"woi! buruan kerjain tugasnya, bentar lagi waktunya abis, Dul. Lo gak mau kan di suruh lari keliling lapangan lg karena gak ngerjain tugas." Ucap Sam dengan sungguh-sungguh mencoba menasehati Keenan yang kelewat santai itu.
"Cih, berisik banget lo nyet, lama-lama gw sumpel mulut lo pake nih buku." Keenan berdecak kesal sambil menarik bukunya dengan kasar. Keenan memang berencana hendak mengerjakan tugas Bahasa Inggrisnya setelah Laura selesai meminjam bukunya karena dia merasa canggung harus berbagi buku dengan orang yang belum dia kenal apalagi dia adalah seorang wanita.
Tepat sebelum pelajaran berakhir Keenan pun sudah menyelesaikan tugasnya dan menumpuknya di atas meja guru.
__ADS_1
Bersambung...